Siang itu, Tini berjalan dengan langkah cepat menuju sebuah toko bunga di pinggir jalan.
Hari itu adalah hari ulang tahun sahabatnya, Rina. Tini ingin memberikan hadiah sederhana, tapi tetap terlihat manis dan berkesan. Setelah berpikir cukup lama, ia memutuskan membeli karangan bunga.
“Bunga itu selalu cocok untuk hadiah,” gumam Tini sambil tersenyum.
Dari luar, toko itu terlihat cukup indah. Di depan pintu terpajang berbagai rangkaian bunga besar dengan warna-warna yang mencolok. Ada bunga putih, kuning, ungu, dan merah muda. Tini langsung merasa pilihannya tepat.
Begitu masuk, aroma bunga langsung menyambutnya. Tini melihat ke kanan dan kiri dengan penuh kagum.
“Wah, bunganya cantik-cantik sekali,” katanya pelan.
Ia kemudian melihat sebuah karangan bunga yang menurutnya paling menarik. Bunganya tersusun rapi, warnanya lembut, dan harganya juga cukup terjangkau.
“Nah, ini cocok untuk Rina,” pikir Tini.
Tanpa banyak bertanya, Tini langsung menunjuk bunga itu kepada pegawai toko.
“Mbak, saya mau yang ini ya.”
Pegawai toko tersenyum ramah.
“Baik, Bu. Mau langsung dibungkus?”
“Iya, Mbak. Yang rapi ya. Ini untuk orang spesial,” jawab Tini dengan percaya diri.
Pegawai toko mengangguk, lalu membawa bunga itu ke meja kasir. Tini menunggu sambil membayangkan wajah Rina saat menerima hadiah tersebut.
Dalam pikirannya, Rina pasti akan tersenyum lebar dan berkata, “Aduh, Tini, kamu perhatian sekali!”
Tini pun tersenyum sendiri.
Setelah bunga selesai disiapkan, kasir bertanya,
“Bu, mau sekalian pesan kartu ucapan?”
Tini langsung mengangguk.
“Mau, Mbak. Biar lebih berkesan.”
Kasir mengambil sebuah kartu kecil dan pulpen.
“Baik, Bu. Ucapannya mau ditulis apa?”
Tini berpikir sebentar. Karena sahabatnya sudah menikah, ia ingin membuat ucapan yang terdengar manis dan dewasa.
Dengan wajah yakin, Tini berkata,
“Tulis begini ya, Mbak… Selamat hari jadi pernikahan. Semoga tetap langgeng, bahagia selalu, dan makin romantis sampai tua.”
Kasir itu berhenti menulis.
Tangannya menggantung di atas kartu.
Wajahnya berubah bingung.
Tini yang melihat itu ikut bingung.
“Kenapa, Mbak? Terlalu panjang ya?”
Kasir menatap Tini pelan-pelan, lalu berkata dengan hati-hati,
“Maaf, Bu…”
“Iya?”
“Ini… toko bunga duka cita.”
Tini terdiam.
Matanya perlahan melebar.
Senyumnya hilang seketika.
Ia menoleh ke arah karangan bunga yang tadi dipilihnya. Baru saat itu ia memperhatikan tulisan-tulisan besar di beberapa rangkaian bunga lain.
Turut Berduka Cita.
Selamat Jalan.
Semoga Keluarga Diberi Ketabahan.
Tini merasa lututnya hampir lemas.
Dalam hati ia berteriak, “Ya ampun! Jadi dari tadi aku mau kasih bunga duka cita untuk ulang tahun Rina?”
Kasir masih berdiri sambil menahan tawa. Pegawai toko yang tadi membungkus bunga juga pura-pura sibuk merapikan pita, padahal bahunya terlihat sedikit bergetar.
Tini tertawa kecil karena malu.
“Aduh, maaf, Mbak. Saya kira ini toko bunga biasa.”
Kasir tersenyum sopan.
“Tidak apa-apa, Bu. Memang dari luar kadang terlihat seperti toko bunga umum.”
Tini menunjuk bunga yang sudah hampir dibungkus.
“Kalau begitu… jangan yang itu, Mbak. Nanti sahabat saya ulang tahun malah mengira saya menyuruh dia tabah.”
Kasir akhirnya tidak bisa menahan tawa.
Tini pun ikut tertawa, meskipun wajahnya sudah merah karena malu.
“Untung belum saya kirim langsung,” kata Tini. “Kalau sampai Rina menerima bunga ini dengan ucapan ‘semoga langgeng’, bisa-bisa dia kira saya sedang memberi kode aneh.”
Kasir kemudian membantu Tini memilih bunga yang lebih cocok untuk ulang tahun. Kali ini Tini benar-benar membaca tulisan dan memperhatikan bentuk rangkaiannya baik-baik.
Setelah mendapatkan bunga yang tepat, Tini membayar dengan cepat. Ia mengambil karangan bunga itu, lalu berjalan menuju pintu keluar.
Namun sebelum pergi, kasir berkata sambil tersenyum,
“Bu, lain kali kalau mau beli bunga ulang tahun, jangan langsung pilih yang paling besar ya.”
Tini tertawa malu.
“Iya, Mbak. Mulai sekarang saya baca dulu tulisannya sebelum jatuh cinta pada bunganya.”
Tini keluar dari toko sambil menunduk sedikit, berharap tidak ada orang yang mengenalnya melihat kejadian itu.
Sejak hari itu, Tini belajar satu hal penting:
Sebelum membeli bunga, pastikan dulu tokonya untuk ulang tahun, pernikahan, atau… ucapan terakhir.


Leave a Comment