Bapak Lupa Rumah

Junaedi

12/06/2026

5
Min Read
Bapak Lupa Rumah

On This Post

Selama beberapa tahun terakhir, Pak Iwan dikenal sebagai pria yang sangat mudah dikenali.

Bukan karena bajunya selalu rapi.

Bukan karena suaranya paling keras di pos ronda.

Bukan juga karena sering traktir kopi tetangga.

Tapi karena wajahnya penuh dengan janggut, kumis, dan cambang yang sangat lebat.

Brewok Pak Iwan itu sudah seperti identitas resmi.

Kalau orang kampung menyebut Pak Iwan, biasanya yang terbayang pertama bukan wajahnya, tapi brewoknya.

Anak-anak kecil bahkan punya julukan khusus untuknya.

“Om Singa.”

Pak Iwan sebenarnya tidak marah. Ia malah bangga.

Setiap pagi, ia berdiri di depan cermin sambil mengelus janggutnya.

“Ini bukan sekadar brewok,” katanya kepada istrinya. “Ini wibawa.”

Istrinya hanya geleng-geleng kepala.

“Wibawa kok sering nyangkut remah gorengan.”

Pak Iwan pura-pura tidak dengar.

Namun suatu hari, entah angin dari mana, Pak Iwan tiba-tiba merasa ingin berubah.

Ia berdiri lama di depan cermin, menatap wajahnya sendiri.

“Sepertinya sudah waktunya tampil lebih muda,” gumamnya.

Istrinya yang sedang melipat pakaian langsung menoleh.

“Maksudnya?”

“Aku mau cukur habis.”

Istrinya terdiam.

“Cukur habis apa?”

“Janggut, kumis, cambang. Semua.”

Istrinya menatapnya seperti baru mendengar pengumuman penting dari kelurahan.

“Serius?”

Pak Iwan mengangguk mantap.

“Serius. Aku mau wajah baru.”

Istrinya tersenyum kecil.

“Baguslah. Siapa tahu nanti aku ingat lagi wajah asli suamiku.”

Pak Iwan mengernyit.

“Lho, memang selama ini lupa?”

“Sedikit.”

Pak Iwan tidak menjawab. Ia langsung pergi ke tukang pangkas langganannya.

Di tempat pangkas, tukang cukur sampai kaget melihat Pak Iwan datang dengan niat besar.

“Mau dirapikan sedikit, Pak?”

Pak Iwan duduk di kursi dengan gagah.

“Bukan dirapikan. Habiskan.”

Tukang cukur membeku.

“Habiskan semuanya?”

“Iya. Janggut, kumis, cambang. Bersihkan sampai wajah saya terlihat seperti manusia baru.”

Tukang cukur menarik napas panjang.

“Baik, Pak. Tapi ini butuh perjuangan.”

“Kenapa?”

“Karena yang saya hadapi bukan brewok biasa, Pak. Ini seperti hutan lindung.”

Pak Iwan tertawa bangga.

Proses mencukur pun dimulai.

Gunting bekerja.

Pisau cukur bergerak.

Rambut demi rambut jatuh ke lantai.

Setiap bagian yang dicukur membuat wajah Pak Iwan semakin berubah.

Setelah cukup lama, tukang cukur memutar kursi dan menunjukkan hasilnya di cermin.

Pak Iwan terdiam.

Ia hampir tidak mengenali dirinya sendiri.

Wajahnya terlihat bersih.

Dagunya terlihat jelas.

Pipinya muncul kembali setelah bertahun-tahun bersembunyi.

Pak Iwan menyentuh wajahnya pelan.

“Ini saya?”

Tukang cukur mengangguk.

“Iya, Pak. Versi tanpa semak-semak.”

Pak Iwan tersenyum puas.

“Wah, saya kelihatan lebih muda, ya?”

Tukang cukur mengangguk sopan.

“Lumayan, Pak. Minimal sekarang kalau makan bubur, buburnya tidak ikut tinggal di kumis.”

Pak Iwan pulang dengan hati senang.

Di sepanjang jalan, beberapa tetangga melihatnya dengan wajah bingung.

Ada yang menatap lama.

Ada yang hampir menyapa, tapi ragu.

Ada juga yang bertanya pelan kepada temannya,

“Itu siapa? Kok jalannya mirip Pak Iwan?”

Pak Iwan semakin bangga.

“Berarti benar-benar berubah,” pikirnya.

Sesampainya di depan rumah, ia melihat putranya sedang bermain mobil-mobilan di halaman.

Anaknya masih kecil dan selama ini sangat hafal wajah Pak Iwan yang penuh brewok.

