Cowok Terlalu Sempurna

admin

10/06/2026

5
Min Read
Cowok Terlalu Sempurna

On This Post

Sore itu, di sebuah kafe yang cukup ramai, seorang cewek bernama Rina sedang duduk berhadapan dengan seorang cowok yang baru dikenalnya.

Namanya Anton.

Penampilannya rapi.

Bajunya licin.

Rambutnya tertata.

Senyumnya tenang.

Cara bicaranya pun pelan, seperti orang yang tidak pernah panik meskipun harga cabai naik mendadak.

Rina sejak tadi memperhatikan Anton dengan penuh rasa penasaran.

Dalam hati, ia mulai berpikir,

“Wah, ini cowok kelihatannya beda. Kalem, dewasa, dan kayaknya mapan.”

Rina pun mulai membuka percakapan.

“Mas Anton kerja di mana?”

Anton tersenyum tipis.

“Saya sih cuma usaha beberapa hotel bintang empat dan lima di Jakarta sama Bali.”

Mata Rina langsung membesar.

Di dalam hatinya, suara kagum langsung muncul seperti musik sinetron.

“Waw… hotel bintang empat dan lima? Ini pasti konglomerat!”

Rina mencoba tetap tenang. Ia mengambil minum pelan-pelan, padahal tangannya hampir gemetar karena membayangkan masa depan penuh fasilitas.

“Oh… usaha hotel ya, Mas?”

“Iya, kecil-kecilan saja.”

Rina hampir tersedak.

“Kecil-kecilan? Hotel bintang lima dibilang kecil-kecilan?”

Tapi ia hanya tersenyum manis.

“Mas tinggal di mana?”

Anton menjawab santai.

“Di Pondok Indah, Bukit Golf.”

Rina langsung menahan napas.

Dalam hatinya ia berteriak,

“Ya ampun! Pondok Indah! Bukit Golf! Ini bukan cowok biasa. Ini brosur investasi berjalan!”

Rina pura-pura biasa saja.

“Wah, daerah bagus ya, Mas. Rumahnya pasti besar?”

Anton menggeleng rendah hati.

“Enggak ah. Biasa saja.”

Rina sedikit lega.

“Oh, biasa saja?”

“Iya. Cuma tiga hektar.”

Senyum Rina langsung membeku.

“Tiga hektar?”

Anton mengangguk.

“Iya, kecil kok. Kalau jalan dari pagar ke pintu rumah, cuma butuh sedikit kesabaran.”

Rina tertawa kecil, tapi pikirannya sudah berlari jauh.

Dalam hatinya ia berkata,

“Ini rumah atau kecamatan?”

Rina mulai semakin tertarik.

Ia mencondongkan badan sedikit.

“Kalau mobil, Mas? Pasti banyak ya?”

Anton mengangkat bahu.

“Sedikit kok.”

“Sedikit berapa?”

“Ya paling cuma Ferrari, Jaguar, Mercedes, BMW, sama Mazda.”

Rina langsung menelan ludah.

Dalam hati, ia mulai membayangkan dirinya turun dari mobil mewah sambil memakai kacamata hitam.

“Wah… kalau jadi istrinya, aku nggak perlu naik ojek online lagi. Minimal kalau ke warung naik Mercedes.”

Rina tersenyum semakin manis.

“Mas Anton sudah punya istri?”

Anton tersenyum kecil.

“Hmm… sampai saat ini belum.”

Hati Rina langsung berbunga-bunga.

“Belum? Masya Allah… pintu rezeki terbuka lebar!”

Namun Rina tidak mau terlihat terlalu bersemangat. Ia tetap menjaga sikap.

“Oh, belum ya…”

Anton mengangguk.

“Iya, belum ketemu yang cocok.”

Rina langsung duduk lebih tegak.

Dalam hatinya ia berkata,

“Tenang, Mas. Yang cocok sedang duduk di depanmu.”

Rina lalu mulai mengetes kebiasaan Anton.

“Mas merokok?”

Anton langsung menggeleng.

“Tidak. Rokok itu tidak baik untuk kesehatan.”

Rina makin kagum.

“Wah, kaya, tampan, dan sehat. Ini cowok bukan manusia biasa. Ini paket lengkap.”

“Mas suka minum-minuman keras?”

“Tidak dong.”

Rina tersenyum makin lebar.

“Gila… bersih banget hidupnya.”

“Mas suka main judi?”

Anton tertawa kecil.

“Nggak. Ngapain judi? Cuma buang-buang uang.”

Rina hampir tidak percaya.

