Sore itu, Aldi duduk di ruang makan dengan wajah penuh perjuangan.
Sejak siang, ia sudah berusaha keras menahan lapar. Bukan lapar biasa, tapi lapar yang membuat jam dinding terasa seperti musuh pribadi.
Setiap lima menit, Aldi melihat jam.
Jam tiga sore, ia masih kuat.
Jam empat sore, ia mulai gelisah.
Jam lima sore, ia sudah duduk menghadap meja makan seperti peserta lomba makan yang tinggal menunggu aba-aba.
Di meja, ibunya sudah menyiapkan makanan berbuka.
Ada nasi putih hangat.
Ada es teh manis.
Ada kolak pisang.
Ada sambal.
Dan yang paling membuat hati Aldi bergetar adalah ayam goreng.
Ayam goreng itu terletak di piring paling depan, berwarna keemasan, renyah, dan terlihat seperti sedang memanggil-manggil namanya.
“Aldi…”
Aldi menatap ayam itu lama sekali.
Dalam hatinya ia berkata,
“Sabar. Sebentar lagi kita bersatu.”
Ibunya yang melihat tingkah Aldi hanya geleng-geleng kepala.
“Jangan dipandangi terus, Nak. Nanti ayamnya takut.”
Aldi menghela napas.
“Bu, ayam itu tidak takut. Justru dia tahu aku sedang menunggu takdir.”
Ibunya tertawa kecil.
“Takdir apa?”
“Takdir untuk memakannya saat magrib.”
Aldi sudah menyiapkan semua strategi.
Sendok ada di tangan kanan.
Gelas sudah dekat.
Piring sudah siap.
Bahkan posisi duduknya sudah diatur agar begitu azan terdengar, ia bisa langsung bergerak tanpa membuang waktu.
Ia menatap jam dinding.
“Bu, masih berapa menit?”
Ibunya menjawab dari dapur,
“Sebentar lagi.”
Aldi mengangguk serius.
“Sebentar lagi itu lama sekali kalau perut sudah rapat umum, Bu.”
Ibunya tersenyum.
“Sabar. Puasa itu melatih kesabaran.”
Aldi menatap ayam goreng.
“Iya, Bu. Tapi ayam goreng ini melatih keimanan.”
Beberapa menit kemudian, dari televisi di ruang tengah terdengar suara azan.
“Allahu Akbar… Allahu Akbar…”
Mata Aldi langsung membesar.
Wajahnya yang tadinya lemas mendadak bersinar.
Ia berdiri cepat.
“Alhamdulillah!”
Dengan gerakan kilat, Aldi menarik piring ke dekatnya. Tangannya langsung mengambil ayam goreng paling besar.
Ia sudah siap menggigit.
Matanya berkaca-kaca bahagia.
Akhirnya, setelah perjuangan panjang, penantian itu tiba.
Namun sebelum ayam itu sampai ke mulutnya, suara ibunya terdengar keras dari dapur.
“Tunggu!”
Aldi membeku.
Ayam goreng berhenti tepat di depan mulutnya.
Tangannya gemetar.
“Kenapa, Bu?”
Ibunya keluar dari dapur sambil menunjuk televisi.
“Itu azan dari TV, belum dari masjid!”
Aldi terdiam.
Sangat terdiam.
Dunia seperti berhenti berputar.
Ayam goreng yang sudah hampir masuk ke mulutnya kini harus turun kembali ke piring dengan penuh kehormatan.
Aldi menatap ayam itu seperti menatap sahabat yang harus berpisah di stasiun.
“Jadi… belum boleh?”
Ibunya menggeleng.
“Belum.”
“Tapi azannya sudah jelas, Bu.”
“Itu siaran dari daerah lain. Di sini belum magrib.”
Aldi duduk pelan-pelan.
Tubuhnya langsung lemas.
Ia menaruh ayam goreng itu kembali ke piring seperti mengembalikan barang berharga ke museum.
Lalu ia menatap ayam itu dengan penuh duka.
“Maafkan aku. Aku kira kita sudah waktunya bersama.”
Ibunya menahan tawa.
“Aldi, jangan lebay.”
Aldi menatap langit-langit rumah.
“Ya Allah… kenapa ujian di bulan Ramadan ini makin berat?”
Ibunya tersenyum.
“Ujiannya cuma nunggu beberapa menit lagi.”
“Bagi Ibu beberapa menit. Bagi Aldi ini seperti tambahan episode sinetron.”
Ibunya duduk di dekat Aldi.
“Sabar sedikit lagi.”
Aldi mengangguk pelan, tapi matanya tetap tidak lepas dari ayam goreng.
“Bu…”
“Apa?”
“Kalau ayamnya sudah sempat Aldi pegang, berarti sudah termasuk takdir Aldi, kan?”
Ibunya menatapnya datar.
“Belum. Itu baru godaan.”
Aldi menghela napas.
“Godaan ini renyah sekali, Bu.”
Tidak lama kemudian, terdengar suara azan dari masjid dekat rumah.
“Allahu Akbar… Allahu Akbar…”
Aldi langsung menatap ibunya.
Ibunya tersenyum.
“Nah, sekarang boleh.”
Aldi tidak langsung bergerak.
Ibunya heran.
“Lho, kok diam?”
Aldi mengambil ayam goreng itu pelan-pelan dengan wajah serius.
“Biar lebih khusyuk, Bu. Tadi hampir kehilangan dia.”
Ibunya tertawa.
Aldi membaca doa dengan cepat tapi tetap jelas, lalu menggigit ayam goreng itu dengan penuh kebahagiaan.
Kriuk.
Matanya langsung terpejam.
“Masya Allah…”
Ibunya tersenyum.
“Enak?”
Aldi mengangguk.
“Enak sekali, Bu. Rasanya seperti hadiah setelah melewati ujian nasional perut.”
Ayahnya yang baru datang dari masjid ikut tertawa.
“Kenapa ini ramai sekali?”
Ibu menjawab,
“Anakmu tadi hampir buka karena azan dari TV.”
Ayahnya menatap Aldi.
“Lho, kamu tidak dengar dari masjid dulu?”
Aldi menjawab sambil mengunyah,
“Dengar, Yah. Tapi TV lebih cepat memberi harapan.”
Ayahnya tertawa keras.
Sejak hari itu, Aldi punya aturan baru saat menunggu berbuka.
Ia tidak lagi duduk terlalu dekat dengan televisi.
Setiap azan terdengar, ia langsung bertanya,
“Bu, ini azan resmi atau azan latihan?”
Ibunya hanya geleng-geleng sambil tersenyum.
Karena bagi Aldi, pelajaran Ramadan hari itu sangat jelas:
jangan terlalu percaya pada azan dari TV…
apalagi kalau ayam goreng sudah berada di tangan.






