Suatu pagi, suasana kelas di sebuah SD terasa cukup tenang.
Anak-anak duduk rapi di bangku masing-masing. Ada yang memperhatikan papan tulis, ada yang membuka buku pelajaran, dan ada juga yang diam-diam menggambar di bagian belakang buku catatan.
Di depan kelas, Pak Udin berdiri dengan penuh semangat.
Hari itu, beliau sedang mengajar pelajaran agama.
Topiknya sangat indah.
Tentang surga.
Pak Udin menjelaskan dengan suara lembut, tetapi penuh semangat.
“Anak-anak, surga itu tempat yang sangat indah. Di sana tidak ada kesedihan, tidak ada pertengkaran, dan semua orang hidup bahagia.”
Murid-murid mendengarkan dengan mata berbinar.
Ada yang membayangkan taman luas.
Ada yang membayangkan sungai jernih.
Ada juga yang membayangkan makanan enak tanpa harus bayar di kantin.
Pak Udin melanjutkan, “Di surga, semua kebaikan akan mendapatkan balasan. Karena itu, kita harus rajin beribadah, berbuat baik kepada orang tua, menghormati guru, dan menyayangi teman.”
Anak-anak mengangguk-angguk.
Setelah selesai menjelaskan, Pak Udin tersenyum.
“Nah, sekarang Bapak mau bertanya.”
Murid-murid langsung duduk lebih tegak.
Pak Udin bertanya dengan suara lantang,
“Anak-anak, siapa yang mau masuk surga?”
Seketika seluruh kelas menjadi ramai.
“Saya, Pak!”
“Saya mau!”
“Saya juga, Pak!”
Hampir semua murid mengangkat tangan tinggi-tinggi.
Bahkan ada yang mengangkat dua tangan sekaligus, supaya terlihat paling semangat.
Namun, di bangku belakang, ada satu murid yang tetap diam.
Namanya Ucok.
Ucok duduk santai sambil membolak-balik bukunya. Wajahnya tenang sekali, seolah-olah pertanyaan itu tidak ada hubungannya dengan dirinya.
Pak Udin melihat ke arah Ucok.
Ia sedikit heran.
Tapi Pak Udin belum langsung menegur. Ia mencoba bertanya sekali lagi.
“Baik, Bapak ulangi. Yang mau masuk surga, tunjukkan tangannya!”
Anak-anak kembali mengangkat tangan.
“Saya, Pak!”
“Saya!”
“Saya juga!”
Kelas semakin ramai.
Ada yang sampai berdiri setengah badan karena terlalu semangat.
Tapi Ucok tetap saja duduk diam.
Tangannya tidak naik.
Matanya masih melihat buku.
Pak Udin mulai penasaran.
“Hmm…” gumamnya pelan.
Lalu Pak Udin berkata lebih keras,
“Yang mau masuk surga, ayo berdiri!”
Mendengar itu, seluruh murid langsung berdiri serempak.
Kursi-kursi bergeser.
Meja sedikit bergetar.
Anak-anak berdiri sambil tersenyum bangga.
Tapi lagi-lagi, Ucok tetap duduk.
Ia malah mengambil pensil, lalu mencoret sesuatu di bukunya.
Pak Udin akhirnya berjalan menghampiri Ucok.
Langkahnya pelan, wajahnya penuh tanda tanya.
Anak-anak lain langsung menoleh ke belakang.
Mereka penasaran.
Pak Udin berdiri di samping meja Ucok.
“Ucok,” panggilnya.
Ucok mendongak.
“Iya, Pak?”
Pak Udin bertanya dengan lembut, “Kamu mau masuk surga atau tidak?”
Ucok menjawab cepat,
“Mau dong, Pak!”
Pak Udin mengernyit.
“Kalau mau, kenapa tadi tidak angkat tangan?”
Ucok diam sebentar.
Pak Udin melanjutkan, “Kenapa juga kamu tidak ikut berdiri seperti teman-temanmu?”
Seluruh kelas hening.
Semua menunggu jawaban Ucok.
Ucok menatap Pak Udin dengan wajah polos.
Lalu ia menjawab,
“Lha, memangnya kita mau berangkat sekarang, Pak?”
Seketika kelas menjadi hening selama beberapa detik.
Pak Udin terdiam.
Murid-murid saling pandang.
Lalu tawa pecah di seluruh kelas.
Ada yang tertawa sampai memegang perut.
Ada yang menepuk meja.
Ada juga yang berkata, “Benar juga, Cok!”
Pak Udin berusaha menahan tawa, tetapi akhirnya ikut tersenyum.
“Ucok, maksud Bapak bukan berangkat sekarang.”
Ucok menghela napas lega.
“Oh, syukurlah, Pak. Saya kira sudah mau berangkat rombongan.”
Kelas kembali tertawa.
Ucok melanjutkan dengan wajah serius,
“Soalnya saya belum pamit sama ibu, Pak. Bekal saya juga belum habis.”
Pak Udin geleng-geleng kepala sambil tersenyum.
“Dasar kamu, Cok. Bapak hanya bertanya siapa yang ingin masuk surga nanti, bukan sekarang.”
Ucok mengangguk.
“Kalau nanti, saya mau sekali, Pak. Tapi kalau sekarang, saya masih ada PR matematika yang belum selesai.”
Tawa anak-anak kembali pecah.
Pak Udin akhirnya kembali ke depan kelas sambil tersenyum.
“Baiklah, anak-anak. Hari ini kita belajar dua hal.”
Semua murid mulai tenang.
“Pertama, kita semua harus berusaha menjadi orang baik agar kelak bisa masuk surga.”
Anak-anak mengangguk.
“Dan kedua,” lanjut Pak Udin sambil melirik Ucok, “kalau Bapak bertanya, dengarkan dulu maksudnya baik-baik.”
Ucok mengangkat tangan.
“Pak, kalau nanti benar-benar berangkat, kabari sehari sebelumnya ya.”
“Untuk apa?” tanya Pak Udin.
Ucok menjawab polos,
“Supaya saya bisa menyelesaikan PR dulu, Pak.”
Satu kelas kembali tertawa.
Sejak hari itu, setiap kali Pak Udin bertanya, Ucok selalu memastikan dulu.
Apakah itu hanya pertanyaan pelajaran.
Atau benar-benar tanda mau berangkat.




Leave a Comment