Hari itu adalah hari pertama Rafi masuk Sekolah Dasar.
Sejak pagi, suasana rumah sudah sibuk seperti mau ada acara besar. Ibu menyiapkan sarapan, Ayah membantu memasang tali sepatu, sementara Rafi berdiri di depan cermin dengan seragam baru yang masih kaku.
Tas di punggungnya tampak sangat besar. Bahkan kalau dilihat dari belakang, Rafi lebih mirip tas sekolah yang punya kaki kecil.
Ibu tersenyum sambil merapikan kerah bajunya.
“Belajar yang rajin ya, Nak. Dengarkan Bu Guru baik-baik.”
Ayah ikut memberi nasihat sambil mengangkat jempol.
“Jangan malu bertanya. Tapi jangan juga terlalu banyak bertanya sampai Bu Guru ikut pusing.”
Rafi mengangguk mantap.
“Siap, Yah! Siap, Bu!”
Wajahnya penuh semangat. Dalam hatinya, Rafi merasa hari itu ia akan menjadi murid paling hebat di kelas.
Sore harinya, Rafi pulang dengan langkah cepat. Sepatunya sudah tidak terlalu mengilap karena terkena debu halaman sekolah. Rambutnya agak berantakan, tapi wajahnya terlihat sangat bangga.
Begitu masuk rumah, ia langsung berseru,
“Bu! Ayah! Rafi pulang!”
Ibu yang sedang di dapur segera keluar.
“Wah, anak Ibu sudah pulang. Gimana hari pertama sekolahnya?”
Ayah yang sedang membaca koran juga langsung menurunkan korannya.
“Nah, ini yang Ayah tunggu. Cerita, Nak. Hari ini belajar apa?”
Rafi menaruh tasnya di kursi, lalu berdiri tegak seperti sedang melapor kepada kepala sekolah.
“Hari ini Rafi belajar menulis!”
Ibu langsung tersenyum lebar.
“Wah, hebat sekali! Anak Ibu sudah mulai belajar menulis.”
Ayah ikut bangga.
“Bagus, Nak. Terus kamu menulis apa?”
Rafi tidak langsung menjawab. Ia membuka tasnya dengan gaya serius, seperti seorang ilmuwan yang akan menunjukkan penemuan penting.
Dari dalam tas, ia mengeluarkan buku tulis baru. Sampulnya masih bersih, tetapi bagian dalamnya sudah penuh coretan.
“Ini hasil tulisan Rafi,” katanya bangga.
Ibu dan Ayah mendekat.
Mereka melihat halaman buku itu.
Di sana ada banyak garis panjang, garis pendek, lingkaran miring, lengkungan aneh, dan beberapa coretan yang bentuknya seperti cacing sedang lomba lari.
Ibu memiringkan kepala.
Ayah memicingkan mata.
Keduanya mencoba membaca dengan sangat serius.
Beberapa detik kemudian, Ibu bertanya pelan,
“Nak… ini kamu menulis apa?”
Rafi mengangkat bahu.
“Tidak tahu, Bu.”
Ayah langsung menoleh.
“Lho, kok tidak tahu? Tadi katanya belajar menulis.”
Rafi menjawab dengan santai,
“Iya, Ayah. Rafi memang belajar menulis.”
Ayah menunjuk buku itu.
“Kalau begitu, ini bacanya apa?”
Rafi menatap bukunya sebentar, lalu menatap Ayah dan Ibu dengan wajah polos.
“Rafi juga tidak tahu.”
Ibu mulai menahan tawa.
“Kenapa bisa tidak tahu, Nak?”
Rafi menjawab dengan sangat serius,
“Karena Rafi baru belajar menulis.”
Ayah masih bingung.
“Terus?”
Rafi menarik napas kecil, lalu berkata,
“Rafi belum belajar membaca.”
Suasana rumah langsung hening.
Ibu menutup mulutnya agar tidak tertawa terlalu keras.
Ayah memandangi buku Rafi sekali lagi, lalu mengangguk pelan seolah baru saja memahami sebuah kenyataan besar.
“Oh… jadi ini tulisan rahasia?”
Rafi langsung tersenyum bangga.
“Iya, Yah. Rahasianya bahkan Rafi sendiri belum tahu.”
Ayah akhirnya tertawa.
Ibu ikut tertawa.
Sementara Rafi berdiri dengan wajah puas, merasa hari pertamanya di sekolah sudah sangat berhasil.
Sejak hari itu, Ayah menyebut buku Rafi sebagai buku paling misterius di rumah.
Karena penulisnya ada.
Tulisannya ada.
Tapi tidak ada satu orang pun yang tahu isinya, termasuk penulisnya sendiri.







