Aceng Sudah Kenyang

Junaedi

16/06/2026

5
Min Read
Aceng Sudah Kenyang

On This Post

Bulan Ramadhan memang selalu punya cerita.

Ada cerita tentang orang yang semangat ibadah.

Ada cerita tentang anak kecil yang belajar puasa setengah hari.

Ada juga cerita tentang orang yang kelihatannya puasa, tapi diam-diam punya strategi sendiri.

Nah, di sebuah kampung, ada satu nama yang kalau bulan Ramadhan selalu jadi bahan pembicaraan.

Namanya Aceng.

Aceng ini orangnya baik, ramah, dan kalau disuruh membantu tetangga, ia jarang menolak.

Tapi soal puasa, warga kampung sering curiga.

Bukan karena Aceng terang-terangan makan di siang hari.

Tidak.

Aceng lebih halus dari itu.

Kalau ditanya, “Ceng, puasa?”

Ia selalu menjawab dengan wajah yakin,

“Insya Allah, Pak.”

Jawaban itu membuat orang bingung.

Karena antara iya dan tidak, semuanya diserahkan kepada tafsir masing-masing.

Suatu sore, menjelang magrib, Aceng lewat di depan rumah Pak Haji.

Pak Haji sedang duduk di teras bersama keluarganya. Di meja sudah tersaji kolak pisang, gorengan, kurma, air teh hangat, dan beberapa piring kecil berisi makanan buka puasa.

Aromanya menyebar sampai ke jalan.

Aceng yang lewat langsung melambat.

Bukan karena capek.

Tapi karena hidungnya tiba-tiba aktif seperti antena parabola.

Pak Haji melihat Aceng.

“Ceng!”

Aceng berhenti.

“Iya, Pak Haji?”

“Mau ke mana kamu?”

“Lewat aja, Pak Haji.”

Pak Haji tersenyum.

“Sini dulu. Sebentar lagi adzan. Buka puasa di sini saja.”

Aceng langsung memasang wajah sopan.

“Wah, makasih, Pak Haji. Nggak usah repot-repot.”

“Repot apanya? Ini makanan sudah ada. Duduk sini.”

Aceng akhirnya duduk di kursi teras.

Matanya sempat melirik kolak, lalu gorengan, lalu kolak lagi.

Pak Haji tersenyum melihatnya.

“Nah, begitu. Nanti kalau adzan, langsung buka.”

Aceng mengangguk.

“Iya, Pak Haji. Mangga.”

Pak Haji mengerutkan dahi sedikit.

“Mangga?”

“Maksudnya silakan, Pak Haji.”

“Oh.”

Beberapa menit kemudian, suara adzan magrib terdengar dari masjid.

“Allahu Akbar…”

Pak Haji langsung tersenyum lega.

“Nah, sudah adzan. Ayo, Ceng. Buka dulu.”

Aceng duduk tegak.

“Iya, Pak Haji, mangga.”

Pak Haji mengambil gelas.

“Baca doa dulu, lalu minum.”

Aceng mengangguk.

“Iya, Pak Haji.”

Tapi Aceng tetap diam.

Tangannya tidak bergerak.

Mulutnya tidak membaca doa.

Matanya hanya melihat kolak dengan sikap yang mencurigakan.

Pak Haji menunjuk mangkuk kolak.

“Ayo, Ceng. Dimakan dulu kolaknya. Keburu dingin.”

Aceng tersenyum canggung.

“Iya, Pak Haji. Mangga.”

Pak Haji mulai bingung.

“Lho, kok mangga terus? Ini kolak, bukan mangga.”

Aceng tertawa kecil.

“Maksud Aceng, silakan Pak Haji dulu.”

Pak Haji mengangguk.

“Oh, kamu sopan sekali rupanya.”

Pak Haji pun minum air dan makan sebutir kurma.

Lalu ia kembali menunjuk kolak.

“Nah, sekarang kamu.”

Aceng menggaruk kepala.

“Nggak usah, Pak Haji.”

“Kenapa?”

“Aceng sudah kenyang.”

Pak Haji langsung berhenti mengunyah.

Matanya membesar.

“Hah?”

Aceng tersenyum polos.

“Aceng sudah kenyang, Pak Haji.”

Pak Haji menatap Aceng lama sekali.

Sangat lama.

Seolah-olah ia baru saja mendengar beduk magrib dipukul jam dua siang.

“Ceng…”

“Iya, Pak Haji?”

“Kamu bilang sudah kenyang?”

“Iya.”

“Ini baru adzan magrib.”

“Iya, Pak Haji.”

“Berarti seharusnya kamu baru boleh makan sekarang.”

Aceng mulai gelisah.

“Iya juga sih, Pak Haji.”

Pak Haji menyipitkan mata.

“Lalu kenyangnya dari mana?”

Aceng terdiam.

Angin sore lewat pelan.

Seekor kucing di halaman berhenti menjilat kakinya, seolah ikut menunggu jawaban.

