Pagi itu, suasana kelas 4 SD terlihat cukup tenang.
Bu Rini berdiri di depan kelas sambil membawa setumpuk buku pekerjaan rumah. Wajahnya tidak marah, tetapi juga tidak terlalu ceria.
Bagi murid-murid, ekspresi seperti itu justru lebih menegangkan daripada suara petir.
Satu per satu buku PR dibagikan.
Ada murid yang langsung membuka bukunya dengan berani.
Ada yang membuka pelan-pelan seperti sedang membuka surat rahasia.
Ada juga yang langsung menutup kembali bukunya setelah melihat coretan merah pertama.
Di bangku belakang, Bimo duduk dengan wajah pasrah.
Buku PR miliknya sudah kembali ke meja. Di halaman depannya, tanda silang merah terlihat cukup banyak. Kalau diperhatikan baik-baik, bukunya lebih mirip peta perjalanan menuju kegagalan.
Bu Rini berdiri di depan kelas dan menatap seluruh murid.
“Anak-anak,” katanya, “Ibu lihat masih banyak yang kesulitan mengerjakan PR kemarin.”
Kelas langsung hening.
Biasanya kalau guru sudah berkata “Ibu lihat”, itu artinya guru benar-benar sudah melihat semuanya.
Termasuk jawaban kosong.
Termasuk tulisan asal-asalan.
Termasuk murid yang menulis “saya tidak tahu” dengan sangat rapi.
Bu Rini menghela napas pelan.
“Ibu tidak marah. Tapi Ibu ingin kalian belajar lebih sungguh-sungguh.”
Murid-murid mengangguk.
Sebagian mengangguk karena merasa bersalah.
Sebagian lagi mengangguk karena itulah gerakan paling aman saat guru sedang memberi nasihat.
Bu Rini melanjutkan,
“Sekarang zaman sudah maju. Kalau kalian punya masalah dengan pertanyaan pekerjaan rumah, kalian bisa mencari bantuan di internet.”
Mata beberapa murid langsung berbinar.
Ada yang berbisik pelan,
“Berarti boleh tanya Google.”
Temannya menjawab,
“Asal jangan Google yang sekolah, kita yang tidur.”
Bu Rini cepat-cepat mengangkat tangan.
“Tapi ingat. Internet dipakai untuk membantu belajar, bukan untuk menyalin jawaban tanpa memahami.”
Beberapa murid yang tadi semangat langsung terlihat agak kecewa.
Bu Rini tersenyum tipis.
“Jadi, kalau ada pertanyaan yang sulit, kalian boleh mencari penjelasan. Baca caranya. Pahami langkahnya. Jangan hanya cari jawaban akhirnya.”
Semua murid mengangguk.
Di bangku belakang, Bimo juga ikut mengangguk. Namun wajahnya tampak memikirkan sesuatu yang sangat dalam.
Bu Rini melihatnya.
“Bimo.”
Bimo langsung tersentak.
“Iya, Bu?”
“Kamu paham?”
Bimo berdiri pelan.
“Paham sebagian, Bu.”
Bu Rini mengernyit.
“Sebagian yang mana?”
Bimo menatap buku PR-nya, lalu berkata dengan jujur,
“Saya paham bahwa internet bisa membantu. Tapi saya merasa masalah saya bukan di pertanyaan, Bu.”
Teman-temannya mulai menoleh.
Kalau Bimo sudah bicara dengan nada serius, biasanya sebentar lagi kelas akan tertawa.
Bu Rini bertanya,
“Maksudmu bagaimana? Bukankah kamu kesulitan mengerjakan pertanyaan PR?”
Bimo menggeleng.
“Tidak, Bu. Pertanyaannya tidak bermasalah.”
Bu Rini mulai penasaran.
“Tidak bermasalah?”
“Iya, Bu. Pertanyaannya jelas. Tulisannya rapi. Nomornya urut. Bahkan tanda tanyanya juga lengkap.”
Beberapa murid mulai cekikikan.
Bu Rini menahan senyum.
“Kalau begitu, masalahmu di mana?”
Bimo menarik napas panjang seperti orang yang akan menyampaikan pengakuan besar.
“Masalah saya ada di jawabannya, Bu.”
Kelas langsung tertawa.
Bu Rini menutup mulutnya sebentar agar tidak ikut tertawa terlalu keras.
