Sore itu, Raka duduk di teras rumah bersama ibunya.
Angin bertiup pelan, suara burung terdengar dari pohon mangga, dan dari dapur tercium aroma ikan goreng yang membuat perut Raka mulai berbunyi pelan.
Kruyuk…
Raka menatap ke arah dapur.
“Bu, ikan gorengnya sudah matang?”
Ibunya tersenyum sambil duduk di kursi sebelahnya.
“Sebentar lagi, Nak. Tapi sebelum makan, Ibu mau kasih nasihat dulu.”
Raka langsung menegakkan badan.
Kalau ibu sudah bilang mau memberi nasihat, biasanya itu artinya ada pelajaran hidup. Kadang tentang rajin belajar.
Kadang tentang sopan santun. Kadang juga tentang jangan menaruh kaus kaki di ruang tamu.
“Iya, Bu. Nasihat apa?”
Ibu menatap Raka dengan wajah bijaksana.
“Nak, kamu harus tahu. Ada pepatah lama yang mengatakan, kalau kamu memberi ikan kepada seseorang, maka kamu memberinya makan untuk satu hari.”
Raka mengangguk pelan.
“Berarti kalau aku kasih ikan goreng ke teman, dia kenyang hari ini?”
“Betul,” jawab Ibu.
Raka mulai terlihat paham.
“Terus kalau aku kasih dua ikan?”
“Berarti dia makin kenyang.”
Raka mengangguk lebih mantap.
“Ibu lanjutkan dulu,” kata Ibu sambil tersenyum.
Raka langsung diam.
Ibu kemudian berkata dengan nada lebih serius,
“Tetapi, kalau kamu mengajari seseorang memancing, maka kamu memberinya kemampuan untuk mencari makan sendiri.”
Raka mengangguk kagum.
“Wah, berarti itu lebih bagus ya, Bu?”
“Bagus sekali,” jawab Ibu.
Raka menatap ibunya dengan penuh hormat.
Dalam pikirannya, Ibu memang luar biasa. Dari ikan goreng saja bisa muncul pelajaran hidup yang sangat dalam.
Namun Ibu belum selesai.
Ia menoleh ke arah halaman, lalu melanjutkan dengan suara pelan,
“Tapi kalau kamu mengajari seorang pria memancing…”
Raka menunggu.
Ibu tersenyum tipis.
“Maka kamu juga punya cara untuk membuatnya pergi dari rumah sepanjang akhir pekan.”
Raka terdiam.
Ia menatap ibunya.
“Ibu maksudnya bagaimana?”
Ibu bersandar santai di kursi.
“Bayangkan saja. Begitu seseorang hobi memancing, Sabtu pagi dia sudah berangkat membawa pancing, ember, umpan, kursi lipat, bekal, dan alasan panjang.”
Raka mulai tertawa kecil.
Ibu melanjutkan,
“Katanya cuma sebentar. Tapi pulangnya sore. Kadang malam. Kadang pulang tanpa ikan, tapi tetap bahagia.”
Raka tertawa.
“Kalau tidak dapat ikan, kenapa bahagia, Bu?”
Ibu menghela napas sambil tersenyum.
“Itulah misterinya. Orang memancing kadang tidak benar-benar mencari ikan.”
“Terus mencari apa?”
Ibu menjawab santai,
“Mencari alasan untuk duduk lama-lama di pinggir sungai.”
Raka tertawa semakin keras.
Tak lama kemudian, Ayah keluar dari dalam rumah sambil membawa topi dan alat pancing.
“Ada yang lihat umpan Ayah?”
Raka langsung menatap ibunya.
Ibu hanya mengangkat alis sambil tersenyum kecil.
“Ayah mau ke mana?” tanya Raka.
Ayah menjawab dengan wajah polos,
“Memancing sebentar.”
Ibu langsung menoleh ke Raka.
“Nah, itu contoh pelajaran hari ini.”
Raka memandang Ayah dari ujung kepala sampai ujung kaki. Di tangan Ayah ada pancing. Di bahunya ada tas besar. Di kepalanya ada topi. Di wajahnya ada ekspresi orang yang merasa paling sibuk sedunia.
Raka bertanya,
“Sebentar itu berapa lama, Yah?”
Ayah berpikir sejenak.
“Ya… tergantung ikannya.”
Ibu langsung berkata pelan,
“Tergantung izin pulangnya juga.”
Ayah tersenyum kaku.
Raka akhirnya mengangguk paham.
“Oh, jadi benar ya, Bu. Kalau diberi ikan, orang kenyang sehari. Tapi kalau diajari memancing, orang bisa hilang seharian.”
Ibu tersenyum puas.
“Bukan hilang, Nak. Pergi dengan sukarela.”
Ayah tertawa kecil sambil berjalan ke halaman.
“Tenang saja, nanti Ayah bawa pulang ikan besar.”
Ibu menjawab dari teras,
“Kalau tidak dapat ikan, minimal bawa pulang alasan yang masuk akal.”
Raka tertawa lagi.
Sejak hari itu, Raka selalu ingat nasihat ibunya.
Memberi ikan memang bisa membuat orang kenyang.
Mengajari memancing memang bisa membuat orang mandiri.
Tapi bagi Ibu, ada manfaat tambahan yang tidak tertulis di buku pepatah mana pun.
Rumah jadi lebih tenang setiap akhir pekan.







