Bakwan Panas Beben

Junaedi

20/06/2026

4
Min Read
Bakwan Panas Beben

On This Post

Sore itu, Beben sudah duduk manis di depan meja makan sejak setengah jam sebelum magrib.

Bukan karena ia rajin membantu ibunya menyiapkan makanan.

Bukan juga karena ingin menemani keluarga ngobrol.

Tapi karena ia sedang menjaga bakwan.

Di atas meja, sepiring bakwan baru saja diangkat dari penggorengan. Warnanya kuning keemasan, pinggirannya renyah, dan asapnya masih mengepul seperti gunung kecil yang baru meletus.

Beben menatap bakwan itu dengan mata berbinar.

Sejak siang, perutnya sudah berbunyi berkali-kali.

Kruyuk…

Kruyuk…

Bahkan menurut Beben, perutnya bukan lagi lapar.

Perutnya sudah mulai mengadakan rapat darurat.

Ibunya yang melihat Beben menatap bakwan tanpa berkedip langsung menegur,

“Beben, jangan dekat-dekat dulu. Itu masih panas.”

Beben mengangguk.

“Iya, Bu.”

Tapi matanya tetap tidak lepas dari bakwan.

Ibunya mengangkat alis.

“Kamu dengar tidak?”

“Dengar, Bu.”

“Kalau panas, jangan langsung dimakan.”

“Iya, Bu.”

“Ditiup dulu.”

“Iya, Bu.”

“Pelan-pelan.”

“Iya, Bu.”

Ibunya menghela napas.

Jawaban Beben memang terdengar patuh, tapi wajahnya terlihat seperti orang yang sudah menyiapkan rencana penyerangan.

Beben mengambil posisi.

Tangan kanan dekat piring.

Tangan kiri dekat gelas.

Mata melihat jam.

Hidung mencium aroma bakwan.

Hati membaca doa.

Perut berteriak minta keadilan.

Akhirnya, suara azan magrib terdengar dari masjid.

“Allahu Akbar… Allahu Akbar…”

Beben langsung bergerak secepat kilat.

“Alhamdulillah!”

Sebelum ibunya sempat berkata apa-apa, Beben langsung mengambil bakwan paling besar dari piring.

Bakwan itu masih sangat panas.

Asapnya masih keluar.

Minyaknya bahkan masih berkilau.

Ibunya berteriak,

“Beben, tunggu! Itu masih panas!”

Tapi terlambat.

Beben sudah menggigit bakwan itu dengan penuh semangat.

Kriuk.

Satu detik kemudian…

Mata Beben membesar.

Wajahnya berubah.

Tangannya mengepal.

Kakinya mulai bergerak-gerak.

“Hah! Hah! Hah!”

Ia melompat dari kursi seperti baru duduk di atas bara api.

Ibunya panik.

“Beben! Kenapa?”

Beben menunjuk mulutnya sambil loncat-loncat.

“Hahash! Hahash!”

Ayahnya yang baru masuk ruang makan langsung kaget.

“Kenapa anak kita jadi bahasa kompor?”

Beben terus berputar-putar di ruang makan sambil mengibas-ngibaskan tangan.

“Hah! Huh! Hih!”

Ibunya cepat-cepat memberikan segelas air.

“Minum! Minum!”

Beben langsung menyambar gelas itu dan minum cepat.

Tapi ternyata airnya masih hangat.

Matanya makin membesar.

“HAAAAHH!”

Ayahnya menepuk jidat.

“Itu air teh hangat, Ben!”

Beben hampir menangis.

Ia berlari ke dapur, mengambil air putih dingin, lalu meminumnya dengan penuh penderitaan.

Setelah beberapa saat, ia kembali ke ruang makan dengan wajah merah dan mata berkaca-kaca.

Lidahnya terasa seperti habis mengikuti lomba lari di atas wajan.

Ibunya menatapnya dengan campuran kasihan dan ingin tertawa.

“Tuh kan, Ibu sudah bilang. Bakwan panas jangan langsung dimakan.”

Beben duduk pelan.

Ia ingin menjawab, tapi lidahnya masih tidak bisa diajak kerja sama.

“Beben… hahu… hahan…”

Ibunya mengerutkan dahi.

“Apa?”

Beben mencoba bicara lagi.

“Haha hahar hihang…”

Ayahnya mencondongkan badan.

“Dia ngomong apa?”

Beben menghela napas, lalu mengulang dengan susah payah,

“Haha hahar hihang, hahi haha hihi huha hihu hihang…”

Ibu dan ayahnya saling pandang.

Adiknya yang duduk di samping meja langsung tertawa.

“Aku tahu maksudnya!”

Ayah menoleh.

“Apa?”

Adiknya menirukan gaya Beben sambil tertawa,

“Rasa lapar hilang, tapi harga diri juga ikut hilang!”

Satu ruang makan langsung pecah tertawa.

Beben ingin protes, tapi setiap kali membuka mulut, lidahnya terasa perih.

Akhirnya ia hanya menunjuk adiknya sambil berkata,

“Jahah hahawa!”

Adiknya tertawa makin keras.

“Katanya jangan tertawa!”

Ayahnya menahan tawa sambil menepuk bahu Beben.

“Ben, puasa itu memang mengajarkan sabar.”

Beben mengangguk pelan.

Ayah melanjutkan,

“Termasuk sabar menunggu bakwan agak dingin.”

Ibunya mengambil satu bakwan lagi, lalu meniupnya pelan-pelan.

“Nih, makan pelan-pelan. Jangan seperti orang balas dendam sama tepung.”

Beben menerima bakwan itu dengan hati-hati.

Kali ini ia meniupnya lama sekali.

Fuuu…

Fuuu…

Fuuu…

Ayahnya heran.

“Ben, itu bakwan mau dimakan atau mau kamu padamkan?”

Beben menatap ayahnya dengan serius.

“Jahang hahuh.”

Ayah mengangguk.

“Oh, jangan panas.”

Beben mengangguk.

Sejak hari itu, Beben punya pengalaman berharga.

Ia tetap suka bakwan.

Ia tetap semangat berbuka.

Tapi setiap melihat makanan yang baru keluar dari penggorengan, ia langsung mundur satu langkah.

Karena ia sudah tahu:

lapar memang berat…

tapi lidah melepuh di depan keluarga jauh lebih berat.