Suatu sore, suasana di rumah kecil itu terasa panas.
Bukan karena matahari terlalu terik.
Bukan juga karena kipas angin rusak.
Tapi karena seorang istri sedang berdiri di ruang tamu dengan wajah yang sudah tidak bisa disebut “sabar” lagi.
Di tangannya ada buku catatan pengeluaran. Buku kecil itu sebenarnya tidak bersalah. Tapi hari itu, ia menjadi saksi bisu dari badai rumah tangga yang sebentar lagi akan turun.
Sang istri membolak-balik halaman buku itu.
Makin dibaca, dahinya makin berkerut.
Makin dihitung, napasnya makin berat.
Makin dilihat jumlahnya, hatinya makin ingin pindah planet.
Di depannya, sang suami duduk di kursi plastik sambil tersenyum tipis.
Senyumnya bukan senyum bahagia.
Itu senyum orang yang sedang berharap semoga bumi tiba-tiba menelan dirinya sebelum pertanyaan pertama keluar.
Istri menutup buku itu pelan.
Pelan sekali.
Tapi justru karena terlalu pelan, suami jadi semakin takut.
“Mas…”
Suami langsung duduk tegak.
“Iya, Sayang?”
Istri mengangkat buku catatan itu.
“Ini apa?”
Suami melirik sebentar, lalu menjawab hati-hati.
“Kalau dari bentuknya… itu buku, Sayang.”
Mata istri langsung membesar.
“Aku tahu ini buku!”
Suami langsung mengangguk cepat.
“Iya, iya. Maksudku buku catatan pengeluaran.”
Istri menarik napas panjang.
“Yang aku tanya, kenapa pengeluarannya banyak sekali, tapi pemasukan kita seperti malu-malu muncul?”
Suami menelan ludah.
“Ya… namanya juga rezeki, Sayang. Kadang datang, kadang mampir sebentar, kadang cuma lewat depan rumah.”
Istri menatap tajam.
“Mas, jangan bercanda dulu. Aku serius.”
Suami langsung memasang wajah serius, walaupun wajah seriusnya tetap terlihat seperti orang yang baru ketahuan makan gorengan terakhir.
Istri membuka halaman lain.
“Ini utang beras.”
Ia membuka halaman berikutnya.
“Ini utang listrik.”
Halaman berikutnya lagi.
“Ini utang warung.”
Lalu ia berhenti di satu halaman dan matanya menyipit.
“Ini… utang cilok?”
Suami langsung salah tingkah.
“Itu investasi kecil-kecilan, Sayang.”
“Investasi apa?”
“Investasi kebahagiaan.”
Istri memejamkan mata.
“Mas…”
“Iya, Sayang?”
“Jawab jujur. Kenapa dari dulu kamu tidak bilang kalau kamu semiskin ini?”
Suami langsung terkejut.
“Lho, aku kan sudah bilang dari dulu.”
Istri menurunkan buku catatan itu.
“Kapan kamu bilang?”
“Dulu. Waktu kita masih pacaran.”
Istri tampak bingung.
“Serius? Kamu bilang apa?”
Suami tersenyum malu-malu, seperti sedang mengenang masa indah.
“Dulu aku bilang, ‘Sayang, cuma kamu satu-satunya yang kumiliki dan kupunya di dunia ini.’”
Istri terdiam.
Suami melanjutkan dengan polos.
“Tapi waktu itu kamu malah senyum-senyum terus jawab, ‘Aduh, so sweet banget, Mas…’”
Ruangan langsung hening.
Sangat hening.
Jam dinding berhenti terdengar.
Kipas angin seperti ikut pelan-pelan menyesali keadaan.
Bahkan cicak di dinding tidak jadi berbunyi, takut ikut dimarahi.
Istri menatap suaminya lama sekali.
Dari wajahnya terlihat jelas proses berpikir yang berat.
Pertama bingung.
Lalu sadar.
Lalu menyesal.
Lalu ingin kembali ke masa lalu dan menampar dirinya sendiri yang dulu bilang “so sweet”.
“Jadi…”
Istri menunjuk suaminya dengan buku catatan.
“Maksud kalimat romantis itu bukan gombalan?”
Suami menggeleng pelan.
“Bukan, Sayang.”
“Itu bukan pujian?”
“Bukan juga.”
