Malam itu, suasana minimarket di pinggir jalan terlihat sepi.
Lampu-lampu putih menyala terang, rak-rak makanan ringan tertata rapi, dan suara pendingin minuman terdengar pelan dari pojok ruangan.
Di balik meja kasir, Rian sedang menghitung uang kembalian sambil sesekali melirik jam dinding.
“Sepuluh menit lagi tutup,” gumamnya lega.
Ia sudah membayangkan pulang ke rumah, mandi, makan mi hangat, lalu tidur tanpa diganggu siapa pun.
Namun, harapan itu tiba-tiba buyar ketika pintu minimarket terbuka.
Ting!
Seorang pria masuk dengan langkah terburu-buru. Wajahnya ditutup masker hitam, jaketnya gelap, dan tangannya menggenggam sesuatu yang membuat Rian langsung menelan ludah.
Pria itu mendekati meja kasir.
“Jangan macam-macam!” katanya dengan suara berat. “Masukkan semua uang di mesin kasir ke dalam tas ini!”
Rian terkejut, tetapi berusaha tetap tenang. Tangannya perlahan membuka laci kasir.
“Baik, Pak. Tenang, Pak. Saya masukkan.”
Pria itu melemparkan tas kecil ke atas meja.
“Cepat!”
Dengan tangan gemetar, Rian memasukkan uang dari laci kasir ke dalam tas tersebut. Suasana minimarket menjadi tegang. Bahkan suara kulkas minuman yang biasanya biasa saja, malam itu terasa seperti musik latar film kriminal.
Setelah semua uang masuk ke dalam tas, pria itu tampak puas.
Namun saat hendak pergi, matanya tiba-tiba tertuju ke rak kecil di belakang meja kasir.
Di sana ada sebotol minuman keras.
Pria itu menunjuk botol tersebut.
“Sekalian ambilkan itu!”
Rian menoleh ke arah botol, lalu kembali menatap pria itu.
“Maaf, Pak. Tidak bisa.”
Pria itu langsung melotot.
“Apa maksudmu tidak bisa?”
Rian menjawab pelan, tetapi tegas.
“Saya harus memastikan umur Bapak dulu.”
Pria itu terdiam.
“Umur?”
“Iya, Pak. Aturannya begitu. Pembeli harus berusia lebih dari dua puluh satu tahun.”
Pria itu hampir tidak percaya dengan apa yang ia dengar.
“Saya sedang merampok!”
Rian mengangguk cepat.
“Iya, Pak. Tapi untuk minuman itu, tetap harus sesuai aturan.”
Pria itu menunjuk tas berisi uang.
“Kamu baru saja memberikan uang kasir kepadaku!”
“Iya, Pak,” jawab Rian. “Tapi kalau minuman keras, saya harus cek identitas.”
Pria itu menarik napas panjang. Sepertinya ia baru pertama kali bertemu kasir yang tetap mematuhi aturan toko di tengah perampokan.
“Serius kamu minta KTP saya?”
Rian mengangguk.
“Kalau tidak ada identitas, saya tidak bisa menyerahkan botol itu, Pak.”
Pria itu kesal bukan main. Ia mondar-mandir sebentar di depan kasir, lalu dengan gerakan cepat merogoh dompetnya.
“Nih! Lihat sendiri!”
Ia meletakkan kartu identitasnya di meja.
Rian mengambil kartu itu dengan hati-hati.
Ia membaca nama.
Membaca tanggal lahir.
Lalu tanpa sadar membaca alamat lengkapnya juga.
Setelah beberapa detik, Rian mengangguk sopan.
“Baik, Pak. Umur Bapak sudah memenuhi syarat.”
“Jadi boleh?”
“Boleh, Pak.”
Rian mengambil botol minuman keras itu dan menyerahkannya kepada pria tersebut.
Pria itu mengambil botolnya dengan wajah puas, memasukkan ke dalam tas bersama uang hasil rampokan, lalu berjalan keluar minimarket dengan santai.
Sebelum pergi, ia bahkan sempat berkata,
“Nah, begitu dong. Ikuti aturan.”
Rian hanya tersenyum kecil.
Pintu minimarket kembali berbunyi.
Ting!
Pria itu menghilang di balik gelapnya malam.
Beberapa detik kemudian, Rian langsung mengambil telepon dan menghubungi polisi.
Dengan suara masih gemetar, ia melaporkan kejadian itu.
“Pak, minimarket saya baru saja dirampok.”
Petugas bertanya dari seberang telepon,
“Apakah Anda mengenali pelakunya?”
Rian melihat catatan kecil di tangannya.
“Tidak terlalu, Pak. Tapi saya tahu nama lengkapnya, tanggal lahirnya, dan alamat rumahnya.”
Petugas terdiam sebentar.
“Bagaimana Anda bisa tahu?”
Rian menjawab datar,
“Tadi dia menunjukkan KTP untuk membeli minuman keras.”
Dua jam kemudian, polisi berhasil menangkap pria itu di rumahnya.
Saat ditangkap, pria tersebut masih bingung.
“Bagaimana kalian bisa menemukan saya?”
Salah satu polisi menjawab,
“Kami dapat alamat dari kasir.”
Pria itu langsung terdiam.
Barulah ia sadar, dalam sejarah perampokan minimarket, mungkin hanya dirinya satu-satunya orang yang berhasil mengambil uang, tetapi juga menyerahkan data pribadi secara sukarela.
Sejak kejadian itu, Rian dikenal sebagai kasir paling taat aturan di daerah tersebut.
Karena baginya, dalam keadaan apa pun, aturan tetap aturan.
Bahkan kalau yang meminta adalah perampok.
Dan bagi sang perampok, malam itu menjadi pelajaran penting:
Kalau sedang melakukan kejahatan, jangan terlalu rajin menunjukkan KTP.







