Sudah menjadi rahasia umum, setiap musim kampanye tiba, janji-janji manis mulai bertebaran di mana-mana.
Ada calon yang berjanji membangun jalan.
Ada yang berjanji membangun sekolah.
Ada yang berjanji membuat rakyat sejahtera.
Ada juga yang berjanji akan selalu dekat dengan masyarakat, walaupun setelah terpilih, jangankan dekat, dicari lewat telepon saja susahnya seperti mencari jarum di tumpukan jerami.
Begitulah yang terjadi pada suatu hari ketika seorang calon legislatif datang berkampanye ke sebuah kampung adat di pinggir hutan.
Sebelum acara dimulai, tim suksesnya sudah sibuk mengatur semuanya.
Spanduk dipasang.
Kursi disusun.
Pengeras suara dites berkali-kali.
“Tes… tes… satu dua tiga… coblos nomor… eh, maksudnya selamat siang.”
Kepala suku diminta mengumpulkan seluruh warga di lapangan luas dekat hutan. Warga pun datang beramai-ramai.
Ada yang duduk di tanah, ada yang berdiri di bawah pohon, ada juga anak-anak yang berlarian sambil penasaran melihat rombongan kampanye.
Sang caleg naik ke panggung kecil dengan penuh percaya diri.
Bajunya rapi.
Senyumnya lebar.
Tangannya melambai ke segala arah, seolah-olah semua warga sudah pasti memilihnya.
“Saudara-saudara sekalian!” seru caleg itu dengan suara lantang.
Warga langsung memperhatikan.
Caleg itu makin semangat.
“Kalau saya terpilih nanti, saya akan memperhatikan kehidupan kalian semua!”
Warga diam.
Caleg itu merasa pidatonya kurang kuat. Ia pun menaikkan volume suaranya.
“Saya lihat kehidupan kalian masih sangat sederhana. Karena itu, kalau saya terpilih, saya akan memberi kalian pakaian yang bagus!”
Warga mulai saling pandang.
Caleg itu mengangkat tangan tinggi-tinggi.
“Kalian tidak akan kesulitan lagi! Kalian akan punya pakaian baru!”
Tiba-tiba, warga tertawa dan bersorak.
“Bora! Bora!”
Mendengar itu, mata sang caleg langsung berbinar.
Ia menoleh ke tim suksesnya sambil tersenyum bangga.
“Lihat? Mereka suka!”
Tim suksesnya langsung bertepuk tangan paling keras, walaupun sebenarnya mereka juga tidak tahu arti kata itu.
Caleg itu semakin percaya diri.
“Saudara-saudara! Bukan cuma pakaian!”
Warga mulai ramai lagi.
Caleg menunjuk ke arah hutan.
“Kalau saya terpilih, saya akan membangun jalan besar sampai ke kampung ini!”
Warga bersorak lebih keras.
“Bora! Bora! Bora!”
Caleg itu semakin berapi-api.
Ia merasa kata “bora” pasti berarti dukungan luar biasa.
Dalam hatinya ia berkata,
“Wah, ini suara rakyat. Ini tanda kemenangan.”
Ia pun melanjutkan pidatonya dengan semangat yang makin membara.
“Saya juga akan membangun gedung sekolah di sini!”
Warga tepuk tangan.
“Boraaa!”
“Anak-anak kalian harus pintar!”
“Boraaa!”
“Saya akan membangun rumah sakit!”
“Bora! Bora!”
“Kalau kalian sakit, kalian tidak perlu jauh-jauh lagi ke kota!”
“Boraaa!”
Caleg itu sudah hampir lupa diri karena terlalu senang.
Ia berjalan mondar-mandir di panggung kecil, tangannya bergerak ke kanan dan kiri, seperti orator besar yang sedang menyelamatkan negeri.
“Kalian adalah rakyat yang harus diperhatikan!”
“Bora!”
“Kalian adalah saudara saya!”
“Boraaa!”
