Pagi itu, desa terlihat sangat tenang.
Matahari baru muncul dari balik bukit. Udara masih segar, ayam-ayam berkokok dari halaman rumah, dan beberapa warga mulai berjalan menuju sawah sambil membawa cangkul di pundak.
Di jalan tanah yang membelah desa, tampak Udin kecil berjalan pelan sambil menuntun seekor sapi betina besar.
Sapi itu berjalan santai sekali, seolah tidak punya beban hidup. Sementara Udin justru terlihat sibuk menahan tali dengan kedua tangannya.
Setiap kali sapi itu berhenti untuk mengunyah rumput di pinggir jalan, Udin ikut berhenti.
Setiap kali sapi itu melangkah ke kiri, Udin ikut tertarik ke kiri.
Setiap kali sapi itu melangkah ke kanan, Udin ikut terseret ke kanan.
“Pelan-pelan, Mbok Sapi,” kata Udin sambil ngos-ngosan. “Aku ini yang menuntun kamu, bukan kamu yang mengajak aku jalan-jalan.”
Sapi itu hanya mengibaskan ekornya.
Udin kembali menarik tali dengan wajah serius.
Hari itu, menurut Udin, ia sedang menjalankan tugas besar dari ayahnya. Bukan tugas mengambil air. Bukan tugas membeli gula ke warung. Bukan juga tugas menjaga adik.
Tugasnya adalah mengantar sapi betina ke kandang sapi jantan milik Pak Somad.
Bagi orang dewasa, itu mungkin urusan biasa.
Tapi bagi Udin, itu terasa seperti misi rahasia desa.
Beberapa warga yang melihatnya langsung tersenyum.
“Pagi-pagi sudah bawa sapi, Din?” tanya seorang ibu dari teras rumah.
“Iya, Bu,” jawab Udin bangga. “Ada urusan penting.”
“Urusan apa?”
Udin menoleh kanan kiri, lalu menjawab pelan, “Urusan keluarga sapi.”
Ibu itu langsung menahan tawa.
Udin terus berjalan melewati rumah-rumah warga. Wajahnya tetap serius. Langkahnya pendek-pendek, tetapi penuh keyakinan.
Tak jauh dari balai desa, Pak Lurah sedang berdiri sambil berbincang dengan beberapa warga.
Begitu melihat Udin menuntun sapi besar sendirian, Pak Lurah langsung menghentikan obrolannya.
“Lho, Udin!” panggil Pak Lurah.
Udin berhenti.
“Iya, Pak Lurah?”
Pak Lurah berjalan mendekat sambil memperhatikan sapi itu dari kepala sampai ekor.
“Kamu mau bawa sapi sebesar ini ke mana?”
Udin menjawab polos, “Ke kandang sapi jantan, Pak.”
Pak Lurah mengangkat alis.
“Ke kandang sapi jantan?”
“Iya, Pak.”
“Untuk apa?”
Udin menjawab dengan santai, “Biar sapi ini bisa punya anak.”
Warga yang berdiri di sekitar balai desa mulai saling pandang. Ada yang pura-pura batuk untuk menahan tawa.
Pak Lurah sendiri tampak sedikit terkejut. Ia memandangi Udin yang masih kecil, lalu memandangi sapi betina besar itu.
“Udin,” kata Pak Lurah dengan suara pelan, “kamu ini masih kecil. Urusan seperti itu sebaiknya orang dewasa yang mengurus.”
Udin mengangguk.
“Iya, Pak. Saya memang cuma mengantar.”
Pak Lurah merasa penjelasannya belum cukup.
“Maksud Bapak, bukankah sebaiknya ayahmu saja yang melakukan itu?”
Udin langsung diam.
Ia menatap Pak Lurah dengan wajah bingung.
Lalu ia menatap sapi betinanya.
Kemudian ia menatap jalan menuju kandang sapi jantan.
Setelah berpikir beberapa detik, Udin menggeleng pelan.
“Kayaknya jangan, Pak.”
Pak Lurah mengerutkan dahi.
“Kenapa?”
Udin menjawab dengan wajah sangat polos, “Kalau urusan supaya sapi ini punya anak, menurut saya lebih baik sapi jantan yang melakukannya.”
Suasana di depan balai desa langsung hening.
Satu detik.
Dua detik.
Tiga detik.
Lalu tawa warga pecah bersamaan.
Ada yang menutup mulut.
Ada yang membalik badan.
Ada juga yang tertawa sambil memegang perut.
Pak Lurah terdiam sambil menepuk jidatnya pelan.
“Udin… maksud Bapak bukan begitu.”
Udin justru semakin bingung.
“Lho, terus maksud Pak Lurah bagaimana?”
Pak Lurah menarik napas panjang. Ia ingin menjelaskan, tetapi melihat wajah polos Udin, ia malah kehabisan kata-kata.
Akhirnya Pak Lurah hanya berkata, “Sudahlah, Din. Hati-hati di jalan. Jangan sampai sapinya lepas.”
Udin mengangguk mantap.
“Siap, Pak Lurah. Tenang saja. Saya dan sapi ini sudah tahu tujuan.”
Ia kembali menarik tali sapi itu dan melanjutkan perjalanan.
Beberapa langkah kemudian, Udin berhenti sebentar, menoleh ke arah Pak Lurah, lalu berkata,
“Pak Lurah juga tenang saja. Ayah saya tidak akan saya libatkan dalam urusan ini.”
Warga kembali tertawa lebih keras.
Pak Lurah hanya bisa menggeleng sambil tersenyum.
Sementara itu, Udin berjalan semakin jauh bersama sapinya, merasa sangat bangga karena berhasil menjalankan tugas penting dengan penuh tanggung jawab.
Sejak hari itu, Pak Lurah belajar satu hal penting.
Kalau bertanya kepada Udin, kalimatnya harus jelas dari awal.
Karena di tangan Udin, pertanyaan sederhana bisa berubah menjadi jawaban yang membuat seluruh balai desa tertawa.







