Bulan Ramadhan tahun itu menjadi bulan yang sangat penting bagi Didi.
Kenapa?
Karena untuk pertama kalinya, Didi bertekad ingin puasa penuh.
Bukan setengah hari.
Bukan sampai jam sepuluh.
Bukan juga sampai perut berbunyi.
Tapi benar-benar sampai magrib.
Sejak malam pertama, Didi sudah memasang wajah serius. Ia duduk di meja makan saat sahur dengan penuh semangat.
Di depannya ada nasi, telur dadar, ayam goreng, sayur, dan segelas susu.
Ibunya tersenyum melihat Didi makan dengan lahap.
“Pelan-pelan, Nak. Jangan terburu-buru.”
Didi menggeleng sambil terus mengunyah.
“Tidak bisa, Bu. Ini persiapan perang.”
Ibunya mengerutkan dahi.
“Perang apa?”
“Perang melawan lapar.”
Ayahnya yang sedang minum teh hampir tersedak.
“Wah, serius sekali kamu.”
Didi mengangguk mantap.
“Tahun ini Didi harus kuat. Didi mau puasa sampai magrib.”
Ibunya tersenyum bangga.
“Bagus. Tapi jangan cuma semangat di awal. Puasa itu butuh sabar.”
Didi menepuk dadanya.
“Tenang, Bu. Didi sudah siap.”
Setelah imsak, Didi masih terlihat percaya diri. Ia berjalan ke kamar sambil berkata,
“Mulai sekarang, Didi resmi menjadi pejuang puasa.”
Ibunya hanya geleng-geleng sambil tersenyum.
Pagi harinya, Didi masih kuat.
Jam tujuh, ia bermain sebentar di teras.
Jam delapan, ia membaca buku.
Jam sembilan, ia mulai melihat jam dinding.
Jam sepuluh, ia bertanya kepada ibunya,
“Bu, magrib masih lama?”
Ibunya menjawab santai,
“Masih lama, Nak.”
Didi mengangguk pelan.
“Berarti jamnya yang rusak.”
Ibunya menahan tawa.
“Jamnya tidak rusak.”
“Tapi dari tadi jarumnya lambat sekali.”
“Itu karena kamu lapar.”
Didi menarik napas panjang.
“Lapar ini ternyata punya kekuatan memperlambat waktu, Bu.”
Ibunya tersenyum.
“Makanya sabar.”
Didi mencoba bertahan.
Ia duduk di ruang tamu.
Tapi semakin lama, pikirannya mulai dipenuhi makanan.
Bantal sofa terlihat seperti roti.
Remote TV terlihat seperti cokelat.
Bahkan sandal ayahnya hampir terlihat seperti perkedel.
Didi menggeleng cepat.
“Tidak. Aku harus kuat.”
Namun ujian terbesar datang ketika ibunya masuk ke dapur.
Aroma masakan langsung menyebar ke seluruh rumah.
Didi yang sedang duduk langsung menoleh.
Hidungnya bergerak-gerak.
“Bu…”
“Iya?”
“Ibu masak apa?”
“Sayur sop.”
Didi menelan ludah.
“Sama apa?”
“Ayam goreng.”
Didi memejamkan mata.
“Ya Allah… cobaan datang dengan tepung renyah.”
Ibunya tertawa kecil.
“Jangan dipikirkan terus.”
“Gimana tidak dipikirkan, Bu? Aromanya masuk ke hidung tanpa izin.”
Ibunya tetap menyuruh Didi bersabar.
Didi pun mencoba tidur.
Katanya, kalau tidur, waktu akan terasa cepat.
Tapi baru lima menit memejamkan mata, ia membuka lagi.
“Bu…”
“Apa lagi, Nak?”
“Kalau tidur tapi mimpi makan, puasanya batal tidak?”
“Tidak.”
Didi tampak lega.
“Alhamdulillah. Berarti aku mau tidur sambil mimpi nasi padang.”
Namun tidur pun gagal.
Perutnya berbunyi.
Kruyuk…
Didi menatap perutnya.
“Diam dulu. Kita sedang ibadah.”
Perutnya berbunyi lagi.
Kruyuk…
Didi menghela napas.
“Jangan provokasi.”
Akhirnya, waktu menunjukkan pukul dua belas siang.
Didi berjalan pelan ke dapur dengan wajah lemas.
Ibunya sedang menyiapkan makanan untuk berbuka nanti.
Didi berdiri di dekat pintu dapur.
“Bu…”
Ibunya menoleh.
“Iya, Didi?”
Didi memegang perutnya.
“Aku mau bicara serius.”
Ibunya mulai curiga.
“Serius bagaimana?”
Didi menarik napas panjang.
“Bu, aku buka dulu, ya.”
Ibunya langsung menatapnya.
“Buka?”
“Iya.”
“Sekarang?”
Didi mengangguk.
“Sekarang jam dua belas. Nanti sore aku lanjut lagi.”
Ibunya mengerutkan dahi.
“Lanjut lagi?”
“Iya, Bu. Jadi setengah hari pertama aku puasa, terus aku isi tenaga sebentar, nanti setengah hari kedua aku puasa lagi. Kalau digabung, kan jadi satu hari penuh.”
