Pagi itu, lapangan sekolah terlihat sangat ramai.
Murid-murid berkumpul di pinggir lapangan untuk menyaksikan lomba lari antar kelas.
Ada yang membawa botol minum, ada yang berteriak memberi semangat, dan ada juga yang hanya datang karena ingin melihat temannya jatuh dengan gaya lucu.
Di garis start, sudah berdiri empat anak yang siap berlomba.
Mereka adalah Budi, Deni, Raka, dan Indro.
Budi mendapat nomor satu.
Deni mendapat nomor dua.
Raka mendapat nomor tiga.
Sementara Indro mendapat nomor empat.
Keempatnya berdiri berjejer dengan wajah serius. Budi menunduk seperti atlet profesional. Deni menggoyangkan kaki agar tidak tegang. Raka menarik napas panjang.
Sedangkan Indro tampak tenang sekali, seolah sedang menunggu pesanan bakso.
Pak Jamil, sang pelatih olahraga, berdiri di samping garis start sambil memegang peluit.
“Anak-anak, siap!” teriak Pak Jamil.
Budi langsung memasang posisi lari.
Deni ikut menunduk.
Raka juga bersiap.
Indro ikut membungkuk sedikit, tetapi matanya masih melirik kanan kiri.
Penonton mulai bersorak.
“Ayo, Budi!”
“Semangat, Deni!”
“Raka jangan kalah!”
Indro menoleh sebentar ke arah teman-temannya.
“Yang dukung aku mana?” gumamnya pelan.
Tiba-tiba dari belakang terdengar suara temannya.
“Indro, jangan banyak mikir! Lari saja!”
Indro mengangguk serius.
Pak Jamil mengangkat tangannya tinggi-tinggi.
“Siap semuanya?”
Keempat anak itu menjawab hampir bersamaan.
“Siap, Pak!”
Pak Jamil mulai menghitung dengan suara lantang.
“Satu…”
Budi semakin menunduk.
“Dua…”
Deni menggenggam tangan.
“Tiga…”
Raka sudah siap melesat.
“Lari!”
Priiit!
Peluit berbunyi keras.
Budi langsung melesat.
Deni menyusul cepat.
Raka berlari sekencang-kencangnya.
Penonton bersorak ramai.
Namun, ada satu hal aneh.
Indro masih berdiri di garis start.
Ia tidak bergerak sedikit pun.
Bahkan posisinya masih sama seperti tadi. Kakinya tetap di tempat, tangannya di samping badan, dan wajahnya terlihat santai.
Pak Jamil yang melihat itu langsung kaget.
“Indro!” teriaknya.
Indro menoleh.
“Iya, Pak?”
“Kenapa kamu tidak lari?”
Indro menunjuk dadanya sendiri.
“Saya, Pak?”
“Iya, kamu! Ini lomba lari. Kenapa kamu diam saja?”
Indro terlihat bingung.
“Lho, saya belum disuruh lari, Pak.”
Pak Jamil memegang pinggang sambil menarik napas panjang.
“Belum disuruh bagaimana? Bapak tadi sudah teriak lari!”
Indro menggeleng polos.
“Tadi Bapak bilang satu, dua, tiga, lari.”
Pak Jamil mengangguk.
“Iya, betul.”
Indro menunjuk ke arah punggung teman-temannya yang sudah jauh berlari.
“Nah, itu kan berarti yang disuruh lari nomor satu, dua, dan tiga saja, Pak.”
Pak Jamil terdiam.
Indro melanjutkan dengan sangat yakin.
“Saya nomor empat. Jadi saya pikir saya harus tunggu Bapak bilang empat dulu.”
Lapangan mendadak hening beberapa detik.
Lalu suara tawa pecah dari pinggir lapangan.
Murid-murid tertawa terbahak-bahak.
Pak Jamil menepuk dahinya.
“Indro… itu hitungan aba-aba, bukan panggilan nomor peserta!”
Indro tersenyum malu.
“Oh begitu, Pak?”
“Iya!”
Indro menatap lintasan lari yang sudah hampir selesai.
“Kalau begitu, saya masih boleh mulai sekarang, Pak?”
Pak Jamil menghela napas.
“Boleh. Tapi teman-temanmu sudah hampir sampai garis finis.”
Indro mengangguk mantap.
“Tidak apa-apa, Pak. Yang penting saya tidak melanggar aturan.”
Lalu Indro mulai berlari pelan dari garis start.
Sementara itu, ketiga temannya sudah sampai di garis finis.
Penonton kembali tertawa melihat Indro berlari sendirian dengan wajah serius, seolah-olah lomba baru saja dimulai.
Sejak hari itu, setiap kali Pak Jamil memberi aba-aba lomba lari, ia tidak pernah lagi berkata, “Satu, dua, tiga, lari!”
Sekarang ia selalu berteriak,
“Semua peserta, termasuk nomor empat, langsung lari!”







