Pagi itu, ruang rapat kantor terasa lebih dingin dari biasanya.
Bukan karena AC-nya terlalu kuat.
Tapi karena semua orang sudah bisa merasakan bahwa rapat hari itu tidak akan sebentar.
Di depan ruangan, Pak Budi berdiri dengan wajah serius sambil memegang remote presentasi. Di belakangnya, layar besar menampilkan slide pertama bertuliskan:
Evaluasi Kinerja Bulanan dan Strategi Peningkatan Produktivitas
Begitu membaca judul itu, beberapa karyawan langsung kehilangan semangat hidup.
Ada yang pura-pura sibuk membuka laptop.
Ada yang menyiapkan pulpen dan buku catatan.
Ada juga yang diam-diam menghitung berapa menit lagi menuju jam makan siang.
Di kursi paling ujung, Dadang duduk dengan posisi paling aman menurutnya. Tidak terlalu dekat dengan Pak Budi, tetapi juga tidak terlalu jauh sampai terlihat malas.
Ia membuka buku catatan.
Ia memegang pulpen.
Ia menatap layar.
Dari luar, Dadang tampak siap menerima materi.
Padahal di dalam kepalanya, yang sedang berjalan bukan strategi peningkatan produktivitas.
Melainkan pertandingan ulang antara kantuk dan kesadaran.
Semalam Dadang tidur terlalu larut. Katanya hanya mau menonton satu babak pertandingan bola. Tapi karena pertandingan seru, ia menonton sampai selesai.
Setelah itu, ia masih melihat komentar warganet. Setelah itu, ia melihat cuplikan ulang. Setelah itu, tiba-tiba sudah hampir subuh.
Sekarang, Dadang harus membayar semuanya di ruang rapat.
Pak Budi mulai berbicara.
“Baik, teman-teman. Hari ini kita akan membahas laporan bulanan, target kerja, evaluasi tim, rencana minggu depan, dan beberapa poin tambahan.”
Dadang langsung menelan ludah.
Dalam hati ia berkata, “Kalau ada kata tambahan, berarti rapat ini punya anak cabang.”
Pak Budi melanjutkan presentasi.
“Berdasarkan data yang kita lihat pada kuartal ini, ada beberapa hal yang harus kita tingkatkan, terutama dalam hal efisiensi, koordinasi, komunikasi, dan konsistensi.”
Dadang mencoba fokus.
Ia menulis kata efisiensi di buku catatan.
Lalu ia menulis koordinasi.
Lalu ia menulis komunikasi.
Ketika hendak menulis konsistensi, tangannya berhenti.
Matanya mulai berat.
Kepalanya mengangguk pelan.
Bukan karena setuju.
Tapi karena hampir tertidur.
Ia cepat-cepat menegakkan badan.
“Fokus, Dang. Fokus,” bisiknya kepada diri sendiri.
Pak Budi terus menjelaskan.
“Jadi, kita perlu membangun sistem kerja yang lebih terarah, terukur, dan terstruktur…”
Kata-kata itu terdengar seperti lagu pengantar tidur bagi Dadang.
Terarah.
Terukur.
Terstruktur.
Dadang berusaha melawan.
Ia mencubit pahanya pelan.
Ia minum air.
Ia menatap layar dengan mata dipaksa terbuka.
Namun, kantuk sudah menyerang seperti debt collector yang tahu alamat lengkap.
Akhirnya, Dadang tidak kuat lagi.
Ia menguap.
Bukan menguap kecil yang sopan.
Bukan menguap diam-diam sambil menutup mulut.
Tapi menguap besar.
“Huaaaaaah…”
Mulut Dadang terbuka begitu lebar sampai karyawan di sebelahnya spontan menjauh sedikit.
Pak Budi yang sedang menjelaskan langsung berhenti.
Ruangan mendadak hening.
Semua mata tertuju kepada Dadang.
Dadang cepat-cepat menutup mulutnya.
“Maaf, Pak,” katanya pelan.