Bimo melanjutkan dengan wajah polos,
“Pertanyaannya baik-baik saja, Bu. Dia diam di buku. Tidak mengganggu saya sama sekali.”
Bu Rini mengangkat alis.
“Lalu jawabannya?”
“Nah, itu dia, Bu,” kata Bimo sambil menunjuk bukunya. “Jawabannya yang suka menghilang. Dicari di kepala tidak ada. Dicari di buku paket tidak ketemu. Dicari di ingatan malah munculnya lagu iklan.”
Teman-temannya tertawa lagi.
Raka, teman sebangkunya, berbisik,
“Makanya jangan belajar sambil nonton TV.”
Bimo menjawab pelan,
“Aku tidak nonton TV. Lagunya memang masuk sendiri.”
Bu Rini menggeleng sambil tersenyum.
“Bimo, mencari jawaban itu bagian dari belajar.”
Bimo mengangguk.
“Saya tahu, Bu. Tapi kadang saya merasa jawaban itu seperti main petak umpet.”
“Petak umpet?”
“Iya, Bu. Pertanyaannya sudah muncul. Tapi jawabannya sembunyi di tempat yang tidak masuk akal.”
Bu Rini berjalan mendekati meja Bimo.
“Kalau jawabannya sembunyi, berarti kamu harus mencarinya dengan cara yang benar.”
Bimo langsung terlihat serius.
“Caranya bagaimana, Bu?”
“Pertama, baca soalnya baik-baik.”
“Sudah, Bu.”
“Kedua, cari informasi di buku.”
“Sudah juga, Bu.”
“Ketiga, kalau masih bingung, cari penjelasan di internet.”
Bimo mengangguk.
“Kalau di internet jawabannya beda-beda, Bu?”
“Pilih sumber yang benar dan pahami langkahnya.”
Bimo berpikir sebentar.
“Kalau sudah dipahami tapi tetap salah?”
“Berarti belajar lagi.”
Bimo menghela napas.
“Kalau belajar lagi tapi kepala saya panas?”
Bu Rini tersenyum.
“Istirahat sebentar, lalu coba lagi.”
Bimo mengangguk pelan.
“Kalau setelah istirahat saya malah lapar?”
Satu kelas kembali tertawa.
Bu Rini menatap Bimo dengan sabar.
“Kalau lapar, makan dulu. Tapi setelah itu tetap belajar.”
Bimo duduk sambil berkata pelan,
“Baik, Bu. Jadi kesimpulannya, jawaban itu harus dicari, bukan ditunggu datang sendiri.”
“Betul sekali,” jawab Bu Rini.
Bimo menatap bukunya lagi.
“Pantas saja selama ini tidak ketemu, Bu.”
“Kenapa?”
Bimo menjawab polos,
“Karena saya cuma menunggu jawabannya kasihan sama saya.”
Kelas kembali riuh oleh tawa.
Bu Rini akhirnya ikut tertawa kecil.
“Bimo, mulai hari ini kamu harus lebih rajin berusaha.”
Bimo mengangguk mantap.
“Siap, Bu. Mulai sekarang kalau ada PR, saya akan mencari jawabannya dengan sungguh-sungguh.”
Bu Rini tersenyum puas.
“Bagus.”
Namun beberapa detik kemudian, Bimo mengangkat tangan lagi.
Bu Rini mulai curiga.
“Apa lagi, Bimo?”
Bimo bertanya dengan wajah serius,
“Bu, kalau jawabannya tetap tidak mau ditemukan, apakah boleh saya laporkan sebagai orang hilang?”
Satu kelas langsung meledak tertawa.
Bu Rini hanya bisa menepuk jidat sambil tersenyum.
Sejak hari itu, Bu Rini selalu mengingatkan murid-muridnya bahwa internet boleh digunakan untuk membantu belajar.
Tapi bagi Bimo, pelajaran hari itu punya kesimpulan yang berbeda.
PR bukan menakutkan karena pertanyaannya.
Yang menakutkan adalah jawabannya.
Sebab pertanyaan selalu muncul di buku.
Sementara jawaban kadang bersembunyi entah di mana, menunggu ditemukan oleh murid yang cukup sabar, cukup rajin, dan cukup kuat menahan lapar.