Ibunya terdiam.
Sangat terdiam.
Sendok di tangannya bahkan seperti ikut berpikir.
“Didi…”
“Iya, Bu?”
“Puasa itu dari subuh sampai magrib.”
“Iya, Bu. Tapi ini Didi bikin sistem baru.”
“Sistem apa?”
“Sistem cicilan.”
Ibunya menepuk jidat.
“Nak, ini puasa, bukan cicilan motor.”
Didi langsung diam.
Ibunya melanjutkan,
“Puasa tidak bisa dipotong-potong. Tidak bisa buka tengah hari, lalu lanjut lagi sore.”
Didi tampak kecewa.
“Berarti tidak bisa kredit puasa?”
“Tidak bisa.”
“Tidak bisa bayar dua kali?”
“Tidak.”
“Tidak bisa DP dulu sampai jam dua belas?”
Ibunya menahan tawa.
“Tidak bisa, Didi.”
Didi menghela napas panjang.
“Padahal sistemnya bagus, Bu. Ringan di perut, ringan di hati.”
Ibunya menggeleng.
“Yang namanya belajar puasa memang berat. Tapi kalau belum kuat, tidak apa-apa. Kamu masih belajar. Besok coba lagi lebih baik.”
Didi menunduk.
“Jadi aku gagal, Bu?”
Ibunya tersenyum lembut.
“Bukan gagal. Kamu sedang belajar. Tapi jangan cari alasan yang aneh-aneh.”
Didi mengangguk pelan.
Namun beberapa detik kemudian, ia bertanya lagi,
“Bu…”
“Apa?”
“Kalau aku buka sekarang, nanti tetap dapat pahala setengah hari tidak?”
Ibunya menjawab,
“Insya Allah dapat pahala karena sudah berusaha.”
Mata Didi langsung berbinar.
“Alhamdulillah!”
“Tapi besok harus coba lebih kuat.”
“Iya, Bu.”
Ibunya mengambil segelas air.
“Nih, kalau memang sudah tidak kuat, minum dulu.”
Didi menerima gelas itu dengan wajah lega.
Sebelum minum, ia membaca doa dengan sangat khusyuk.
Setelah minum, wajahnya langsung segar.
“Wah…”
Ibunya tersenyum.
“Segar?”
Didi mengangguk.
“Segar sekali, Bu. Air putih ini rasanya seperti es kelapa naik pangkat.”
Ibunya tertawa kecil.
Setelah itu, Didi makan sedikit. Ia tampak bahagia, tetapi juga malu.
Sore harinya, ketika ayahnya pulang kerja, Didi langsung duduk dengan wajah serius.
Ayahnya bertanya,
“Gimana puasa hari ini? Kuat sampai magrib?”
Didi menunduk.
“Sampai jam dua belas, Yah.”
Ayahnya tersenyum.
“Tidak apa-apa. Namanya juga belajar.”
Didi langsung menambahkan,
“Tapi tadi aku sempat usul ke Ibu.”
“Usul apa?”
“Puasa dicicil.”
Ayahnya berhenti melepas sandal.
“Dicicil?”
“Iya. Setengah hari pagi, setengah hari sore.”
Ayahnya tertawa.
“Lalu Ibu bilang apa?”
Didi menjawab pelan,
“Ibu bilang puasa bukan cicilan motor.”
Ayahnya tertawa semakin keras.
“Benar itu.”
Didi menghela napas.
“Padahal kalau bisa dicicil, banyak anak kecil pasti semangat.”
Ayahnya duduk di samping Didi.
“Nak, justru karena tidak bisa dicicil, puasa mengajarkan sabar.”
Didi mengangguk-angguk.
“Sabar itu berat ya, Yah.”
“Iya. Tapi kalau dilatih, nanti kamu bisa.”
Didi berpikir sebentar.
“Berarti besok aku coba sampai jam satu.”
Ibunya yang mendengar dari dapur langsung menoleh.
“Didi…”
Didi cepat-cepat memperbaiki ucapan.
“Maksudku, sampai magrib. Tapi kalau belum kuat, minimal lebih baik dari hari ini.”
Ibunya tersenyum.
“Nah, begitu.”
Keesokan harinya, Didi kembali sahur dengan semangat.
Ia makan cukup, minum cukup, lalu berkata,
“Hari ini Didi tidak pakai sistem cicilan.”
Ibunya tersenyum.
“Bagus.”
Didi mengangkat telunjuk.
“Hari ini pakai sistem perjuangan.”
Ayahnya tertawa.
“Semangat!”
Walaupun hari itu Didi masih belum berhasil sampai magrib, ia bisa bertahan lebih lama dari sebelumnya.
Dan setiap kali perutnya berbunyi, ia menepuk perutnya pelan sambil berkata,
“Sabar. Kita bukan kredit motor. Kita sedang belajar puasa.”
Sejak saat itu, keluarga Didi punya candaan baru setiap Ramadhan.
Kalau ada yang mengeluh lapar sebelum magrib, Ibu langsung berkata,
“Jangan coba-coba buka tengah hari lalu lanjut sore.”
Dan Didi akan menyambung sambil tertawa,
“Karena puasa itu ibadah, bukan cicilan motor.”