Pak Budi menatap Dadang sebentar, lalu mencoba mencairkan suasana.
“Dadang, hati-hati kalau menguap. Jangan terlalu lebar. Nanti saya tertelan.”
Beberapa karyawan tertawa kecil.
Dadang yang masih setengah sadar menjawab spontan,
“Tenang saja, Pak. Saya tidak sembarang makan.”
Ruangan langsung diam.
Pak Budi mengangkat alis.
“Maksudnya?”
Dadang baru sadar bahwa jawabannya terlalu cepat keluar tanpa melewati bagian keamanan otak.
Tapi karena semua orang sudah menunggu, ia melanjutkan dengan wajah polos.
“Saya cuma makan yang ringan-ringan, Pak. Kalau yang banyak beban rapat, saya tidak sanggup.”
Satu ruangan langsung meledak tertawa.
Karyawan bagian administrasi menutup mulut dengan map.
Bagian keuangan tertawa sambil menunduk.
Bahkan Pak Anton yang sejak tadi terlihat seperti patung rapat, akhirnya tersenyum juga.
Pak Budi menatap Dadang sambil menahan tawa.
“Jadi menurut kamu, saya ini berat?”
Dadang langsung panik.
“Bukan begitu, Pak.”
“Lalu?”
Dadang berpikir cepat.
“Maksud saya, materi rapat Bapak yang berat.”
Pak Budi menyipitkan mata.
“Oh, jadi sekarang materi saya yang kamu salahkan?”
Dadang semakin bingung.
“Bukan salah, Pak. Cuma… materinya bergizi tinggi.”
Karyawan kembali tertawa.
Pak Budi meletakkan remote presentasi di meja, lalu berkata,
“Dadang, kamu tadi menguap karena mengantuk atau karena lapar?”
Dadang menjawab jujur,
“Awalnya mengantuk, Pak. Tapi setelah Bapak bahas target kerja, saya jadi lapar juga.”
“Kenapa bisa lapar?”
“Karena mendengar target setinggi itu membuat tenaga saya habis duluan, Pak.”
Suasana rapat makin ramai oleh tawa.
Pak Budi menggeleng sambil tersenyum.
“Dadang, mulai besok kamu duduk di depan.”
Dadang langsung duduk tegak.
“Waduh, kenapa, Pak?”
“Biar kalau kamu mulai menguap, saya bisa langsung tahu.”
Dadang mengangguk pasrah.
“Baik, Pak.”
Pak Budi menambahkan,
“Dan kalau mulutmu terbuka terlalu lebar lagi, saya masukkan laporan bulanan ke dalamnya.”
Satu ruangan kembali tertawa.
Dadang menggaruk kepala.
“Kalau boleh, Pak, jangan laporan bulanan.”
“Kenapa?”
“Terlalu tebal, Pak. Nanti saya kenyang data.”
Pak Budi akhirnya ikut tertawa.
Rapat yang awalnya tegang berubah menjadi lebih santai. Beberapa karyawan yang tadinya hampir ikut mengantuk mendadak segar kembali.
Pak Budi kemudian melanjutkan presentasi, tetapi kali ini dengan senyum kecil di wajahnya.
“Baik, kita lanjut. Tapi sebelum itu, Dadang…”
Dadang langsung waspada.
“Iya, Pak?”
“Pastikan mulutmu tetap tertutup sampai slide terakhir.”
Dadang mengangguk serius.
“Siap, Pak. Tapi kalau slidenya terlalu banyak, saya tidak janji.”
Karyawan kembali tertawa.
Sejak hari itu, Dadang punya julukan baru di kantor.
Bukan Dadang si rajin.
Bukan Dadang si cepat tanggap.
Tapi Dadang Si Mulut Rapat.
Karena setiap kali ia menguap, rapat bisa berhenti.
Dan setiap kali ia menjawab, satu ruangan bisa lupa bahwa mereka sedang membahas pekerjaan.




