Pagi itu, suasana kelas sedang ramai-ramainya.
Anak-anak baru saja selesai mencatat pelajaran. Ada yang meniup ujung pensilnya karena pegal menulis, ada yang merapikan buku dengan malas, dan ada juga yang diam-diam menggambar wajah temannya di pojok halaman.
Di depan kelas, Bu Guru berdiri sambil memegang penggaris kecil.
Wajahnya serius.
Terlalu serius.
Seolah-olah sebentar lagi akan ada pengumuman penting tingkat nasional.
“Anak-anak,” kata Bu Guru sambil mengetuk meja pelan, “hari ini Ibu mau menguji kecepatan berpikir kalian.”
Seketika kelas menjadi lebih tenang.
Ucok yang tadinya asyik menggambar dinosaurus memakai peci langsung menutup bukunya.
Rani langsung duduk tegak seperti peserta lomba cerdas cermat.
Afika hanya tersenyum santai sambil memutar pensil di tangannya.
Bu Guru melanjutkan, “Pertanyaannya mudah. Kalian harus menyebutkan sepuluh binatang buas dalam waktu lima detik.”
Kelas langsung gaduh.
“Lima detik, Bu?”
“Sepuluh binatang?”
“Bu, kalau otak saya lambat jaringan bagaimana?”
Bu Guru tersenyum kecil.
“Tidak ada alasan. Ini bukan ujian hafalan. Ini ujian kecepatan berpikir.”
Murid-murid mulai gelisah.
Ada yang pura-pura membaca buku.
Ada yang pura-pura batuk.
Ada juga yang menunduk sampai hampir masuk ke dalam tas.
Tapi mata Bu Guru sudah tertuju pada satu murid.
“Ucok.”
Ucok langsung terkejut.
“Eh, saya, Bu?”
“Iya, Ucok. Sebutkan sepuluh binatang buas. Waktunya mulai… sekarang!”
Ucok langsung panik.
“Singa! Harimau! Elang! Ular! Buaya! Komodo! Macan! Eee… eee… tunggu, Bu… badak marah… eh…”
“Stop!” kata Bu Guru.
Ucok langsung lemas di kursinya.
“Baru tujuh, Bu…”
“Delapan kalau ‘badak marah’ dihitung,” celetuk Rani dari depan.
Satu kelas tertawa.
Bu Guru menahan senyum.
“Ucok, lain kali jangan terlalu banyak eee.”
Ucok menggaruk kepala.
“Maaf, Bu. Binatangnya sudah ada di kepala, cuma antre keluar.”
Kelas kembali tertawa.
Bu Guru lalu menoleh ke arah Rani.
“Sekarang Rani.”
Rani langsung menegakkan badan.
“Siap, Bu. Saya sudah panas.”
“Ini bukan lomba lari, Rani.”
“Tapi jantung saya sudah lari duluan, Bu.”
Anak-anak tertawa lagi.
Bu Guru mengetuk meja.
“Sebutkan sepuluh binatang buas dalam lima detik. Mulai!”
Rani langsung menjawab cepat sekali.
“Ikan hiu! Piranha! Dinosaurus! Kucing garong! Keong racun! Nyamuk galak! Ayam tetangga! Bebek ngamuk! Kambing stres! Cicak jatuh dari plafon!”
Seluruh kelas meledak tertawa.
Ucok sampai memegang perutnya.
Bu Guru mengangkat alis.
“Rani… itu sebagian bukan binatang buas.”
Rani langsung membela diri.
“Bu, ayam tetangga itu buas sekali. Tiap saya lewat, dia ngejar seperti petugas keamanan.”
Kelas semakin ramai.
Rani belum selesai.
“Nyamuk juga buas, Bu. Dia kecil, tapi kalau menyerang malam-malam, satu rumah bisa kalah.”
Bu Guru menahan tawa.
“Kalau cicak jatuh dari plafon bagaimana?”
Rani menjawab serius.
“Itu bukan menyerang badan, Bu. Itu menyerang mental.”
Satu kelas tertawa makin keras.
Bu Guru akhirnya ikut tersenyum.
“Baiklah, jawabanmu kreatif, tapi belum tepat.”
Rani duduk dengan wajah bangga, seolah baru saja menemukan ilmu baru tentang dunia binatang.
Bu Guru lalu melihat ke arah Afika.
“Sekarang Afika.”
Afika yang sejak tadi tenang langsung tersenyum.
“Baik, Bu.”
Ucok berbisik dari belakang.
“Hati-hati, Fik. Lima detik itu cepat sekali. Lebih cepat dari uang jajan habis.”
Rani menambahkan, “Kalau bingung, sebut saja ayam tetangga. Itu sudah terbukti buas.”
Bu Guru mengetuk meja lagi.
“Afika, sebutkan sepuluh binatang buas dalam lima detik. Mulai!”
Tanpa panik.
Tanpa berpikir lama.
Tanpa menyebut “eee”.
Afika langsung menjawab,
“Lima ekor harimau dan lima ekor singa, Bu.”
Kelas langsung hening.
Ucok menoleh pelan.
Rani melongo.
Bu Guru diam sebentar.
Lalu Bu Guru tersenyum lebar.
“Benar. Nilai 100 untuk Afika.”
Satu kelas langsung ribut.
“Lho, kok bisa, Bu?”
“Itu kan cuma dua nama binatang!”
“Itu bukan sepuluh jenis, Bu!”
Bu Guru tertawa kecil.
“Ibu tidak bilang sepuluh jenis binatang buas. Ibu bilang sepuluh binatang buas. Lima harimau ditambah lima singa, jumlahnya sepuluh.”
Ucok langsung menepuk jidat.
“Aduh, kenapa saya tidak kepikiran begitu?”
Rani langsung berdiri.
“Bu, kalau begitu saya juga mau jawab ulang!”
Bu Guru menatapnya.
“Apa jawabanmu sekarang?”
Rani menjawab penuh percaya diri,
“Sepuluh ekor ayam tetangga yang belum sarapan!”
Satu kelas kembali tertawa.
Bu Guru hanya bisa geleng-geleng kepala.
“Rani, mulai besok ayam tetanggamu Ibu masukkan ke pelajaran IPA.”
Rani tersenyum puas.
“Setuju, Bu. Tapi tulisannya jangan ayam biasa. Tulis saja: ayam predator halaman rumah.”
Ucok ikut menimpali.
“Kalau begitu saya mau pindah rumah, Bu. Saya takut ayam itu naik kelas jadi harimau.”
Tawa anak-anak kembali pecah.
Bu Guru akhirnya menutup buku pelajaran sambil tersenyum.
“Baiklah, anak-anak. Hari ini kita belajar satu hal penting.”
Semua murid langsung diam.
“Kadang, jawaban pintar bukan hanya soal hafalan. Tapi juga soal memahami pertanyaan dengan cepat.”
Afika tersenyum bangga.
Ucok mengangguk sambil berjanji dalam hati akan lebih cepat berpikir.
Sementara Rani masih tetap yakin bahwa ayam tetangga adalah binatang paling buas di dunia.
Apalagi kalau belum sarapan.




Leave a Comment