Pagi itu, suasana kelas terasa cukup tenang.
Pak Komar sedang berdiri di depan papan tulis sambil menjelaskan pelajaran dengan penuh semangat. Di tangannya ada spidol, di wajahnya ada ekspresi serius, dan di papan tulis sudah tertulis banyak sekali catatan.
“Anak-anak, perhatikan baik-baik,” kata Pak Komar. “Pelajaran hari ini sangat penting.”
Murid-murid duduk rapi. Ada yang mencatat, ada yang mendengarkan, dan ada juga yang pura-pura menulis padahal sedang menggambar robot di pojok buku.
Pak Komar terus menjelaskan.
Namun, beberapa menit kemudian, wajahnya mulai berubah.
Ia berhenti sebentar.
Tangannya masih memegang spidol, tetapi matanya melirik ke arah pintu.
“Hmm…”
Murid-murid langsung memperhatikan.
“Kenapa, Pak?” tanya salah satu murid.
Pak Komar berdeham pelan.
“Tidak apa-apa. Bapak hanya perlu… keluar sebentar.”
“Ke kantor guru, Pak?”
Pak Komar mencoba tersenyum tenang.
“Kurang lebih begitu.”
Padahal, sebenarnya Pak Komar sudah sangat ingin pergi ke toilet.
Ia meletakkan spidol di meja, lalu berkata dengan suara dibuat berwibawa.
“Anak-anak, Bapak tinggal sebentar. Jangan ribut. Baca halaman berikutnya dan kerjakan soal nomor satu sampai tiga.”
“Baik, Pak!” jawab murid-murid serempak.
Pak Komar pun keluar kelas dengan langkah cepat, tetapi tetap berusaha terlihat santai.
Begitu sampai di toilet guru, ia langsung masuk dan mengunci pintu.
“Ah, lega,” gumamnya.
Beberapa menit kemudian, Pak Komar hendak keluar.
Ia memutar kunci.
Klik.
Tidak terbuka.
Ia memutar lagi.
Klik… klik…
Masih tidak terbuka.
Pak Komar mulai mengernyit.
“Lho?”
Ia mencoba sekali lagi, kali ini lebih kuat.
Krek.
Kunci itu macet.
Wajah Pak Komar langsung berubah tegang.
“Waduh…”
Ia menggoyang-goyangkan gagang pintu.
Klek-klek-klek!
Tetap tidak terbuka.
Pak Komar menarik napas panjang. Ia mencoba tetap tenang seperti sedang menghadapi soal ujian.
“Tenang, Komar. Ini cuma pintu. Bukan masalah besar.”
Ia memutar kunci lagi.
Tidak bergerak.
Ia menarik gagang pintu.
Tidak terbuka.
Ia mendorong pintu.
Tetap tidak terbuka.
Sekarang masalahnya mulai terasa besar.
Di dalam kelas, murid-murid mulai heran karena Pak Komar belum juga kembali. Lima menit berlalu. Sepuluh menit berlalu. Lima belas menit berlalu.
Salah satu murid bernama Beni menoleh ke temannya.
“Pak Komar lama sekali ya?”
“Mungkin soalnya sedang dibuat tambah sulit,” jawab temannya.
Tiba-tiba, dari arah luar kelas terdengar suara samar.
“Pssst! Anak-anak!”
Murid-murid saling menatap.
“Eh, ada suara.”
“Dari mana?”
“Kayaknya dari belakang sekolah.”
Beberapa murid berjalan ke arah jendela kelas dan melihat keluar. Di kejauhan, tepat di dekat toilet guru, tampak wajah Pak Komar muncul dari jendela kecil.
Wajahnya terlihat panik, tetapi ia berusaha tetap berwibawa.
“Beni! Sini sebentar!”
Beni terkejut.
“Pak? Bapak ngapain di jendela toilet?”
Pak Komar langsung menempelkan telunjuk ke bibir.
“Ssst! Jangan keras-keras.”
Namun, tentu saja sudah terlambat.
Seluruh kelas langsung menoleh.