Dalam hati ia berkata,

“Ya Allah, ini bukan cowok idaman lagi. Ini jawaban dari semua doa setelah salat malam.”

Rina melanjutkan.

“Mas suka dugem?”

Anton menggeleng lagi.

“Tidak. Saya lebih suka suasana tenang.”

Rina langsung meleleh.

“Wah… kalem, mapan, tidak merokok, tidak minum, tidak judi, tidak dugem. Ini calon imam rasa sultan.”

Rina semakin penasaran.

“Mas sudah pernah naik haji?”

Anton menjawab dengan santai.

“Yah, baru tiga kali. Umroh paling sekitar enam kali.”

Rina hampir menjatuhkan gelas.

Dalam hatinya, ia langsung berseru,

“Subhanallah! Ini bukan cuma sultan dunia, tapi juga investor akhirat!”

Rina mulai membayangkan masa depan.

Rumah besar.

Mobil mewah.

Liburan ke Bali.

Umroh tiap tahun.

Belanja tanpa takut saldo menangis.

Ia mulai menatap Anton dengan mata berbinar.

“Mas Anton ini luar biasa ya. Usahanya sukses, rumahnya besar, mobilnya banyak, hidupnya sehat, ibadahnya juga rajin.”

Anton hanya tersenyum.

“Ah, biasa saja.”

Rina makin yakin.

Dalam hati ia berkata,

“Semakin rendah hati, semakin berbahaya untuk hati.”

Akhirnya, Rina bertanya dengan suara lembut,

“Kalau boleh tahu, hobi Mas Anton apa?”

Anton diam sebentar.

Ia memandang Rina dengan senyum misterius.

Rina menunggu dengan penasaran.

Mungkin hobinya membaca buku.

Mungkin berkuda.

Mungkin sedekah diam-diam.

Mungkin membangun pesantren.

Anton lalu tersenyum lebar dan berkata,

“Hobi saya?”

Rina mengangguk manis.

“Iya, Mas. Hobinya apa?”

Anton menjawab dengan sangat santai,

“Bohongin orang.”

Rina terdiam.

Senyumnya perlahan menghilang.

“Apa, Mas?”

Anton tertawa kecil.

“Iya. Bohongin orang. Sama korupsi kalau ada kesempatan. Hahaha.”

Dunia Rina seketika gelap.

Musik romantis di kepalanya langsung berubah menjadi suara alarm kebakaran.

Rina menatap Anton lama sekali.

“Jadi… hotel bintang empat dan lima itu?”

Anton tersenyum.

“Saya sering lewat depannya.”

“Rumah tiga hektar?”

“Tanah kosong punya orang. Saya pernah foto di depannya.”

“Pondok Indah Bukit Golf?”

“Saya pernah ngantar paket ke sana.”

“Ferrari, Jaguar, Mercedes, BMW, Mazda?”

“Poster di kamar.”

Rina memegang kepalanya.

“Naik haji tiga kali?”

Anton mengangguk bangga.

“Lewat video YouTube. Lengkap, dari berangkat sampai tawaf.”

“Umroh enam kali?”

“Itu juga. Kadang saya ulang kalau sinyal bagus.”

Rina menarik napas panjang.

“Jadi dari tadi semuanya bohong?”

Anton menggeleng.

“Tidak semuanya.”

Rina sedikit lega.

“Yang benar yang mana?”

Anton tersenyum polos.

“Yang benar saya belum punya istri.”

Rina langsung berdiri.

“Pantas!”

Anton ikut berdiri.

“Lho, mau ke mana?”

Rina mengambil tasnya.

“Mau pulang sebelum kamu bohongin aku lebih jauh.”

Anton masih sempat bertanya,

“Berarti kita tidak lanjut makan?”

Rina menatapnya tajam.

“Lanjut saja. Tapi kamu bayar sendiri.”

Anton langsung pucat.

“Waduh…”

Rina menyipitkan mata.

“Kenapa? Katanya punya hotel.”

Anton nyengir.

“Hotel boleh bohong, tapi dompet saya jujur. Isinya cuma dua belas ribu.”

Rina menggeleng sambil melangkah pergi.

“Dasar cowok paket lengkap!”

Anton tersenyum bangga.

“Lengkap?”

Rina menoleh dan menjawab sinis,

“Iya. Lengkap bohongnya!”

Sejak hari itu, Rina punya prinsip baru.

Kalau ada cowok terlalu sempurna saat kenalan pertama, jangan langsung percaya.

Karena bisa jadi dia bukan calon suami idaman.

Tapi calon narasumber cerita lucu.

Leave a Comment