Suatu pagi yang cerah, seorang ibu memutuskan untuk mengajari anak perempuannya memasak. Maklum saja, selama ini sang anak lebih sering menjadi “tim pencicip” daripada “tim dapur”.
Begitu mendengar akan diajari memasak, wajah anak itu langsung serius. Ia berdiri tegak di depan meja dapur, seolah-olah sebentar lagi akan mengikuti ujian praktik menjadi koki terkenal.
Di atas meja, sang ibu sudah menyiapkan semuanya: bumbu halus, santan di dalam panci, minyak goreng, penggorengan, dan beberapa bahan lainnya. Dapur yang biasanya tenang pagi itu berubah seperti ruang kelas memasak.
“Nak, hari ini Ibu ajari kamu memasak, ya,” kata sang ibu dengan lembut.
“Iya, Bu. Aku siap!” jawab anaknya penuh semangat sambil menggulung lengan baju.
“Bagus. Sekarang, siapkan penggorengan di atas kompor dulu.”
Tanpa banyak tanya, anak itu mengambil penggorengan dan meletakkannya di atas kompor.
“Sudah, Bu. Terus apa lagi?”
“Tuang minyak goreng tiga sendok makan saja. Setelah itu nyalakan kompornya, lalu tunggu sampai minyaknya panas.”
Anak itu mengangguk. Ia menuang minyak dengan sangat hati-hati, seakan-akan satu tetes minyak saja bisa menentukan masa depannya di dunia kuliner. Setelah kompor dinyalakan, ia menatap penggorengan itu dengan penuh konsentrasi.
Beberapa saat kemudian, ia berkata, “Bu, kayaknya minyaknya sudah panas.”
“Bagus. Sekarang masukkan bumbu yang sudah Ibu siapkan ke dalam penggorengan. Aduk pelan-pelan, tunggu sampai aromanya harum.”
Anak itu memasukkan bumbu ke dalam penggorengan. Begitu bumbu menyentuh minyak panas, terdengarlah suara “cessss!” yang membuatnya sedikit terkejut.
“Wah, Bu! Bumbunya marah!” katanya spontan.
Sang ibu tertawa kecil. “Bukan marah, Nak. Memang begitu kalau bumbu ditumis.”
Anak itu pun mulai mengaduk pelan-pelan. Tak lama kemudian, aroma harum memenuhi dapur. Wajahnya berubah bangga, seperti baru saja berhasil menyelesaikan misi penting.
“Bu, ini sudah harum sekali!”
“Nah, sekarang masukkan santan yang ada di panci itu pelan-pelan. Jangan sampai tumpah. Setelah itu tunggu sampai santannya mendidih.”
Dengan penuh kehati-hatian, anak itu menuangkan santan ke dalam penggorengan. Ia mengaduknya perlahan sambil sesekali melirik ibunya, memastikan semua gerakannya benar.
Beberapa menit kemudian, santan mulai mendidih. Gelembung-gelembung kecil muncul di permukaannya.
“Bu, santannya sudah mendidih. Terus diapain lagi?” tanya anak itu.
Sang ibu yang sedang sibuk mengambil bahan lain menjawab dari belakang, “Oke, sekarang berikan salam dua kali.”
Mendengar perintah itu, sang anak langsung berhenti mengaduk. Ia menatap penggorengan sebentar, lalu mendekatkan wajahnya ke arah santan yang sedang mendidih. Dengan suara sopan dan penuh kesungguhan, ia berkata,
“Assalamualaikum…”
Ia diam sejenak, lalu mengulanginya sekali lagi.
“Assalamualaikum…”
Sang ibu yang mendengar itu langsung menoleh. Matanya membesar. Beberapa detik kemudian, ia tertawa sampai hampir menjatuhkan sendok.
“Ya ampun, Nak! Maksud Ibu bukan salam yang diucapkan!”
Anak itu menoleh dengan wajah polos. “Lho, terus salam yang mana, Bu?”
Sang ibu masih tertawa sambil menunjuk ke meja. “Maksud Ibu, daun salam dua lembar dimasukkan ke dalam masakan!”
Anak itu terdiam. Wajahnya memerah karena malu. Namun tak lama kemudian, ia ikut tertawa.
“Aduh, Ibu sih bilangnya berikan salam dua kali. Aku kira santannya harus disapa dulu biar sopan sebelum dimasak.”
Sejak hari itu, setiap kali ibunya memasak dan menyebut kata “salam”, anak itu selalu bertanya lebih dulu,
“Bu, ini salam yang diucapkan atau salam yang dimasukkan?”
Dan sejak saat itu pula, sang ibu belajar satu hal penting: kalau mengajari anak memasak, jangan hanya resepnya yang jelas, bahasanya juga harus jelas.






Leave a Comment