SIM yang Hilang Tanpa Kabar

admin

29/05/2026

3
Min Read
SIM yang Hilang Tanpa Kabar

On This Post

Suatu siang, jalan raya terlihat cukup ramai.

Motor, mobil, angkot, dan beberapa pengendara yang tiba-tiba pura-pura sibuk membetulkan kaca spion tampak melintas pelan karena di depan sana sedang ada operasi kendaraan bermotor.

Beberapa polisi berdiri di pinggir jalan sambil memeriksa kelengkapan surat-surat pengendara.

Di antara para pengendara itu, ada seorang cewek bernama Rani yang sedang mengendarai motor matic warna merah muda.

Awalnya Rani santai saja.

Helm dipakai.

Spion lengkap.

Lampu menyala.

Motor juga tidak dimodifikasi aneh-aneh.

“Tenang, Rani,” gumamnya. “Kamu warga negara yang baik.”

Namun begitu melihat seorang polisi mengangkat tangan dan memberi isyarat agar ia menepi, jantung Rani langsung berdetak lebih cepat.

Deg!

“Waduh… kenapa rasanya seperti dipanggil mantan yang belum selesai urusan?”

Rani menepikan motornya dengan pelan.

Polisi itu mendekat dengan wajah ramah.

“Selamat siang, Mbak.”

“Siang, Pak,” jawab Rani sambil tersenyum kaku.

“Bisa tunjukkan SIM dan STNK-nya?”

Rani langsung membuka tas kecilnya.

Ia mencari di bagian depan.

Tidak ada.

Ia membuka resleting tengah.

Tidak ada juga.

Ia mulai membongkar isi tas: lipstik, tisu, permen, struk belanja, karet rambut, sampai benda misterius yang ia sendiri lupa pernah beli.

Polisi menunggu sambil memperhatikan.

“Bagaimana, Mbak?”

Rani mulai panik.

“Waduh…”

Polisi mengangkat alis.

“Ada masalah?”

Rani menatap polisi dengan wajah memelas.

“SIM saya hilang, Pak.”

Polisi langsung serius.

“Hilang? Hilang ke mana?”

Rani terdiam sebentar.

Matanya mulai berkaca-kaca.

Ia menunduk, menarik napas panjang, lalu berkata dengan suara pelan,

“Ndak tahu, Pak…”

Polisi itu mengerutkan dahi.

“Maksudnya?”

Rani mengusap sudut matanya.

“Sekarang dia suka ngilang-ngilang, Pak. Kadang ada, kadang nggak. Kalau dicari susah. Kalau dibutuhkan malah pergi.”

Polisi mulai bingung.

“Ini kita masih bicara soal SIM, kan?”

Rani mengangguk sedih.

“Iya, Pak. Tapi rasanya seperti hubungan yang tidak jelas. Dulu dia selalu ada di dompet saya. Ke mana-mana ikut saya. Tapi sekarang… hilang tanpa kabar.”

Polisi terdiam.

Rani melanjutkan dengan suara makin dramatis.

“Mungkin dia sudah bosan, Pak. Mungkin dia lelah menemani saya di jalan. Mungkin dia merasa saya kurang menghargai kehadirannya.”

Polisi garuk-garuk kepala.

“Mbak, SIM itu kartu, bukan pacar.”

Rani menatap polisi dengan mata berkaca-kaca.

“Tapi kenapa sakitnya sama, Pak?”

Polisi hampir tertawa, tapi berusaha tetap profesional.

“Jadi SIM-nya benar-benar tidak ada?”

Rani menggeleng pelan.

“Tidak ada, Pak. Dia pergi tanpa pamit.”

Polisi menarik napas panjang.

“Kalau begitu, Mbak harus urus kehilangan dan buat lagi sesuai prosedur.”

Rani langsung memegang dadanya.

“Buat yang baru, Pak?”

“Iya.”

Rani menatap jauh ke arah jalan.

“Berarti saya harus move on?”

Polisi menahan tawa.

“Anggap saja begitu.”

Rani mengangguk pelan.

“Baik, Pak. Saya akan belajar ikhlas. Kalau memang SIM lama memilih pergi, mungkin sudah waktunya saya membuka hati untuk SIM yang baru.”

Polisi akhirnya tidak tahan dan tertawa kecil.

“Yang penting nanti jangan sampai hilang lagi.”

Rani menyalakan motornya pelan-pelan.

“Saya usahakan, Pak. Tapi kalau dia ngilang lagi…”

Polisi langsung memotong.

“Jangan curhat ke polisi lagi, Mbak. Simpan di dompet yang benar.”

Rani mengangguk.

“Siap, Pak.”

Sebelum pergi, Rani masih sempat menoleh dan berkata,

“Pak…”

“Iya?”

“Kalau nanti SIM saya balik lagi, apakah saya harus menerimanya?”

Polisi menghela napas panjang.

“Mbak, ini operasi kendaraan, bukan konsultasi percintaan.”

Rani pun pergi dengan wajah sedih namun tegar.

Sejak hari itu, ia belajar satu hal penting:

Dalam hidup, yang paling menyakitkan bukan cuma ditinggal tanpa kabar…

Tapi juga diberhentikan polisi saat SIM sedang tidak setia.

Leave a Comment