Siang itu, suasana rumah terasa tenang.
Ibu sedang duduk di ruang tamu sambil melipat pakaian. Di luar, matahari bersinar cukup terik, membuat siapa pun yang sedang berpuasa merasa jam dinding seperti berjalan lebih lambat dari biasanya.
Anaknya, Dika, masuk dari arah dapur dengan wajah aneh.
Matanya merah.
Hidungnya sedikit berair.
Bibirnya maju mundur seperti orang baru saja mengalami peristiwa besar.
Ibu langsung menoleh.
“Lho, Dika? Kenapa mukamu begitu?”
Dika tidak langsung menjawab.
Ia berdiri di dekat pintu sambil memegang dadanya, seolah sedang menahan sesuatu.
“Mah…”
“Iya, Nak?”
Dika bertanya dengan suara pelan,
“Kalau lagi puasa terus keluar air mata, batal nggak, Mah?”
Ibu tersenyum lembut.
“Nggak batal, Nak.”
Mata Dika langsung berbinar.
“Bener, Mah?”
“Iya. Kalau keluar air mata karena menangis, karena kelilipan, atau karena sedih, puasanya tetap tidak batal.”
Dika langsung mengangkat kedua tangannya.
“Alhamdulillah!”
Ibu tersenyum melihat anaknya.
“Kenapa? Kamu menangis?”
Dika menggeleng cepat.
“Nggak, Mah.”
“Kamu sedih?”
“Nggak juga.”
“Dimarahi teman?”
“Enggak.”
“Mainanmu rusak?”
“Bukan, Mah.”
Ibu mulai curiga.
“Terus kenapa sampai keluar air mata?”
Dika diam sebentar.
Lalu menjawab dengan wajah polos,
“Tadi habis makan rujak, Mah.”
Ibu langsung berhenti melipat baju.
Tangannya menggantung di udara.
“Makan apa?”
“Rujak.”
Ibu menatap Dika lama sekali.
“Dika…”
“Iya, Mah?”
“Kamu lagi puasa, kan?”
Dika mengangguk pelan.
“Iya, Mah.”
“Terus kenapa kamu makan rujak?”
Dika menggaruk kepala.
“Soalnya pedas banget, Mah. Sampai keluar air mata.”
Ibu memejamkan mata sambil menarik napas panjang.
“Nak, yang Mamah tanya bukan kenapa keluar air mata.”
“Terus?”
“Kenapa kamu makan rujak saat puasa?”
Dika terdiam.
Ia tampak berpikir keras, seperti sedang mencari jawaban yang bisa menyelamatkan dirinya dari sidang keluarga.
Akhirnya ia berkata,
“Dika cuma mau memastikan, Mah.”
“Memastikan apa?”
“Memastikan kalau air mata nggak bikin batal.”
Ibu menepuk jidat.
“Ya Allah… anak ini!”
Dika cepat-cepat membela diri.
“Tapi kan tadi Mamah bilang air mata nggak batal.”
“Iya, air mata tidak batal.”
“Nah!”
“Tapi rujaknya yang bikin batal!”
Dika langsung diam.
Wajahnya berubah dari lega menjadi panik.
“Jadi… batal, Mah?”
Ibu menatapnya datar.
“Menurut kamu?”
Dika menunduk.
“Kayaknya… rujaknya salah.”
“Bukan rujaknya yang salah. Kamu yang makan!”
Dika mengangguk pelan.
“Iya juga, Mah.”
Ibu menyipitkan mata.
“Kamu makan rujak di mana?”
“Di rumah Rian.”
“Banyak?”
Dika menggeleng.
“Nggak banyak, Mah.”
“Berapa?”
“Cuma sedikit.”
“Sedikit itu berapa?”
Dika mulai berhitung dengan jari.
“Satu potong mangga, dua potong timun, tiga potong bengkuang…”
Ibu langsung memotong.
“Itu namanya sudah sepiring, Dika!”
Dika tersenyum malu.
