Di sebuah kantor kecil yang setiap pagi selalu ramai oleh suara mesin fotokopi, dering telepon, obrolan karyawan, dan aroma kopi sachet, ada seorang pria setengah baya bernama Mail.
Mail bukan karyawan biasa.
Di mata teman-temannya, Mail adalah legenda pojok belakang kantor. Hampir setiap jam istirahat, ia selalu duduk di sana sambil memegang rokok, menyeruput kopi, dan mengepulkan asap seperti cerobong pabrik yang sedang lembur.
Bagi karyawan lain, melihat Mail tanpa rokok di tangan itu sama anehnya seperti melihat warung kopi tidak menjual kopi. Bahkan ada yang bercanda, “Kalau Mail tidak merokok, berarti kalender kantor salah tanggal.”
Namun pagi itu, suasana berubah.
Mail datang ke kantor dengan langkah santai. Wajahnya tampak segar, bajunya rapi, rambutnya tersisir, dan yang paling membuat semua orang heran: tidak ada rokok di tangannya.
Bukan hanya itu. Tidak ada bau asap rokok yang biasanya lebih dulu masuk ruangan sebelum orangnya.
Aldi, rekan kerja yang sudah lama mengenal Mail, langsung memperhatikan perubahan itu. Ia menatap Mail dari ujung kepala sampai ujung kaki, lalu mengedipkan mata beberapa kali, memastikan yang ia lihat bukan halusinasi akibat kurang tidur.
“Mail,” kata Aldi heran, “tumben sekali. Dari tadi aku perhatikan kamu tidak merokok.”
Mail tersenyum tipis. “Iya, Bang. Saya sudah berhenti.”
Aldi langsung membelalakkan mata. “Berhenti? Serius kamu? Kamu yang biasanya kalau istirahat belum lengkap kalau belum ada kopi dan rokok?”
“Iya, Bang,” jawab Mail santai. “Sudah dua bulan ini saya tidak menyentuh rokok sama sekali.”
Mendengar itu, Aldi semakin kagum. Ia mendekat, seolah-olah baru saja menemukan manusia langka yang biasanya cuma muncul di acara dokumenter.
“Luar biasa, Mail. Banyak orang mau berhenti merokok, tapi susah sekali. Kamu ini hebat. Ngomong-ngomong, apa resepnya?”
Mail hanya menggeleng pelan.
Aldi semakin penasaran. “Pakai terapi?”
“Bukan.”
“Permen?”
“Bukan.”
“Obat?”
“Bukan juga.”
“Jangan-jangan ikut seminar kesehatan?”
Mail kembali menggeleng. Wajahnya mendadak terlihat serius.
“Saya berhenti merokok sejak teman saya meninggal karena rokok, Bang.”
Seketika wajah Aldi berubah. Rasa kagumnya berganti menjadi prihatin. Ia menepuk pelan pundak Mail.
“Innalillahi… temanmu meninggal karena rokok? Kena kanker paru-paru?”
“Bukan.”
Aldi mengerutkan dahi. “Jantung?”
“Bukan juga.”
“Sesak napas parah?”
Mail menggeleng lagi. “Bukan, Bang.”
Aldi semakin bingung. “Lalu meninggalnya bagaimana?”
Mail menarik napas panjang. Suasana di antara mereka mendadak hening. Bahkan suara mesin fotokopi yang biasanya berisik terasa seperti ikut menunggu jawaban.
Dengan nada datar, Mail berkata,
“Dia kecelakaan naik motor waktu pulang kerja.”
Aldi terdiam sebentar. “Lho, katanya meninggal karena rokok?”
“Iya, Bang,” jawab Mail santai. “Motornya diseruduk mobil boks rokok Super dari belakang.”
Aldi langsung mematung.
Mulutnya terbuka, tapi tidak ada kata-kata yang keluar. Ia menatap Mail dengan ekspresi antara kasihan, bingung, dan ingin tertawa tapi merasa berdosa.
Beberapa detik kemudian, Aldi menggaruk kepala sambil berkata,
“Ya ampun, Mail… itu bukan berhenti merokok karena sadar kesehatan. Itu namanya trauma sama mobil pengantar rokok!”
Mail mengangguk pelan dengan wajah serius.
“Betul, Bang. Sejak saat itu saya sadar, rokok memang berbahaya.”
Aldi menghela napas. “Iya, kalau dihisap terlalu banyak memang bahaya.”
Mail menoleh ke arah jalan depan kantor, lalu berkata dengan nada penuh keyakinan,
“Bukan cuma kalau dihisap, Bang. Kalau datang satu mobil dari belakang juga bisa bikin celaka.”
Aldi hanya bisa menepuk jidat.
Sejak hari itu, setiap kali ada mobil boks lewat di depan kantor, Mail langsung menyingkir jauh-jauh. Tidak peduli mobil itu membawa rokok, air galon, atau kardus mie instan.
Sambil mundur perlahan, Mail selalu berkata,
“Hati-hati, Bang. Yang berbahaya itu bukan cuma asapnya. Kadang-kadang distribusinya juga.”


Leave a Comment