Pak Iwan tiba-tiba mendapat ide jahil.

Ia ingin tahu apakah anaknya masih mengenalinya setelah wajahnya klimis.

Maka, ia mendekat pelan-pelan.

“Nak…”

Anaknya menoleh.

Ia menatap Pak Iwan.

Lama.

Matanya menyipit.

Wajahnya mulai bingung.

Pak Iwan menahan tawa.

Dengan suara dibuat sopan seperti orang asing, ia bertanya,

“Dek, tahu rumah Pak Iwan di mana?”

Anaknya langsung diam.

Ia memperhatikan wajah Pak Iwan dari atas sampai bawah.

Bajunya seperti Bapak.

Suaranya seperti Bapak.

Sandalnya juga seperti sandal Bapak.

Tapi wajahnya…

Wajahnya tidak ada brewoknya.

Anak itu mulai panik.

Ia mundur satu langkah.

Pak Iwan hampir tertawa, tapi tetap menahan diri.

“Dek, rumah Pak Iwan sebelah mana, ya?”

Anak itu makin ketakutan.

Tiba-tiba, ia berbalik dan berlari masuk ke rumah secepat mungkin.

“Buuuu!”

Istrinya yang sedang di dapur terkejut.

“Kenapa teriak-teriak?”

Anaknya masuk dengan wajah pucat.

“Bu! Gawat, Bu!”

“Ada apa?”

Anaknya menunjuk ke arah depan rumah sambil gemetar.

“Bapak pulang!”

Istrinya mengerutkan dahi.

“Lho, kalau Bapak pulang kok kamu takut?”

Anaknya hampir menangis.

“Bapak sudah mencukur brewoknya!”

Istrinya mulai tersenyum.

“Terus?”

Anaknya menjawab dengan sangat serius,

“Sekarang Bapak jadi lupa di mana rumah kita!”

Istrinya langsung berhenti bergerak.

Beberapa detik kemudian, ia tertawa terbahak-bahak.

Pak Iwan yang berdiri di depan pintu ikut mendengar semuanya.

Ia masuk sambil tersenyum malu.

“Nak, ini Bapak.”

Anaknya bersembunyi di belakang ibunya.

“Beneran Bapak?”

“Beneran.”

“Kalau Bapak, kenapa tadi tanya rumah Pak Iwan di mana?”

Pak Iwan menggaruk kepala.

“Bapak cuma bercanda.”

Anaknya menatap curiga.

“Jangan-jangan Bapak lupa gara-gara brewoknya hilang.”

Istrinya tertawa lagi.

Pak Iwan mencoba menjelaskan.

“Bukan begitu. Bapak cuma ingin tahu, kamu masih kenal Bapak atau tidak.”

Anaknya pelan-pelan keluar dari belakang ibunya.

Ia mendekat, lalu memperhatikan wajah Pak Iwan baik-baik.

Kemudian ia menyentuh dagu Pak Iwan yang kini licin.

“Wah…”

Pak Iwan tersenyum.

“Gimana? Bapak jadi lebih ganteng, kan?”

Anaknya berpikir sebentar.

Lalu menjawab polos,

“Bapak jadi lebih mirip tetangga.”

Istrinya tertawa makin keras.

Pak Iwan langsung lemas.

“Lho, tetangga yang mana?”

Anaknya menunjuk keluar.

“Yang suka beli cilok itu.”

Pak Iwan memegang dada.

“Bapak cukur brewok bukan supaya mirip pembeli cilok.”

Istrinya menepuk bahu Pak Iwan.

“Sudahlah, Pak. Yang penting sekarang wajahmu kelihatan.”

Pak Iwan menghela napas.

Namun anaknya masih belum selesai.

Ia menatap ayahnya dengan wajah serius.

“Pak…”

“Iya?”

“Brewok Bapak nanti tumbuh lagi, kan?”

Pak Iwan tersenyum.

“Tentu tumbuh lagi.”

Anaknya tampak lega.

“Syukurlah.”

“Kenapa?”

Anaknya menjawab polos,

“Soalnya kalau ada brewoknya, Bapak gampang dikenali. Kalau nggak ada, aku takut Bapak nyasar lagi.”

Pak Iwan hanya bisa menggeleng sambil tersenyum.

Sejak hari itu, setiap kali Pak Iwan lewat tanpa brewok, anaknya selalu memastikan satu hal.

“Pak, ingat rumah kita, kan?”

Dan Pak Iwan selalu menjawab sambil menunjuk wajahnya,

“Ingat, Nak. Yang hilang cuma brewok, bukan ingatan.”