Jodoh yang Terlalu Cocok

admin

15/05/2026

4
Min Read
Jodoh yang Terlalu Cocok

On This Post

Suatu siang, seorang pria datang ke tempat praktik seorang psikiater ternama. Dari raut wajahnya, terlihat jelas bahwa ia sedang tidak baik-baik saja.

Dahinya berkerut, langkahnya cepat, dan napasnya terdengar berat seperti orang yang baru saja kalah debat panjang di rumah sendiri.

Begitu pintu ruang praktik terbuka, pria itu langsung masuk dan duduk di kursi depan meja psikiater. Belum sempat psikiater menyapa, ia sudah lebih dulu membuka suara.

“Dok, saya benar-benar sudah tidak tahan lagi!” katanya dengan nada tinggi.

Psikiater itu tetap tenang. Ia sudah terbiasa menghadapi pasien dengan berbagai macam keluhan, mulai dari yang serius sampai yang sebenarnya hanya butuh didengarkan.

“Tenang dulu, Pak,” kata psikiater sambil memberi isyarat agar pria itu menarik napas. “Coba ceritakan pelan-pelan. Apa yang membuat Bapak begitu emosi?”

Pria itu menghela napas panjang, lalu mulai bercerita dengan wajah penuh kejengkelan.

“Begini, Dok. Istri saya itu sebenarnya cantik. Sangat cantik malah. Kalau dia berdandan, orang-orang pasti menoleh. Penampilannya menarik, suaranya lembut, senyumnya manis.”

Psikiater mengangguk pelan. “Lalu, apa masalahnya, Pak?”

“Nah, itu dia masalahnya, Dok!” pria itu menegakkan badan. “Cantiknya memang luar biasa, tapi polosnya juga tidak ketulungan. Kadang-kadang saya sampai tidak tahu harus marah atau tertawa.”

Psikiater mengambil pulpen dan mulai mencatat. “Contohnya?”

“Banyak, Dok. Saya suruh ambil garam, yang dibawa gula. Saya suruh matikan kompor, yang dimatikan televisi. Saya bilang mau beli pulsa, dia malah tanya, ‘Pulsanya ukuran berapa kilo?’”

Psikiater menahan senyum.

Pria itu semakin semangat bercerita.

“Pernah juga, Dok, saya bilang, ‘Tolong lihat nasi di dapur sudah matang atau belum.’ Dia balik lagi sambil bilang, ‘Nasiku diam saja, Bang. Tidak ngomong apa-apa.’ Coba, Dok, bagaimana saya tidak pusing?”

Psikiater hampir tertawa, tetapi ia tetap menjaga wajah profesional.

“Jadi, Bapak merasa istri Bapak sering salah memahami maksud perkataan Bapak?”

“Bukan sering lagi, Dok. Hampir setiap hari!” jawab pria itu. “Saya ini capek. Istri saya memang cantik, tapi aduh… polosnya setengah mati.”

Psikiater menyandarkan tubuh ke kursinya. Ia menatap pria itu dengan tenang, lalu berkata,

“Baik, Pak. Setelah mendengar cerita Bapak, menurut analisa saya, sebenarnya Bapak dan istri adalah pasangan yang sangat berjodoh.”

Pria itu langsung terdiam. Dahinya semakin berkerut.

“Berjodoh?” ulangnya tidak percaya. “Dokter serius? Saya datang ke sini karena pusing menghadapi istri saya, kok dokter malah bilang kami berjodoh?”

Psikiater tersenyum tipis. “Iya, Pak. Justru dari cerita Bapak, saya semakin yakin kalian memang cocok.”

Pria itu mendekatkan tubuhnya ke meja. “Cocoknya di bagian mana, Dok? Saya ini tiap hari seperti sedang menerjemahkan bahasa asing di rumah sendiri.”

Psikiater meletakkan pulpennya. Dengan suara pelan dan penuh keyakinan, ia berkata,

“Begini, Pak. Waktu dulu Bapak memutuskan menikahi istri Bapak, alasan utamanya karena dia cantik, kan?”

Pria itu terdiam sebentar, lalu mengangguk.

“Ya… memang benar, Dok. Waktu itu saya lihat dia cantik sekali.”

“Nah,” lanjut psikiater, “sementara istri Bapak mau menikah dengan Bapak karena kepolosannya yang luar biasa.”

Pria itu langsung mematung.

Psikiater melanjutkan dengan tenang, “Jadi sebenarnya kalian saling berjodoh. Bapak memilih dia karena kecantikannya, sementara dia menerima Bapak karena kepolosannya. Kalau dia tidak sepolos itu, mungkin dia sudah berpikir dua kali.”

Ruangan mendadak hening.

Pria itu menatap psikiater dengan wajah datar. Mulutnya terbuka sedikit, tetapi tidak ada kata-kata yang keluar. Ia ingin protes, namun anehnya penjelasan itu terdengar masuk akal sekaligus menusuk perasaan.

Beberapa detik kemudian, ia menggaruk kepala sambil berkata pelan,

“Dok… saya datang ke sini mau cari solusi, bukan disadarkan dengan kenyataan sepahit ini.”

Psikiater tersenyum bijak.

“Kadang-kadang, Pak, dalam rumah tangga kita terlalu sibuk melihat kekurangan pasangan, sampai lupa bahwa dulu kita juga dipilih karena alasan yang mungkin tidak kalah aneh.”

Pria itu menarik napas panjang. Wajahnya masih kesal, tetapi kali ini bercampur malu.

Sejak hari itu, setiap kali ia mulai kesal kepada istrinya, ia teringat ucapan psikiater tersebut.

Dan dalam hati ia berkata,

“Benar juga… kalau dia tidak polos, mungkin dulu dia tidak akan mau menikah dengan saya.”

Akhirnya pria itu sadar, jodoh memang misterius. Kadang bukan karena dua orang sama-sama sempurna, melainkan karena kekurangan yang satu ternyata cocok dengan kekurangan yang lain.

Leave a Comment