Salah Panggil Nama

admin

02/06/2026

3
Min Read
Salah Panggil Nama

On This Post

Pagi itu, suasana kantor polisi tampak cukup sibuk.

Beberapa polisi sedang mengetik laporan, ada yang menerima telepon, dan ada juga yang mondar-mandir membawa map tebal.

Di salah satu ruangan kecil, seorang polisi duduk berhadapan dengan seorang ibu-ibu bernama Sarinah.

Sarinah duduk dengan wajah cemberut.

Tangannya dilipat di depan dada.

Matanya menatap meja seolah-olah meja itu ikut bersalah.

Di hadapannya, Pak Polisi membuka buku catatan sambil berusaha tetap tenang.

“Baik, Bu Sarinah,” kata Pak Polisi pelan, “kami ingin mendengar keterangan Ibu sekali lagi.”

Sarinah menarik napas panjang.

“Silakan, Pak.”

Pak Polisi membetulkan posisi topinya.

“Menurut laporan, Ibu melakukan penganiayaan terhadap suami Ibu pagi tadi. Benar?”

Sarinah melirik ke samping.

“Tidak sepenuhnya benar, Pak.”

Pak Polisi mengangkat alis.

“Tidak sepenuhnya?”

“Iya. Saya tidak menganiaya. Saya hanya memberi pelajaran kecil.”

Pak Polisi menatap catatannya.

“Pelajaran kecil sampai suami Ibu lari ke rumah tetangga sambil membawa sandal sebelah?”

Sarinah terdiam sebentar.

“Itu karena dia terlalu dramatis, Pak.”

Pak Polisi menghela napas.

“Baiklah. Kita mulai dari awal. Apa yang dikatakan suami Ibu pagi tadi sampai Ibu menjadi marah?”

Sarinah menjawab dengan nada kesal, “Dia bertanya, Pak.”

“Bertanya apa?”

Sarinah menirukan suara suaminya dengan ekspresi jengkel.

“Dia bilang, ‘Sekarang sudah jam berapa, Yati?’”

Pak Polisi berhenti menulis.

Ia mengangkat wajahnya pelan-pelan.

“Maaf, Bu. Suami Ibu hanya bertanya jam?”

“Iya, Pak.”

“Lalu karena pertanyaan jam itu, Ibu marah?”

Sarinah mengangguk mantap.

Pak Polisi tampak bingung.

“Bu Sarinah, bertanya jam itu sebenarnya hal biasa. Mungkin suami Ibu buru-buru berangkat kerja.”

Sarinah langsung mencondongkan badan.

“Masalahnya bukan jamnya, Pak.”

Pak Polisi semakin bingung.

“Lalu apa masalahnya?”

Sarinah menjawab dengan nada tegas,

“Nama saya Sarinah, Pak. Bukan Yati.”

Ruangan langsung hening.

Pak Polisi diam.

Pena di tangannya berhenti bergerak.

Dari luar ruangan terdengar suara polisi lain menahan tawa.

Pak Polisi berdeham pelan.

“Jadi… Ibu marah karena suami Ibu salah menyebut nama?”

Sarinah menatap tajam.

“Salah menyebut nama istri sendiri setelah menikah bertahun-tahun itu bukan salah biasa, Pak. Itu sudah masuk kategori bencana rumah tangga.”

Pak Polisi mencoba tetap profesional.

“Mungkin suami Ibu mengantuk?”

Sarinah langsung menjawab cepat.

“Kalau mengantuk, dia bisa salah lihat jam. Tapi jangan sampai salah lihat istri.”

Pak Polisi menunduk, pura-pura membaca catatan agar tidak tertawa.

“Apakah sebelumnya suami Ibu pernah menyebut nama Yati?”

Sarinah melipat tangan lebih rapat.

“Nah, itu dia, Pak. Justru saya juga ingin tahu, Yati itu siapa.”

Pak Polisi pelan-pelan menutup buku catatan.

“Jadi sekarang Ibu bukan hanya marah, tapi juga sedang melakukan penyelidikan?”

Sarinah mengangguk mantap.

“Betul, Pak. Saya hanya melakukan investigasi rumah tangga.”

Pak Polisi menghela napas panjang.

“Baik, Bu. Tapi lain kali, kalau ada masalah, sebaiknya dibicarakan baik-baik. Jangan langsung main pukul.”

Sarinah mengangguk.

“Iya, Pak. Saya paham.”

Pak Polisi tersenyum lega.

“Nah, bagus.”

Sarinah melanjutkan,

“Tapi kalau nanti dia menyebut nama perempuan lain lagi, saya panggil Bapak sekalian jadi saksi.”

Pak Polisi langsung terdiam.

Dari luar ruangan, suara tawa akhirnya pecah.

Sejak hari itu, Pak Polisi belajar satu hal penting.

Dalam rumah tangga, pertanyaan “sekarang jam berapa?” mungkin terdengar sederhana.

Tapi kalau ditambah nama yang salah, akibatnya bisa panjang.

Apalagi kalau nama istrinya Sarinah, tapi yang dipanggil malah Yati.

Leave a Comment