Sore itu, suasana kampung terasa ramai seperti biasa menjelang waktu Isya.
Anak-anak berlarian di gang kecil, ibu-ibu mulai menyiapkan takjil terakhir, sementara dari pengeras suara masjid terdengar lantunan ayat suci yang membuat suasana Ramadhan terasa semakin hangat.
Di ujung gang, Udin berjalan dengan langkah penuh percaya diri.
Ia memakai baju koko putih, sarung kotak-kotak, peci agak miring, dan wajah yang dibuat sesuci mungkin.
Sekilas, Udin terlihat seperti orang yang benar-benar siap mengejar pahala.
Tapi ada satu hal yang membuat penampilannya mencurigakan.
Di tangannya, ia menenteng sepasang sandal.
Bukan dipakai.
Bukan dimasukkan ke plastik.
Tapi ditenteng seperti barang bukti.
Dari arah warung, Idin melihat Udin lewat. Matanya langsung menyipit.
“Din!”
Udin berhenti.
“Apa?”
Idin menunjuk pakaian Udin dari atas sampai bawah.
“Mau ke mana kamu, Din? Rapi amat kayak mau dilantik jadi ketua remaja masjid.”
Udin membetulkan pecinya.
“Tarawih lah. Biar dapat pahala. Emang elu, kerjaannya nongkrong di warung terus.”
Idin tertawa kecil.
“Alah, bilang aja lu mau nyolong sandal.”
Udin langsung memasang wajah tersinggung.
“Eh, kalau ngomong mulut dijaga, ya. Ini bulan Ramadhan.”
Idin mengangkat kedua tangan.
“Iya, iya. Maaf.”
Udin menunjuk Idin dengan serius.
“Untung sekarang bulan puasa. Kalau bukan bulan puasa, sudah gua gambar muka lu pakai spidol permanen.”
Idin mengerutkan dahi.
“Lah, kirain mau dipukul.”
“Enggak. Dosa. Tapi kalau digambar kumis tipis-tipis mungkin masih bisa dibahas.”
Idin geleng-geleng kepala.
“Dasar lu.”
Udin kembali berjalan, tapi Idin masih memperhatikan sandal yang ada di tangan Udin.
Ia merasa ada yang tidak beres.
“Din…”
Udin berhenti lagi.
“Apa lagi?”
Idin menunjuk sandal itu.
“Kalau lu mau tarawih, kenapa sandal lu nggak dipakai?”
Udin melirik sandal di tangannya.
“Ini?”
“Iya, itu. Masa sandal dibawa kayak piala lomba?”
Udin langsung salah tingkah.
“Ya… ini biar aman.”
“Aman dari apa?”
“Dari orang yang suka salah pakai sandal.”
Idin menatap tajam.
“Salah pakai atau sengaja pakai?”
Udin berdeham pelan.
“Ya, pokoknya begitu.”
Idin mendekat, lalu memperhatikan sandal itu baik-baik.
“Din, ini sandal kayaknya bukan sandal lu.”
Udin langsung tertawa kecil.
“Hehehe… jangan suuzan dulu.”
“Jangan suuzan gimana? Kemarin sandal lu warna hitam. Ini warna cokelat.”
Udin mengangguk santai.
“Iya, namanya juga manusia harus berubah. Sandal juga begitu.”
Idin makin curiga.
“Terus kenapa ukurannya lebih besar?”
Udin menjawab cepat.
“Biar langkah menuju masjid lebih lapang.”
Idin menepuk jidat.
“Alasan lu makin lama makin religius tapi mencurigakan.”
Udin tersenyum polos.
“Kan bagus, mencurigakannya tetap bernuansa Ramadhan.”
Idin menghela napas.
“Din, jujur. Ini sandal siapa?”
Udin melihat kiri kanan. Setelah yakin tidak ada orang lain mendengar, ia mendekat ke Idin.
“Jangan keras-keras, ya.”
“Nah, kan. Mulai keluar pengakuan.”
Udin berbisik.
“Ini sandal yang kemarin.”
Idin menyipitkan mata.
“Kemarin kenapa?”
Udin tersenyum malu.
“Yang kemarin gua bawa pulang dari masjid.”
Idin langsung melotot.
“Astaghfirullah, Din!”
Udin cepat-cepat menutup mulut Idin.
“Pelan-pelan! Nanti pahala gua terganggu.”
“Pahala apaan?! Lu bawa pulang sandal orang!”
Udin membela diri.
“Bukan nyolong. Itu pertukaran tidak sengaja.”
“Tidak sengaja gimana?”
“Waktu pulang tarawih, sandal gua hilang. Terus yang tersisa cuma ini.”
Idin menunjuk sandal itu.
“Terus lu ambil?”
“Ya daripada pulang nyeker, nanti kaki gua masuk angin.”
