Sore itu, Arul datang ke rumah Dito dengan wajah penuh semangat.
Di tangannya ada buku catatan kecil, pulpen, dan ekspresi serius seperti orang mau ikut ujian nasional komputer.
Dito yang sedang duduk di depan laptop langsung menoleh.
“Tumben kamu datang bawa buku, Rul. Mau belajar atau mau nagih utang?”
Arul duduk di sampingnya.
“Belajar, To. Aku mau pintar komputer.”
Dito langsung menegakkan badan.
“Wah, akhirnya kamu sadar juga pentingnya teknologi.”
Arul mengangguk mantap.
“Iya. Soalnya kemarin aku buka komputer, terus aku bingung. Tombolnya banyak sekali. Ada huruf, angka, tanda panah, sampai tombol yang tulisannya kayak perintah tentara.”
Dito tertawa.
“Itu namanya keyboard, Rul.”
“Nah, itu dia. Aku mau tanya.”
Arul menunjuk salah satu tombol di keyboard.
“To, fungsi tombol ENTER itu apa sih?”
Dito langsung diam.
Wajahnya berubah serius.
Ia menatap tombol ENTER seperti sedang membaca rahasia negara.
“Hmm…”
Arul menunggu dengan penuh harap.
Dito akhirnya menjawab, “Kalau menurutku, tombol ENTER itu fungsinya buat mempercepat jalannya program.”
Arul mengernyit.
“Mempercepat gimana, To?”
Dito menjelaskan dengan percaya diri.
“Ya supaya kerjaannya cepat selesai. Namanya juga ENTER.”
Arul masih bingung.
“Apa hubungannya?”
Dito menepuk meja pelan.
“Kalau kerjanya lama, bukan ENTER namanya, Rul.”
“Terus apa?”
“ENTAR.”
Arul terdiam sebentar.
Lalu ia tertawa keras.
“Hahaha! Bisa saja kamu, To!”
Dito tersenyum bangga, seolah baru saja memberikan kuliah komputer tingkat profesor.
Arul lalu membuka buku catatannya.
“Berarti aku tulis ya. ENTER itu supaya cepat. Kalau lambat namanya ENTAR.”
Dito langsung panik sedikit.
“Eh, jangan terlalu resmi ditulis begitu juga.”
“Tapi kamu yang bilang.”
“Iya, tapi itu ilmu persahabatan, bukan ilmu komputer.”
Arul mengangguk, meski wajahnya tetap bingung.
Beberapa menit kemudian, Dito mengajari Arul membuka internet.
Arul tampak sangat serius. Ia mengetik dengan satu jari, pelan-pelan, seperti sedang menekan tombol bom.
Setelah beberapa saat, Arul menghela napas.
“To, boleh tanya lagi?”
“Tanya saja.”
“Aku sudah masuk internet, terus aku mau cari Facebook. Tapi kok tidak bisa-bisa, ya?”
Dito mendekat ke layar.
“Kamu ngetiknya apa?”
Arul menunjuk layar.
“Facebook.”
Dito langsung mengangguk seperti teknisi ahli.
“Oh, pantas tidak bisa.”
“Kenapa?”
“Di depannya kata Facebook sudah kamu ketik www belum?”
Arul menggeleng polos.
“Belum. Memangnya harus, To?”
“Ya harus dong,” jawab Dito mantap.
Arul langsung mencatat lagi.
“Berarti kalau mau masuk internet harus pakai www.”
“Betul.”
Arul berhenti menulis, lalu bertanya, “Memangnya www itu apa sih?”
Dito langsung terdiam.
Matanya melirik ke langit-langit.
Tangannya menggaruk kepala.
Ia sebenarnya juga tidak terlalu tahu.
Tapi karena sudah telanjur terlihat pintar, Dito tidak mau kehilangan wibawa.
“Hmm… kasih tahu tidak, ya?”
Arul mendekat.
“Kasih tahu dong. Aku serius mau belajar.”
Dito menarik napas panjang, lalu menjawab dengan nada paling yakin sedunia.
“Kalau tidak salah, www itu singkatan dari…”
Arul menunggu.
Dito berkata pelan-pelan,
“Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.”
Arul langsung melongo.
“Oooo… gitu ya?”
Dito mengangguk mantap.
“Iya. Jadi kalau mau masuk website, harus salam dulu.”
Arul tampak kagum.
“Keren juga internet ya, To. Sopan sekali.”
Dito menahan tawa.
“Teknologi memang harus beradab, Rul.”
Arul langsung mengetik di laptop.
“Berarti kalau aku mau buka Facebook, aku ketik salam dulu?”
Dito mengangguk.
“Kurang lebih begitu.”
Arul mengetik dengan serius.
“Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh Facebook.”
Dito langsung terkejut.
“Lho, jangan sepanjang itu juga!”
“Katanya harus salam dulu!”
“Iya, tapi cukup disingkat.”
“Jadi internet itu paham singkatan?”
“Paham. Internet itu pintar.”
Arul manggut-manggut.
“Hebat. Bahkan lebih pintar dari aku.”
Dito menepuk bahunya.
“Tidak apa-apa, Rul. Kamu masih proses update.”
Arul lalu bertanya lagi.
“To, kalau tombol ESC itu apa?”
Dito kembali memasang wajah ahli.
“ESC itu tombol untuk kabur.”
“Kabur?”
“Iya. Kalau komputer mulai membingungkan, tekan ESC. Siapa tahu masalahnya ikut kabur.”
Arul langsung mencatat lagi.
“ESC sama dengan kabur dari masalah.”
Dito tersenyum puas.
“Bagus.”
“Kalau tombol DELETE?”
“Itu tombol penghilang jejak.”
Arul makin kagum.
“Wah, komputer ini lengkap sekali. Ada tombol mempercepat, tombol kabur, tombol menghapus jejak.”
Dito mengangguk.
“Makanya komputer dipakai orang pintar.”
Arul menatap Dito serius.
“Berarti kamu pintar, To?”
Dito terdiam sebentar.
“Ya… minimal berani menjawab.”
Arul tertawa.
Tidak lama kemudian, ibu Dito lewat membawa teh.
“Lagi belajar komputer?”
Arul langsung menjawab semangat.
“Iya, Bu. Dito ngajarin saya. Katanya www itu salam internet.”
Ibu Dito berhenti berjalan.
“Salam internet?”
Dito langsung pura-pura batuk.
“Ehem… itu metode belajar, Bu.”
Ibu Dito tersenyum menahan tawa.
“Metode menyesatkan, mungkin.”
Arul menoleh ke Dito.
“To, jangan-jangan kamu juga belum terlalu paham komputer?”
Dito mengangkat bahu.
“Rul, dalam persahabatan, yang penting bukan selalu tahu jawabannya.”
“Terus apa?”
“Yang penting percaya diri saat menjawab.”
Arul tertawa sampai hampir menjatuhkan pulpen.
Sore itu, Arul memang belum benar-benar mahir menggunakan komputer.
Ia masih bingung membedakan ENTER dan ENTAR.
Ia juga masih percaya bahwa www adalah salam pembuka untuk masuk website.
Tapi satu hal yang jelas, belajar bersama Dito membuat komputer terasa tidak semenakutkan sebelumnya.
Karena begitulah sahabat sejati.
Senang bareng.
Bingung bareng.
Dan kalau salah paham, minimal tertawanya juga bareng.


Leave a Comment