Pada suatu malam yang cukup dingin, jalanan kota sudah mulai sepi.
Lampu-lampu warung satu per satu mulai padam. Angin malam berembus pelan, membuat daun-daun kering berterbangan di pinggir jalan.
Di dekat sebuah pertigaan, seorang tukang becak bernama Bang Udin masih duduk termenung di atas becaknya.
Wajahnya kusut.
Matanya sayu.
Perutnya sudah berkali-kali berbunyi.
Dari siang sampai malam, belum satu pun penumpang naik ke becaknya.
“Ya ampun,” gumam Bang Udin sambil mengusap wajah. “Dari tadi yang lewat cuma kucing, angin, sama orang yang bilang ‘dekat kok, Bang’ tapi tetap naik ojek online.”
Bang Udin menarik napas panjang.
Ia menatap jalan yang semakin lengang.
“Sudahlah. Pulang saja. Rezeki hari ini mungkin sedang nyasar ke becak orang lain.”
Bang Udin lalu mulai mengayuh becaknya pelan-pelan menuju rumah.
Kring… kring…
Suara bel becaknya terdengar kecil di tengah malam yang sunyi.
Jalanan semakin sepi. Hanya ada suara roda becak, derit rantai, dan angin yang berembus dari arah pepohonan.
Namun, saat melewati jalan dekat pohon besar, tiba-tiba terdengar suara seorang perempuan.
“Bang…”
Bang Udin langsung menoleh.
Di pinggir jalan berdiri seorang wanita berambut panjang. Wajahnya sebagian tertutup rambut. Ia memakai baju putih panjang dan berdiri sangat diam di bawah lampu jalan yang berkedip-kedip.
Bang Udin sempat merinding.
Tapi begitu melihat wanita itu mengangkat tangan, pikirannya langsung berubah.
“Wah, penumpang!” batin Bang Udin. “Alhamdulillah, akhirnya ada juga rezeki malam-malam.”
Ia segera menghentikan becaknya.
“Mau naik, Mbak?”
Wanita itu mengangguk pelan.
Tanpa banyak bicara, ia naik ke becak.
Bang Udin mencoba tersenyum ramah, meskipun bulu kuduknya mulai berdiri satu-satu seperti sedang antre sembako.
“Mau ke mana, Mbak?” tanya Bang Udin.
Wanita itu menjawab dengan suara datar.
“Jalan saja, Bang. Nanti saya beri tahu.”
Bang Udin menelan ludah.
“Oh… baik, Mbak.”
Ia mulai mengayuh becak.
Pelan-pelan.
Kring… kring…
Semakin jauh mereka berjalan, suasana semakin sunyi. Rumah-rumah warga sudah gelap. Warung kopi sudah tutup. Bahkan suara jangkrik pun seperti ikut berhenti karena takut salah bicara.
Bang Udin sesekali melirik ke belakang.
Wanita itu duduk diam. Rambut panjangnya menutupi sebagian wajah. Tidak ada suara. Tidak ada gerakan. Bahkan napasnya pun hampir tidak terdengar.
Bang Udin mulai gelisah.
“Ini penumpang kok diam sekali,” pikirnya. “Jangan-jangan dia sedang hemat suara.”
Beberapa menit kemudian, becak mulai mendekati area kuburan.
Di sisi jalan, terlihat deretan nisan samar-samar terkena cahaya bulan. Pohon kamboja bergoyang pelan tertiup angin.
Bang Udin mulai mengayuh lebih cepat.
“Semoga Mbaknya tidak turun di sini,” gumamnya dalam hati.
Namun tepat saat mereka melewati gerbang kuburan, wanita itu tiba-tiba berkata,
“Setop, Bang.”
Bang Udin langsung mengerem mendadak.
Ciiit!
Becak berhenti tepat di depan jalan kecil menuju kuburan.
Bang Udin menoleh pelan.
“Di… di sini, Mbak?”
Wanita itu mengangguk.
“Iya. Saya turun di sini.”
Bang Udin berusaha tetap tenang.
“Oh… baik, Mbak. Ongkosnya…”
Wanita itu turun perlahan dari becak.
Namun saat Bang Udin melihat ke bawah, matanya langsung membesar.
Kaki wanita itu tidak menapak ke tanah.
Ia seperti melayang beberapa sentimeter di atas jalan.
Wajah Bang Udin langsung pucat.
Tangannya gemetar.
Mulutnya terbuka, tapi suara yang keluar putus-putus.
“A… a… a…”
Wanita itu menoleh.
“Kenapa, Bang?”
Bang Udin menunjuk kaki wanita itu sambil menggigil.
“Aaaa! Tidaaaak! Kuntilanaaaak!”
Suasana hening sesaat.
Wanita berambut panjang itu terdiam.
Lalu ia melirik Bang Udin dengan tatapan sinis.
“Biarin!”
Bang Udin semakin gemetar.
Wanita itu menyibakkan rambut dari wajahnya, lalu berkata dengan nada kesal,
“Daripada lu… tukang becak!”
Bang Udin langsung bengong.
“Hah?”
Wanita itu melipat tangan di dada.
“Etdaahhh… orang lagi turun baik-baik malah dihina. Situ kira jadi kuntilanak gampang? Malam-malam kerja juga, tahu!”
Bang Udin masih mematung.
Wanita itu lalu merogoh sesuatu dari balik bajunya dan melemparkan uang ke kursi becak.
“Nih ongkosnya. Jangan lupa kembaliannya buat beli keberanian.”
Setelah itu, wanita tersebut melayang pelan menuju gerbang kuburan.
Bang Udin masih diam beberapa detik.
Lalu ia menunduk melihat uang di kursi becak.
Ternyata jumlahnya pas.
Bang Udin menghela napas lega.
“Alhamdulillah… ternyata hantu juga bayar ongkos.”
Sejak malam itu, Bang Udin tidak pernah lagi memilih-milih penumpang.
Tapi setiap ada wanita berambut panjang naik becaknya, ia selalu bertanya lebih dulu,
“Mbak… turun di rumah, kantor, atau alam lain?”





Leave a Comment