Kacamata Hitam Kakek Dadang

admin

24/05/2026

3
Min Read
Kacamata Hitam Kakek Dadang

On This Post

Sore itu, ruang keluarga rumah Kakek Dadang terasa ramai oleh suara televisi.

Di layar, sedang tayang sinetron favoritnya. Kakek Dadang duduk di kursi rotan kesayangannya, lengkap dengan sarung kotak-kotak, kaus putih, dan segelas teh hangat di meja kecil sampingnya.

Namun, ada satu hal yang selalu membuat semua orang heran.

Kakek Dadang menonton televisi sambil memakai kacamata hitam.

Bukan kacamata baca.

Bukan juga kacamata biasa.

Tapi kacamata hitam besar seperti orang mau pergi ke pantai.

Padahal ia sedang duduk di dalam rumah.

Lampu ruang keluarga pun tidak terlalu terang. Jendela sudah tertutup tirai. Matahari juga hampir tenggelam.

Tapi Kakek Dadang tetap duduk tegak, menatap televisi dengan wajah serius di balik kacamata hitamnya.

Cucunya, Togar, yang baru pulang bermain, langsung berhenti di depan pintu ruang keluarga.

Ia menatap kakeknya dari atas sampai bawah.

“Kakek…” panggil Togar pelan.

Kakek Dadang tidak menoleh.

“Sebentar, Gar. Ini adegan penting. Jangan ganggu dulu.”

Togar ikut menatap layar televisi.

Di sana, seorang tokoh sedang menangis sambil berdiri di depan rumah besar.

Togar mengernyit.

“Ini adegan penting?”

“Iya,” jawab Kakek Dadang serius. “Dia baru tahu kalau saudara kembarnya ternyata tetangganya sendiri.”

Togar hanya mengangguk bingung.

Ia lalu duduk di samping kakeknya. Beberapa saat ia memperhatikan kacamata hitam itu.

Rasa penasarannya semakin besar.

“Kakek,” tanyanya akhirnya, “kenapa Kakek pakai kacamata hitam di dalam rumah?”

Kakek Dadang menoleh perlahan.

Wajahnya tetap serius.

“Kamu belum tahu, Gar.”

“Belum tahu apa?”

Kakek Dadang menunjuk layar televisi.

“Televisi zaman sekarang itu berbahaya.”

Togar langsung kaget.

“Berbahaya bagaimana, Kek?”

Kakek Dadang menarik napas panjang seperti hendak menjelaskan rahasia besar dunia.

“Kadang layarnya tiba-tiba terang sekali. Apalagi kalau adegannya pindah dari malam ke siang. Mata kakek bisa kaget.”

Togar menahan senyum.

“Jadi Kakek pakai kacamata hitam supaya tidak silau?”

“Betul,” jawab Kakek Dadang mantap. “Kalau ada adegan terang, mata kakek tidak sakit.”

Togar akhirnya tertawa.

“Hahaha! Kek, itu kan televisi, bukan matahari!”

Kakek Dadang mengangkat telunjuk.

“Jangan meremehkan televisi, Gar. Matahari cuma satu. Tapi televisi bisa menampilkan banyak matahari.”

Togar tertawa semakin keras sampai memegang perut.

Kakek Dadang tetap tenang. Ia menyeruput tehnya pelan, lalu kembali menonton dengan gaya sangat serius.

Beberapa menit kemudian, layar televisi tiba-tiba menampilkan pemandangan pantai yang cerah. Cahaya matahari terlihat memenuhi layar.

Kakek Dadang langsung menunjuk televisi.

“Nah! Lihat itu! Untung kakek sudah siap.”

Togar tertawa lagi.

“Kakek ini benar-benar unik!”

Kakek Dadang tersenyum kecil dari balik kacamata hitamnya.

“Unik itu penting, Gar. Kalau semua orang biasa saja, dunia ini sepi.”

Togar memandang kakeknya dengan senyum lebar.

Akhirnya, ia mengambil kacamata hitam mainan dari kamarnya, lalu duduk kembali di samping Kakek Dadang.

Kakek Dadang menoleh.

“Kamu ngapain pakai kacamata juga?”

Togar menjawab dengan wajah dibuat serius.

“Jaga-jaga, Kek. Siapa tahu nanti ada adegan siang bolong.”

Kakek Dadang tertawa kecil.

“Bagus. Kamu cepat belajar.”

Sejak sore itu, setiap kali Kakek Dadang menonton televisi, Togar kadang ikut duduk di sampingnya memakai kacamata hitam.

Bagi orang lain, pemandangan itu mungkin terlihat aneh.

Seorang kakek dan cucunya duduk di ruang keluarga, memakai kacamata hitam, menonton sinetron seolah sedang menghadapi cahaya matahari di gurun pasir.

Tapi bagi Togar, itulah salah satu hal paling menyenangkan dari kakeknya.

Kakek Dadang memang unik.

Dan justru karena keunikannya, rumah terasa lebih hangat, lebih lucu, dan tidak pernah membosankan.

Leave a Comment