Dalam hitungan detik, hampir semua murid berdiri di dekat jendela kelas, melihat Pak Komar yang sedang melambaikan tangan dari jendela toilet.
Pak Komar menutup mata sebentar.
Ini bukan bagian dari rencana mengajar hari itu.
“Anak-anak,” kata Pak Komar dengan suara pelan tapi jelas, “Bapak terkunci di dalam toilet.”
Beberapa murid langsung menahan tawa.
Ada yang menutup mulut.
Ada yang menunduk.
Ada juga yang pura-pura batuk.
“Jadi… Bapak minta tolong panggil penjaga sekolah.”
Beni mengangguk cepat.
“Baik, Pak!”
Tapi sebelum berlari, ia bertanya polos.
“Pak, ini termasuk materi pelajaran hari ini?”
Pak Komar menatap Beni dari balik jendela kecil.
“Beni…”
“Iya, Pak?”
“Sekarang bukan waktunya bertanya kreatif.”
Murid-murid tidak kuat lagi. Mereka tertawa kecil.
Beni segera berlari memanggil penjaga sekolah. Beberapa murid lain ikut membantu, sementara sebagian berdiri tidak jauh dari toilet, menunggu dengan wajah penuh rasa ingin tahu.
Pak Komar masih berada di balik jendela kecil. Ia mencoba bersikap tenang.
“Anak-anak, kembali ke kelas.”
“Iya, Pak,” jawab mereka.
Namun, tidak ada yang bergerak.
Pak Komar menghela napas.
Beberapa saat kemudian, penjaga sekolah datang membawa obeng, tang, dan wajah kebingungan.
“Pak Komar terkunci?”
Pak Komar menjawab dari dalam toilet.
“Iya, Pak. Kuncinya macet.”
Penjaga sekolah mencoba membuka pintu dari luar.
Krek.
Klik.
Klek-klek.
Murid-murid berdiri di belakangnya sambil menahan tawa.
“Pelan-pelan, Pak,” kata Pak Komar dari dalam. “Jangan sampai pintunya rusak.”
Salah satu murid berbisik, “Tapi Bapak sudah rusak wibawanya…”
Temannya langsung menutup mulutnya agar tidak tertawa keras.
Setelah beberapa kali dicoba, akhirnya terdengar suara keras.
KRAK!
Pintu toilet terbuka.
Pak Komar muncul dari balik pintu.
Wajahnya merah padam. Bajunya sedikit kusut. Rambutnya tidak serapi tadi. Ia berdiri di depan murid-murid dengan ekspresi antara malu, lega, dan ingin pura-pura tidak terjadi apa-apa.
Murid-murid menatapnya sebentar.
Hening.
Lalu…
Mereka tertawa terbahak-bahak.
“Hahaha!”
Pak Komar awalnya berusaha memasang wajah serius, tetapi akhirnya ikut tertawa juga.
“Sudah, sudah,” katanya sambil merapikan baju. “Tidak perlu tertawa terlalu lama. Bapak juga manusia.”
Beni mengangkat tangan.
“Pak, berarti pelajaran hari ini apa?”
Pak Komar menatap seluruh muridnya, lalu berkata dengan gaya seperti sedang menyampaikan kesimpulan penting di papan tulis.
“Pelajaran hari ini adalah…”
Murid-murid langsung diam, menunggu.
Pak Komar mengangkat telunjuk.
“Sebelum masuk toilet, selalu cek dulu apakah kuncinya bisa dibuka kembali.”
Murid-murid kembali tertawa.
Sejak hari itu, kejadian Pak Komar terkunci di toilet menjadi cerita paling terkenal di sekolah.
Setiap kali Pak Komar menulis materi penting di papan tulis, pasti ada saja murid yang berbisik, “Jangan lupa cek kunci, Pak.”
Pak Komar hanya tersenyum sambil menggeleng.
Ia memang malu hari itu.
Tapi ia juga tahu, terkadang pelajaran paling diingat murid bukan selalu berasal dari buku.
Kadang, pelajaran itu datang dari toilet guru yang kuncinya macet.




Leave a Comment