Beberapa minggu terakhir, Reya mulai merasa ada yang aneh dengan tubuhnya.
Awalnya ia hanya merasa bajunya sedikit lebih sempit.
“Ah, mungkin bajunya menyusut,” pikir Reya santai.
Besoknya, celananya mulai sulit dikancingkan.
“Hmm, mungkin kancingnya yang bergeser,” katanya mencoba berpikir positif.
Namun, puncaknya terjadi ketika Reya menaiki timbangan di kamar mandi.
Ia berdiri pelan di atas timbangan, menatap angkanya, lalu langsung turun lagi.
“Sepertinya timbangannya rusak,” gumamnya.
Ia naik lagi.
Angkanya tetap sama.
Reya turun lagi.
Ia meniup layar timbangan, menggoyang-goyangkannya sedikit, lalu naik untuk ketiga kalinya.
Angkanya tetap tidak berubah.
Reya menghela napas panjang.
“Baiklah. Yang rusak bukan timbangannya. Mungkin harapanku.”
Akhirnya, setelah berpikir cukup lama sambil memegang perutnya, Reya memutuskan untuk berkonsultasi ke dokter spesialis.
Siang itu, ia datang ke klinik dengan wajah serius. Di ruang tunggu, ia melihat poster bertuliskan Hidup Sehat Dimulai dari Kebiasaan Baik.
Reya membacanya pelan-pelan.
“Kebiasaan baik…” gumamnya.
Lalu ia teringat kebiasaannya selama ini.
Sarapan gorengan.
Makan siang ayam geprek.
Sore jajan cilok.
Malam makan mi instan sambil menonton drama.
Reya langsung menunduk.
“Sepertinya aku dan kebiasaan baik belum terlalu dekat.”
Tak lama kemudian, namanya dipanggil.
“Saudari Reya, silakan masuk.”
Reya masuk ke ruang dokter. Di sana, seorang dokter duduk dengan tenang sambil membuka catatan pasien.
“Silakan duduk,” kata dokter ramah.
Reya duduk, lalu langsung menyampaikan keluhannya.
“Begini, Dok. Saya merasa tubuh saya makin hari makin bertambah gemuk.”
Dokter mengangguk.
“Baik. Menurut Anda, apa penyebabnya?”
Reya berpikir sebentar.
“Mungkin karena udara, Dok.”
Dokter mengangkat alis.
“Udara?”
“Iya, Dok. Soalnya saya merasa tiap hari makin mengembang.”
Dokter tersenyum tipis.
“Baik. Kita mulai dari kebiasaan sehari-hari ya. Apakah Anda suka olahraga?”
Reya langsung menggeleng.
“Tidak, Dok.”
“Jalan pagi?”
Reya menggeleng lagi.
“Tidak.”
“Senam ringan?”
Reya kembali menggeleng.
“Tidak juga.”
Dokter mencatat sesuatu.
“Baik. Kalau pola makan, apakah sudah seimbang? Ada sayur, buah, serat, protein, dan nutrisi lainnya?”
Reya menggeleng lagi.
“Belum, Dok.”
“Sering makan makanan cepat saji?”
Reya menunduk.
“Kadang-kadang, Dok.”
Dokter menatapnya.
“Kadang-kadang itu berapa kali?”
Reya menjawab pelan,
“Kadang pagi, kadang siang, kadang malam.”
Dokter terdiam sebentar.
“Berarti cukup sering.”
Reya tersenyum malu.
“Kalau dihitung pakai kejujuran, iya, Dok.”
Dokter melanjutkan pertanyaan.
“Sering jajan?”
Reya menggeleng pelan, lalu berhenti.
Ia berpikir sejenak.
“Kalau jajan karena ditawari teman, itu termasuk sering atau silaturahmi, Dok?”
Dokter menahan tawa.
“Itu tetap jajan.”
Reya menghela napas.
“Berarti sering, Dok.”
Dokter menutup catatannya, lalu memperhatikan Reya dengan wajah tenang.
“Sebenarnya, kebiasaan Anda sudah ada yang bagus.”
Mata Reya langsung berbinar.
“Serius, Dok? Kebiasaan saya yang mana?”
Dokter tersenyum.
“Anda tadi sering sekali menggeleng kepala.”
Reya tampak bingung.
“Menggeleng kepala?”
“Iya,” jawab dokter. “Setiap saya tanya olahraga, Anda menggeleng. Saya tanya makan sehat, Anda menggeleng. Saya tanya pola hidup sehat, Anda juga menggeleng.”
Reya mengangguk pelan.
“Terus, itu bisa membantu menurunkan berat badan, Dok?”
“Bisa,” jawab dokter dengan tenang.
Reya langsung duduk lebih tegak.
“Wah, luar biasa! Jadi saya cukup menggeleng-geleng saja?”
Dokter mengangguk.
“Betul.”
Reya semakin semangat.
“Kapan saya harus melakukannya, Dok? Pagi, siang, sore, atau malam?”
Dokter tersenyum.
“Tidak perlu dijadwalkan seperti minum obat.”
Reya semakin penasaran.
“Terus kapan, Dok?”
Dokter menjawab dengan santai,
“Setiap kali ada yang menawarkan makanan cepat saji, gorengan, minuman manis, atau jajanan berlebihan, Anda cukup menggeleng dan bilang, ‘Tidak dulu.’”
Reya terdiam.
Wajah semangatnya perlahan berubah menjadi wajah kecewa.
“Oh… jadi bukan menggeleng di depan cermin?”
“Bukan.”
“Bukan menggeleng sambil duduk di sofa?”
“Bukan.”
“Bukan menggeleng sambil menonton drama?”
Dokter menggeleng.
“Bukan juga.”
Reya menarik napas panjang.
“Berarti ini dietnya bukan latihan leher, Dok?”
Dokter tertawa kecil.
“Bukan. Ini namanya belajar menolak godaan.”
Reya menatap dokter dengan wajah pasrah.
“Wah, Dok. Kalau begitu ini bukan diet biasa.”
Dokter bertanya,
“Kenapa?”
Reya menjawab pelan,
“Karena musuh terberat saya bukan berat badan.”
Dokter tersenyum.
“Lalu apa?”
Reya menunduk sambil membayangkan ayam geprek, bakso, martabak, dan es cokelat.
“Teman yang bilang, ‘Ayo makan, aku traktir.’”
Dokter tertawa.
“Kalau begitu, mulai sekarang biasakan diet geleng kepala.”
Reya berdiri sambil mengangguk mantap.
“Baik, Dok. Mulai hari ini saya akan rajin menggeleng.”
Dokter mengingatkan,
“Menggeleng saat ditawari makanan tidak sehat, ya.”
Reya berhenti di depan pintu.
“Kalau ditawari salad gratis, Dok?”
Dokter tersenyum.
“Itu boleh mengangguk.”
Reya langsung lega.
“Syukurlah. Berarti diet ini masih punya harapan.”
Sejak hari itu, Reya mulai menjalankan diet barunya.
Setiap kali ada yang menawarkan gorengan, ia menggeleng.
Setiap kali ada yang mengajak makan mi instan tengah malam, ia menggeleng.
Setiap kali melihat promo burger besar, ia hampir mengangguk, tetapi cepat-cepat menggeleng.
Dan perlahan, Reya menyadari satu hal.
Ternyata menurunkan berat badan bukan hanya soal mengurangi makanan.
Tapi juga soal melatih kepala agar lebih kuat daripada perut.