“Tapi sambalnya cuma nempel-nempel, Mah.”
“Nempel di mana?”
“Di semua buah.”
Ibu menarik napas lebih panjang.
“Dika, kalau kamu puasa, kamu harus menahan makan dan minum dari subuh sampai magrib.”
Dika mengangguk.
“Iya, Mah. Dika tahu.”
“Kalau tahu, kenapa makan?”
Dika menjawab polos,
“Karena Dika kira kalau makannya sambil menangis, yang dihitung cuma air matanya.”
Ibu langsung memegang kepala.
“Ya ampun…”
Dika mendekat pelan.
“Mah…”
“Apa lagi?”
“Kalau puasanya batal, berarti Dika boleh lanjut makan nggak?”
Ibu langsung melotot.
“Dika!”
Dika mundur satu langkah.
“Iya, iya. Dika bercanda.”
Ibu menunjuk kursi.
“Duduk di situ.”
Dika duduk dengan patuh.
Ibu mengambil ponsel dari meja.
Dika langsung panik.
“Mah, Mamah mau ngapain?”
“Mamah mau bilang ke Papah.”
Dika berdiri cepat.
“Jangan, Mah!”
“Kenapa?”
“Nanti Papah ceramah.”
“Memang harus diceramahi.”
“Tapi kalau Papah ceramah, panjang banget. Bisa-bisa magrib duluan baru selesai.”
Ibu menahan tawa, tapi tetap memasang wajah tegas.
“Biar kamu ingat.”
Dika menunduk.
“Iya, Mah. Dika salah.”
Ibu akhirnya meletakkan ponselnya.
“Besok jangan diulangi lagi.”
Dika langsung mengangguk cepat.
“Janji, Mah.”
“Puasa itu bukan cuma menahan lapar dan haus. Tapi juga menahan godaan.”
Dika mengangguk lagi.
“Iya, Mah.”
“Termasuk godaan rujak.”
Dika menatap ibunya dengan wajah serius.
“Mah…”
“Apa?”
“Kalau godaannya rujak mangga muda, itu berat banget.”
Ibu langsung menunjuknya.
“Makanya pahalanya besar kalau kamu bisa menahan.”
Dika berpikir sebentar.
“Kalau begitu, besok Dika jangan main ke rumah Rian dulu.”
“Bagus.”
“Soalnya di rumah Rian ada rujak.”
“Nah, pintar.”
“Dan ada es kelapa juga.”
Ibu menatap tajam.
“Dika…”
“Iya, Mah. Dika makin yakin tidak ke sana.”
Ibu akhirnya tersenyum kecil.
Sore harinya, ketika Papah pulang kerja, Ibu tetap menceritakan kejadian itu.
Papah menatap Dika sambil menahan tawa.
“Jadi kamu tanya air mata batal atau tidak karena habis makan rujak?”
Dika mengangguk malu.
“Iya, Pah.”
Papah menggeleng.
“Hebat kamu. Yang menangis bukan karena sedih, tapi karena sambal.”
Dika menunduk.
Papah lalu berkata,
“Besok kalau puasa, jangan cari rujak lagi.”
Dika mengangguk.
“Siap, Pah.”
“Kalau keluar air mata karena menahan lapar, tidak apa-apa.”
“Iya, Pah.”
“Tapi kalau keluar air mata karena sambal rujak…”
Dika langsung menyambung pelan,
“…berarti sudah ketahuan batal.”
Papah dan Ibu tertawa.
Sejak hari itu, setiap kali bulan puasa tiba, Ibu selalu mengingatkan Dika,
“Nak, air mata memang tidak membatalkan puasa.”
Dika langsung menjawab,
“Tapi rujak pedas membatalkan masa depan buka puasa.”
Ibu tersenyum sambil menggeleng.
Karena bagi Dika, pelajaran hari itu sangat jelas:
yang bikin batal bukan air matanya…
tapi buah yang dicelup sambal sebelum magrib.






