Sepatu Hari Pertama Sekolah

admin

16/05/2026

4
Min Read
Sepatu Hari Pertama Sekolah

On This Post

Hari itu adalah hari pertama masuk sekolah. Suasana kelas masih terasa ramai dan penuh semangat. Anak-anak datang dengan seragam baru, tas baru, buku baru, dan sepatu yang masih mengilap seperti baru keluar dari toko.

Ada yang duduk rapi sambil memeluk tas, ada yang malu-malu berkenalan dengan teman sebangku, ada pula yang sudah membuka bekal padahal jam istirahat masih lama.

Di depan kelas, guru berdiri sambil tersenyum, menyambut murid-murid barunya satu per satu.

Namun, di tengah keramaian itu, ada satu bangku yang masih kosong.

Bangku milik Bambang.

Guru beberapa kali melirik ke arah bangku tersebut. Ia mengernyitkan dahi, lalu melihat jam di dinding. Pelajaran sudah dimulai, tetapi Bambang belum juga datang.

Beberapa menit kemudian, dari luar kelas terdengar suara langkah kaki tergesa-gesa.

Tap… tap… tap…

Semakin lama, suara itu semakin dekat.

Pintu kelas terbuka pelan. Semua mata langsung menoleh.

Di sana berdiri Bambang kecil dengan napas terengah-engah. Rambutnya agak berantakan, bajunya sedikit keluar dari celana, dan wajahnya tampak panik seperti baru saja dikejar ayam satu kampung.

“Maaf, Pak… saya terlambat,” kata Bambang sambil menunduk.

Guru menatapnya dengan wajah serius.

“Bambang, ini hari pertama masuk sekolah. Seharusnya kamu datang lebih awal supaya bisa berkenalan dengan teman-temanmu.”

“Iya, Pak. Maaf, Pak,” jawab Bambang pelan.

Guru lalu memberi hukuman ringan. Bambang diminta berlari mengelilingi ruangan kelas sebanyak dua kali. Dengan wajah pasrah, Bambang mulai berlari kecil mengitari kelas.

Teman-temannya memperhatikan sambil menahan tawa. Ada yang menutup mulut, ada yang pura-pura melihat buku, dan ada juga yang diam-diam menghitung putaran Bambang seperti sedang menonton lomba lari mini.

Setelah dua putaran, Bambang berhenti di depan kelas. Napasnya masih tersengal-sengal. Ia berdiri sambil memegang lutut, sementara guru menunggu sampai ia agak tenang.

“Nah, sekarang berdiri yang tegak,” kata guru. “Ceritakan kepada teman-temanmu, kenapa kamu bisa terlambat di hari pertama sekolah?”

Bambang menelan ludah. Ia menatap teman-temannya satu per satu. Wajahnya polos, tetapi suaranya terdengar serius.

“Maaf, Pak… maaf teman-teman… tadi di rumah, Mak sama Bapak berantem.”

Seketika suasana kelas menjadi hening.

Teman-temannya yang tadinya ingin tertawa langsung diam. Guru pun berubah lebih lembut. Ia merasa iba kepada Bambang.

“Oh begitu,” kata guru pelan. “Jadi kamu terlambat karena menunggu Mak dan Bapakmu selesai bertengkar?”

Bambang menggeleng.

“Bukan, Pak.”

Guru mengerutkan dahi. “Bukan? Lalu kenapa?”

Bambang menarik napas, lalu menjawab dengan sangat polos.

“Saya menunggu sepatu saya, Pak.”

Guru semakin bingung. “Maksudnya menunggu sepatu?”

“Iya, Pak,” jawab Bambang. “Sepatu kiri dipegang Mak, sepatu kanan dipegang Bapak.”

Beberapa detik kelas hening.

Lalu tiba-tiba…

“Hahahahaha!”

Seluruh kelas langsung pecah oleh tawa. Teman-teman Bambang tertawa sampai memukul meja. Ada yang tertawa sambil menutup wajah, ada yang sampai menunduk karena tidak kuat menahan geli.

Guru yang semula berusaha tetap serius akhirnya ikut tersenyum. Ia menatap Bambang sambil menggeleng pelan.

“Jadi, selama orang tuamu bertengkar, kamu bukan menunggu mereka berdamai, tapi menunggu sepatumu lengkap?”

Bambang mengangguk mantap.

“Iya, Pak. Soalnya kalau saya berangkat cuma pakai sepatu sebelah, nanti saya tetap dihukum juga.”

Tawa teman-temannya semakin keras.

Guru menarik napas panjang. Ia ingin menasihati Bambang, tetapi susah menjaga wajah serius setelah mendengar jawaban sepolos itu.

“Lalu setelah itu bagaimana sepatumu bisa kamu pakai?” tanya guru.

Bambang menjawab dengan santai.

“Mak sama Bapak akhirnya sadar, Pak. Katanya, ‘Kasihan anak kita terlambat sekolah.’ Jadi sepatunya dikembalikan.”

Guru mengangguk pelan. “Bagus kalau begitu.”

Bambang menambahkan dengan wajah serius, “Tapi mereka masih berantem, Pak. Cuma sepatunya saja yang damai duluan.”

Kelas kembali tertawa.

Sejak hari itu, Bambang dikenal bukan sebagai murid yang malas bangun pagi, bukan pula anak yang sengaja datang terlambat. Ia dikenal sebagai murid yang terlambat karena sepatunya menjadi korban pertengkaran di rumah.

Dan bagi Bambang, hari pertama masuk sekolah memberikan pelajaran penting:

Sebelum berangkat, jangan hanya memastikan buku dan pensil sudah masuk tas. Pastikan juga sepatu kanan dan kiri tidak sedang disandera oleh orang tua.

Leave a Comment