Aceng menelan ludah.

“Begini, Pak Haji…”

Pak Haji melipat tangan.

“Iya, coba jelaskan.”

“Aceng itu tadi…”

“Tadi apa?”

“Tadi siang…”

Pak Haji langsung mengangkat alis.

“Tadi siang?”

Aceng buru-buru memperbaiki kalimat.

“Maksudnya tadi sore.”

“Sore sebelum magrib?”

Aceng makin panik.

“Ya… sore yang agak siang sedikit.”

Pak Haji menepuk jidat.

“Ceng, sore yang agak siang itu namanya belum waktunya buka!”

Aceng tersenyum malu.

“Aceng kira kalau matahari sudah agak turun, itu sudah termasuk diskon waktu puasa.”

Pak Haji melotot.

“Puasa tidak ada diskon, Ceng!”

Aceng menunduk.

“Maaf, Pak Haji.”

Pak Haji menarik napas panjang, berusaha sabar.

“Kamu makan apa tadi?”

Aceng menjawab pelan,

“Sedikit saja, Pak Haji.”

“Sedikit apa?”

“Nasi.”

“Berapa piring?”

Aceng diam.

Pak Haji mengulang.

“Berapa piring, Ceng?”

“Kalau piringnya kecil, dua.”

“Kalau piringnya besar?”

“Satu setengah.”

Pak Haji memejamkan mata.

“Lauk?”

“Tempe, ayam, sambal, sayur asem.”

“Minum?”

“Es teh.”

“Camilan?”

Aceng menunduk makin dalam.

“Gorengan tiga.”

Pak Haji menarik napas lebih panjang.

“Ceng…”

“Iya, Pak Haji?”

“Itu bukan sedikit. Itu latihan Lebaran.”

Aceng nyengir.

“Perut Aceng tadi tidak kuat, Pak Haji.”

“Tidak kuat lapar?”

“Iya.”

“Lalu sekarang kuat kenyang?”

Aceng mengangguk pelan.

“Alhamdulillah, kuat.”

Pak Haji hampir saja tertawa, tapi ia menahannya karena ingin tetap terlihat tegas.

“Ceng, puasa itu menahan lapar dan haus dari subuh sampai magrib.”

Aceng mengangguk.

“Iya, Pak Haji. Aceng tahu.”

“Kalau tahu, kenapa makan sebelum magrib?”

Aceng menjawab polos,

“Aceng cuma latihan buka puasa lebih awal.”

Pak Haji langsung menatap tajam.

“Ceng!”

“Iya, iya, Pak Haji. Salah.”

Pak Haji menunjuk kolak di meja.

“Jadi dari tadi kamu tidak mau makan kolak karena sudah makan duluan?”

Aceng mengangguk pelan.

“Iya.”

“Lalu kenapa tadi waktu saya ajak buka puasa kamu duduk?”

Aceng tersenyum kecil.

“Aceng tidak enak menolak, Pak Haji.”

Pak Haji menggeleng.

“Bukan tidak enak menolak. Kamu itu tidak enak ketahuan.”

Aceng langsung diam.

Pak Haji akhirnya tertawa kecil sambil geleng-geleng kepala.

“Ya sudah, Ceng. Besok puasa yang benar.”

Aceng langsung mengangguk cepat.

“Insya Allah, Pak Haji.”

Pak Haji menyipitkan mata.

“Jangan insya Allah yang membingungkan itu. Besok puasa atau tidak?”

Aceng menjawab lebih tegas.

“Puasa, Pak Haji.”

“Dari kapan?”

“Dari subuh.”

“Sampai kapan?”

“Sampai magrib.”

“Tidak pakai diskon waktu?”

“Tidak, Pak Haji.”

“Tidak pakai latihan buka lebih awal?”

“Tidak.”

“Tidak makan diam-diam?”

Aceng terdiam sebentar.

Pak Haji langsung menunjuknya.

“Nah, kenapa diam?”

Aceng tersenyum canggung.

“Aceng sedang menguatkan niat, Pak Haji.”

Pak Haji tertawa sambil menggeleng.

“Dasar kamu, Ceng.”

Kemudian Pak Haji mengambil satu mangkuk kolak dan menyodorkannya.

“Ini bawa pulang saja.”

Mata Aceng langsung berbinar.

“Boleh, Pak Haji?”

“Boleh. Tapi dimakan nanti malam, bukan besok siang.”

Aceng menerima kolak itu dengan senyum lebar.

“Siap, Pak Haji.”

Sejak hari itu, setiap kali Pak Haji melihat Aceng menjelang magrib, ia selalu bertanya,

“Ceng, kamu lapar atau sudah kenyang duluan?”

Aceng hanya bisa nyengir malu.

Karena di kampung itu, semua orang akhirnya tahu.

Aceng bukan batal puasa karena lupa.

Tapi karena perutnya terlalu cepat mendengar adzan.