“Saya janji, kalau saya terpilih, saya tidak akan pernah melupakan kalian!”
Warga semakin riuh.
“Bora! Bora! Boraaa!”
Caleg itu tersenyum lebar.
Kepalanya sedikit mendongak.
Dadanya membusung.
Ia merasa pidato itu adalah pidato terbaik sepanjang hidupnya.
Bahkan ia sempat membayangkan berita esok hari:
“Caleg Dicintai Warga Kampung Adat, Disambut Teriakan Bora.”
Setelah puas berpidato, ia menutup acara dengan suara menggelegar.
“Hidup rakyat!”
Warga menjawab,
“Bora!”
“Hidup pembangunan!”
“Boraaa!”
“Hidup perubahan!”
“Bora! Bora! Bora!”
Caleg turun dari panggung dengan wajah penuh kemenangan.
Ia melambaikan tangan ke warga.
Warga masih tertawa dan bersorak.
“Boraaa!”
Caleg semakin yakin bahwa dirinya sangat disukai.
Ia berjalan sambil tersenyum ke arah kepala suku.
“Luar biasa, Pak Kepala Suku. Saya tidak menyangka warga di sini begitu antusias.”
Kepala suku hanya tersenyum tipis.
Caleg itu masih melambaikan tangan.
“Dari tadi mereka meneriakkan ‘bora’. Pasti itu artinya dukungan, ya?”
Kepala suku tidak langsung menjawab.
Ia hanya menatap langkah kaki sang caleg.
Karena terlalu sibuk tersenyum dan melambai, sang caleg tidak sadar bahwa ia sedang berjalan melewati dekat kandang kerbau.
Satu langkah.
Dua langkah.
Lalu…
Clep.
Sepatu mengilap sang caleg masuk tepat ke tumpukan kotoran kerbau.
Seketika wajahnya berubah.
Senyumnya berhenti.
Tangannya turun pelan.
Tim suksesnya ikut membeku.
Caleg itu mengangkat kakinya perlahan.
Aroma tidak sedap langsung naik seperti kenyataan pahit setelah janji kampanye.
“Aduh! Ini apa?!” teriaknya panik.
Warga kembali tertawa.
“Boraaa! Boraaa!”
Caleg itu menoleh ke kepala suku dengan wajah bingung.
“Pak Kepala Suku, kenapa mereka malah teriak bora lagi?”
Kepala suku menggeleng pelan sambil menunjuk sepatu sang caleg.
“Itulah sebabnya dari tadi mereka tertawa.”
Caleg makin bingung.
“Maksudnya?”
Kepala suku berkata dengan tenang,
“Di sini, ‘bora’ artinya kotoran.”
Caleg terdiam.
Tim suksesnya terdiam.
Pengeras suara pun seperti ikut malu.
Kepala suku melanjutkan,
“Dan sekarang sepatu kamu kena bora kerbau.”
Warga langsung tertawa lebih keras.
“Bora! Bora! Boraaa!”
Caleg menatap sepatunya, lalu menatap warga, lalu menatap tim suksesnya.
Wajahnya merah menahan malu.
Ternyata, sejak awal, yang ia kira sorakan dukungan penuh semangat…
bukanlah tanda cinta rakyat.
Bukan pula tanda kemenangan.
Melainkan komentar warga terhadap janji-janji kampanyenya.
Kepala suku menepuk bahu sang caleg pelan.
“Lain kali, kalau mau janji, hati-hati.”
Caleg mengangguk lemas.
Kepala suku menambahkan,
“Karena di sini, warga kami sudah pintar membedakan mana janji…”
Ia menunjuk sepatu caleg.
“…dan mana bora.”
Sejak hari itu, sang caleg tidak pernah lagi terlalu percaya diri kalau mendengar warga bersorak.
Apalagi kalau sorakannya terdengar seperti dukungan.
Karena bisa jadi, rakyat tidak sedang memuji.
Rakyat hanya sedang memberi arti sebenarnya dari janji yang terlalu manis.