“Itu sebenarnya laporan keuangan?”
Suami menunduk.
“Kurang lebih begitu.”
Istri langsung memegang kepala.
“Ya ampun, Mas! Aku kira dulu kamu romantis!”
Suami membela diri.
“Memang romantis, Sayang. Cuma romantisnya disertai kondisi ekonomi yang transparan.”
Istri melotot.
“Transparan dari mana?! Itu namanya kode bahaya!”
Suami mencoba tersenyum.
“Setidaknya aku tidak bohong.”
“Tidak bohong, tapi dikemas seperti puisi!”
Suami mengangguk pelan.
“Karena kalau waktu itu aku bilang, ‘Sayang, aku miskin,’ mungkin kamu langsung pulang.”
Istri terdiam sebentar.
Lalu menjawab jujur.
“Memang.”
Suami langsung lemas.
“Nah, kan…”
Istri kembali membuka buku catatan itu sambil menghela napas panjang.
“Mas, mulai sekarang kita harus berubah.”
Suami langsung mengangguk semangat.
“Betul, Sayang. Kita harus hemat.”
“Hemat saja tidak cukup.”
“Terus?”
“Kamu harus cari tambahan.”
Suami mulai gelisah.
“Tambahan apa?”
Istri menunjuk ke arah dapur.
“Mulai besok, kamu jualan gorengan depan rumah.”
Suami terdiam.
“Gorengan?”
“Iya. Daripada kamu cuma punya aku, lebih baik kamu mulai punya wajan, minyak, tepung, dan pelanggan.”
Suami mencoba protes halus.
“Tapi aku belum pernah jualan gorengan.”
Istri tersenyum tipis.
“Tenang. Nanti aku ajari.”
Suami sedikit lega.
“Bener?”
“Iya. Aku ajari dari awal. Pertama, kamu potong pisang. Kedua, kamu buat adonan. Ketiga, kamu goreng. Keempat, kamu bayar utang.”
Suami menghela napas.
“Panjang juga prosesnya.”
“Masih lebih panjang daftar utangmu.”
Suami langsung diam.
Beberapa saat kemudian, ia mencoba merayu.
“Tapi Sayang…”
“Apa?”
“Walaupun aku tidak punya banyak harta, aku tetap punya cinta yang besar untukmu.”
Istri menatapnya datar.
“Mas…”
“Iya?”
“Cinta besar boleh. Tapi tabung gas juga harus kebeli.”
Suami kembali menunduk.
Istri berjalan ke dapur sambil membawa buku catatan itu. Langkahnya tegas seperti menteri keuangan sedang menyiapkan anggaran negara.
Dari dapur, suaranya masih terdengar jelas.
“Dasar laki-laki! Dulu kukira puitis, ternyata saldo kritis!”
Suami hanya bisa duduk pasrah.
Ia menatap langit-langit rumah, lalu bergumam pelan.
“Padahal aku sudah jujur…”
Tak lama kemudian, istri kembali dari dapur sambil membawa wajan.
Suami langsung panik.
“Sayang, itu wajan buat apa?”
Istri tersenyum manis.
Senyum yang justru membuat suami makin takut.
“Tenang, Mas. Ini bukan buat mukul.”
Suami menghela napas lega.
“Alhamdulillah…”
Istri meletakkan wajan di meja.
“Ini buat masa depan kita.”
Suami menatap wajan itu dengan wajah pasrah.
Sejak hari itu, kehidupan rumah tangga mereka berubah.
Setiap pagi, suami tidak lagi hanya berkata romantis.
Ia juga mengupas pisang.
Setiap sore, ia tidak hanya memanggil istrinya “sayang”.
Ia juga berteriak, “Gorengan hangat! Pisang goreng! Tahu isi!”
Dan setiap kali suami mulai menggombal dengan kalimat lama,
“Sayang, cuma kamu satu-satunya yang kumiliki…”
Istri langsung menjawab cepat,
“Stop, Mas. Sekarang kamu juga punya utang, wajan, dan target penjualan harian.”
Suami pun tersenyum pasrah.
Karena akhirnya ia sadar.
Dalam rumah tangga, cinta memang penting.
Tapi kalau bisa, cinta itu jangan datang sendirian.
Minimal bawa modal.






Leave a Comment