Siang itu, pelajaran Matematika di kelas 3 SD sedang berlangsung.
Bu Sari berdiri di depan kelas sambil memegang kapur. Di papan tulis sudah tertulis banyak angka besar yang membuat sebagian murid langsung merasa pusing sebelum sempat berpikir.
Ada angka puluhan juta.
Ada angka ratusan juta.
Ada tanda tambah, tanda kurang, dan beberapa garis panjang yang menurut Jono terlihat seperti jalan menuju masalah.
Bu Sari tersenyum kepada murid-muridnya.
“Anak-anak, hari ini kita belajar soal pengurangan dalam kehidupan sehari-hari.”
Murid-murid langsung mengangguk.
Sebagian mengangguk karena paham.
Sebagian lagi mengangguk karena takut ditanya.
Jono kecil duduk di bangku tengah. Wajahnya serius, tetapi pikirannya mulai melayang.
Ia membayangkan uang seratus juta ditumpuk di meja.
Lalu ia membayangkan ibunya melihat uang sebanyak itu.
Lalu ia membayangkan dirinya diminta membantu membawa uang itu.
Jono langsung merasa lelah sendiri.
Bu Sari melihat Jono yang sejak tadi menatap papan tulis dengan mata membesar.
“Jono,” panggil Bu Sari.
Jono langsung tersentak.
“Iya, Bu?”
Bu Sari tersenyum.
“Coba jawab soal ini.”
Jono duduk lebih tegak. Teman-temannya langsung menoleh. Kalau Jono yang ditanya, biasanya jawaban pelajaran bisa berubah menjadi tontonan.
Bu Sari mulai membacakan soal.
“Misalnya, ibumu memiliki pinjaman sebesar seratus juta rupiah.”
Satu kelas langsung bergumam.
“Wah…”
“Banyak sekali…”
Jono menelan ludah.
Dalam hatinya ia berkata, “Ibu pinjam uang sebanyak itu buat apa? Beli warung satu kampung?”
Bu Sari melanjutkan,
“Kemudian, kamu membantu ibumu dengan memberi lima puluh juta rupiah.”
Mata Jono semakin besar.
“Lima puluh juta, Bu?”
“Iya,” jawab Bu Sari. “Sekarang pertanyaannya, apa yang diperlukan ibumu untuk mengembalikan pinjaman itu?”
Jono terdiam.
Ia menatap papan tulis.
Ia menghitung dengan jari.
Seratus juta dikurangi lima puluh juta.
Jari tangannya tentu saja tidak cukup, jadi Jono berhenti menghitung dan mulai berpikir dengan wajah sangat serius.
Bu Sari menunggu.
“Bagaimana, Jono?”
Teman-temannya ikut menunggu.
Riko yang duduk di sebelahnya berbisik,
“Jawab lima puluh juta lagi, Jon.”
Jono mengangguk pelan.
Bu Sari tersenyum.
“Nah, Jono. Jadi apa yang diperlukan ibumu?”
Jono menarik napas panjang.
“Kalau untuk melunasi pinjaman…”
Bu Sari mengangguk senang.
“Iya?”
“Berarti Ibu perlu lima puluh juta lagi.”
Bu Sari tersenyum bangga.
“Bagus. Itu benar.”
Namun Jono belum selesai.
Ia mengangkat satu jari.
“Tapi, Bu…”
Bu Sari mulai curiga.
“Tapi apa?”
Jono menjawab dengan wajah sangat polos,
“Kalau untuk tetap hidup setelah tahu saya punya uang lima puluh juta dan memberikannya ke Ibu…”
Satu kelas langsung diam.
Bu Sari menatap Jono.
Jono melanjutkan,
“Ibu mungkin perlu CPR, Bu.”
Kelas langsung meledak tertawa.
Ada yang tertawa sambil menutup mulut.
Ada yang memukul meja pelan.
Riko sampai menunduk karena tidak kuat menahan tawa.
Bu Sari mencoba tetap serius, tetapi sudut bibirnya ikut naik.
“Jono, kenapa ibumu harus diberi CPR?”
Jono menjawab dengan yakin,
“Karena Ibu pasti pingsan, Bu.”
“Pingsan kenapa?”
Jono menatap Bu Sari dengan wajah seolah jawabannya sangat jelas.
“Karena anak SD tiba-tiba punya uang lima puluh juta.”
Satu kelas kembali tertawa lebih keras.
Bu Sari akhirnya ikut tertawa sambil menggeleng.
“Jono, Jono. Soal Matematika sederhana saja bisa kamu ubah jadi keadaan darurat.”
Jono tersenyum kecil.
“Maaf, Bu. Saya hanya menjawab sesuai kehidupan nyata.”
Bu Sari menutup buku tugasnya, lalu berkata,
“Baiklah, anak-anak. Jawaban Jono benar secara Matematika, tapi terlalu dramatis secara keluarga.”
Jono mengangkat tangan lagi.
“Ada tambahan, Bu.”
Bu Sari menatapnya hati-hati.
“Apa lagi?”
“Kalau Ayah tahu saya punya lima puluh juta, Ayah juga mungkin perlu kursi.”
“Untuk apa?”
“Supaya tidak ikut pingsan berdiri.”
Kelas kembali riuh oleh tawa.
Sejak hari itu, setiap kali Bu Sari membuat soal cerita, ia selalu berpikir dua kali sebelum memakai nama keluarga Jono.
Karena bagi murid lain, Matematika hanya soal angka.
Tapi bagi Jono, setiap angka besar selalu punya efek samping.







