Basa-Basi di Atas Awan

admin

14/05/2026

3
Min Read
Basa-Basi di Atas Awan

On This Post

Pagi itu, suasana di dalam pesawat cukup ramai. Para penumpang mulai sibuk mencari tempat duduk masing-masing.

Ada yang repot mengangkat koper ke kabin atas, ada yang memeriksa nomor kursi berkali-kali, ada pula yang langsung duduk dan memejamkan mata, seolah-olah pesawat sudah terbang jauh padahal pintunya saja belum ditutup.

Di salah satu kursi dekat jendela, duduk seorang gadis cantik. Penampilannya rapi, wajahnya tenang, dan ia tampak lebih tertarik menikmati pemandangan landasan daripada memperhatikan keramaian di dalam kabin.

Dari balik kaca jendela, ia melihat petugas bandara berlalu-lalang, koper-koper dinaikkan ke bagasi, dan pesawat lain yang bersiap lepas landas.

Tidak lama kemudian, seorang bapak-bapak setengah tua datang sambil membawa tas kecil. Napasnya sedikit terengah karena baru saja berusaha keras memasukkan tas ke kabin atas.

Setelah berhasil, ia duduk tepat di kursi sebelah gadis itu.

Awalnya suasana masih biasa saja. Gadis itu tetap menatap keluar jendela, sementara bapak tersebut membetulkan posisi duduk dan memasang sabuk pengaman.

Namun beberapa menit kemudian, bapak itu mulai melirik ke arah gadis tersebut. Ia merapikan kerah bajunya, menyisir rambut dengan jari, lalu tersenyum dengan gaya yang menurutnya ramah.

Sayangnya, bagi gadis itu, senyuman tersebut justru terasa agak mengganggu.

“Sendirian, Dik?” tanya bapak itu sambil tersenyum.

Gadis itu menoleh sekilas. “Iya, Pak.”

Jawaban singkat itu ternyata membuat bapak tersebut merasa mendapat lampu hijau untuk melanjutkan obrolan. Ia duduk sedikit lebih tegak, lalu kembali bertanya dengan nada sok akrab.

“Mau ke mana, Dik cantik?”

Gadis itu mulai merasa risih. Ia menarik napas pelan, mencoba tetap sopan meskipun sebenarnya ingin kembali menikmati pemandangan tanpa diganggu.

“Ke Surabaya, Pak,” jawabnya singkat.

Mendengar itu, wajah bapak tersebut langsung cerah. Matanya berbinar seperti menemukan kesamaan besar yang sangat langka.

“Wah, kita sama dong!” katanya penuh semangat.

Gadis itu menoleh perlahan. Ia menatap bapak tersebut dengan ekspresi datar. Dalam hati, ia sudah mulai bertanya-tanya, apakah bapak ini benar-benar sedang basa-basi atau memang lupa sedang berada di dalam pesawat.

Dengan nada tenang, namun cukup tajam, gadis itu menjawab,

“Lha iyalah, Pak…”

Bapak itu mengerutkan dahi. “Maksudnya?”

Gadis itu menunjuk pelan ke sekeliling kabin pesawat.

“Kita kan satu pesawat, Pak. Masa Bapak mau ke pasar naik pesawat ini?”

Seketika bapak itu terdiam. Senyum lebarnya perlahan hilang. Ia menatap lurus ke depan, lalu pura-pura sibuk membetulkan sabuk pengaman, padahal sabuk itu sudah terpasang rapi sejak tadi.

Beberapa penumpang di sekitar mereka yang mendengar percakapan itu mulai menahan tawa.

Ada yang pura-pura batuk, ada yang menunduk sambil tersenyum, dan ada juga yang langsung menatap keluar jendela supaya tidak ketahuan sedang geli.

Bapak itu pun langsung berubah menjadi penumpang paling tertib di pesawat. Duduk tegak, tangan di pangkuan, mata lurus ke depan.

Bahkan ketika pramugari lewat menawarkan bantuan, ia hanya tersenyum kaku seperti sedang mengikuti ujian kedisiplinan.

Sementara itu, gadis tersebut kembali menatap keluar jendela dengan tenang. Ia merasa lega karena suasana di sebelahnya akhirnya kembali damai.

Dalam hati, ia bergumam,

“Untung masih di pesawat. Kalau di angkot, mungkin dari tadi dia sudah tanya, ‘Turun mana, Dik cantik?’”

Sejak saat itu, bapak tersebut tidak lagi berusaha sok akrab. Ia akhirnya sadar satu hal: kadang-kadang, tidak semua kesamaan perlu dirayakan. Apalagi kalau kesamaannya cuma karena duduk di pesawat yang sama.

Leave a Comment