Idin menatap Udin dengan wajah tidak percaya.
“Kaki mana ada masuk angin?”
“Ada. Kalau dia merasa tidak dihargai.”
Idin menggeleng kuat.
“Terus sekarang lu bawa sandal itu ke masjid buat apa?”
Udin tersenyum lebar.
“Nah, itu dia. Gua mau tuker.”
Idin mengerutkan dahi.
“Tuker sama pemiliknya?”
Udin diam sebentar.
“Kalau ketemu pemiliknya, iya.”
“Kalau nggak ketemu?”
Udin mengangkat sandal itu dengan santai.
“Ya gua cari ukuran yang pas.”
Idin langsung berteriak.
“Wooo dasar lu, Din!”
Udin buru-buru memberi isyarat diam.
“Ssst! Jangan keras-keras. Ini masih suasana Ramadhan.”
Idin menunjuk Udin sambil kesal.
“Lu itu bukan mau ibadah, Din. Lu mau upgrade sandal!”
Udin tersenyum malu-malu.
“Ya kan sambil tarawih. Sekali jalan, dua urusan.”
“Dua urusan apaan?”
“Cari pahala dan cari sandal yang tidak menyiksa jari.”
Idin menahan tawa sekaligus kesal.
“Din, dosa lu itu kalau dikumpulin bisa jadi rak sandal.”
Udin mengangkat telunjuk.
“Makanya gua ke masjid. Biar seimbang.”
Idin menarik napas panjang.
“Dengar ya, Din. Kalau lu mau tarawih, niatnya harus benar.”
Udin mengangguk.
“Benar.”
“Bukan karena sandal.”
“Iya.”
“Bukan karena mau tukar ukuran.”
“Iya.”
“Bukan karena mau lihat koleksi sandal jamaah.”
Udin terdiam.
Idin langsung menunjuk wajahnya.
“Nah! Kenapa diam?”
Udin tersenyum kecil.
“Soalnya yang itu agak berat gua jawab.”
Idin menepuk bahu Udin.
“Balikin sandal itu. Cari pemiliknya. Kalau sandal lu hilang, pulang nyeker saja.”
Udin menatap Idin dengan wajah sedih.
“Nyeker?”
“Iya.”
“Di jalan banyak kerikil, Din.”
“Biar jadi pengingat dosa.”
Udin menghela napas panjang.
Akhirnya, mereka berdua berjalan menuju masjid.
Idin berjalan di samping Udin untuk memastikan temannya itu tidak “khilaf” lagi.
Sesampainya di halaman masjid, Udin menaruh sandal cokelat itu di dekat pintu, lalu berdiri sambil memperhatikannya.
Idin menyipitkan mata.
“Kenapa masih dipandangi?”
Udin menjawab pelan.
“Perpisahan itu memang tidak mudah.”
Idin langsung menarik tangan Udin.
“Masuk!”
Setelah tarawih selesai, semua jamaah keluar satu per satu.
Udin berdiri di depan rak sandal dengan wajah tegang.
Idin mengawasi dari samping seperti petugas keamanan.
Tiba-tiba, seorang bapak-bapak mengambil sandal cokelat yang tadi dibawa Udin.
Udin langsung tersenyum lega.
“Tuh, pemiliknya ketemu.”
Idin ikut lega.
“Bagus. Berarti selesai.”
Namun beberapa detik kemudian, Udin melihat sandal hitam lamanya tergeletak di pojok, sudah lusuh, talinya hampir putus, dan ukurannya memang pas di kakinya.
Idin menunjuk sandal itu.
“Nah, itu sandal lu. Pakai.”
Udin menatap sandal itu dengan wajah kecewa.
“Yah…”
“Kenapa?”
“Kirain rezeki Ramadhan gua naik kelas.”
Idin langsung melotot.
“Din!”
Udin buru-buru memakai sandalnya.
“Iya, iya. Ampun.”
Mereka pun berjalan pulang.
Di tengah jalan, Udin bergumam pelan.
“Din…”
“Apa lagi?”
“Menurut lu, kalau sandal lama tapi niatnya diperbaiki, itu termasuk hijrah nggak?”
Idin menoleh tajam.
“Kalau lu yang ngomong, biasanya ujung-ujungnya minta sandal baru.”
Udin nyengir.
“Hehehe… pinjam duit dong buat beli sandal.”
Idin langsung mempercepat langkah.
“Wooo dasar lu, Din Din!”
Dan sejak malam itu, setiap kali Udin pergi tarawih, Idin selalu ikut.
Bukan karena ingin menambah pahala saja.
Tapi juga karena warga kampung mulai sepakat:
selama Ramadhan, sandal harus dijaga…
dan Udin harus diawasi.
Leave a Comment