Siang itu, suasana kantor sedang cukup santai.
Jam istirahat baru saja dimulai. Beberapa karyawan duduk di ruang makan sambil membuka bekal, ada yang menyeruput kopi, dan ada juga yang mengeluh soal pekerjaan yang tidak ada habisnya.
Di sudut ruangan, seorang suami bernama Pak Jono sedang membuka dompetnya untuk mengambil uang.
Tiba-tiba, salah satu temannya melihat sesuatu di dalam dompet itu.
“Wah, Jon!” kata temannya sambil mendekat. “Itu foto istrimu?”
Pak Jono menoleh.
“Iya,” jawabnya santai.
Teman-temannya langsung berkumpul.
Di dalam dompet Pak Jono memang ada foto istrinya. Foto itu disimpan rapi di bagian paling depan, seolah-olah menjadi benda paling berharga.
“Luar biasa kamu, Jon,” kata temannya yang lain. “Zaman sekarang jarang ada suami seperti ini.”
“Iya,” tambah yang lain. “Biasanya orang simpan kartu ATM, kartu kantor, atau struk belanja. Kamu malah simpan foto istri.”
Pak Jono hanya tersenyum kecil.
Teman-temannya makin kagum.
“Berarti kamu sayang sekali sama istrimu, ya?”
Pak Jono mengangguk pelan.
“Ya… begitulah.”
Salah satu temannya yang penasaran lalu bertanya, “Tapi sebenarnya apa fungsi foto istrimu itu? Kenapa harus dibawa ke mana-mana?”
Pak Jono memasukkan kembali uangnya, lalu menatap foto istrinya sebentar.
Semua temannya langsung diam, menunggu jawaban romantis.
Pak Jono berkata dengan nada serius, “Setiap kali aku punya masalah di kantor, aku selalu memandang foto itu.”
Teman-temannya langsung tersentuh.
“Wah…”
“Romantis sekali…”
“Pasti setelah melihat foto istrimu, kamu jadi semangat lagi, ya?”
Pak Jono mengangguk.
“Benar. Setiap kali aku melihat foto itu, masalah di kantor langsung hilang begitu saja.”
Teman-temannya semakin kagum.
Salah satu dari mereka bahkan menepuk bahu Pak Jono.
“Beruntung sekali kamu punya istri seperti itu. Hanya dengan melihat fotonya saja, semua beban terasa ringan.”
“Hebat,” kata teman yang lain. “Istrimu pasti sumber ketenangan hidupmu.”
Pak Jono menarik napas panjang.
Wajahnya berubah serius.
“Ya, bisa dibilang begitu.”
Teman-temannya makin penasaran.
“Sebenarnya bagaimana caranya, Jon? Kok bisa foto istrimu membuat semua masalah kantor hilang?”
Pak Jono kembali memandang foto istrinya di dompet.
Lalu ia berkata pelan,
“Begini…”
Semua temannya mendekat.
Pak Jono melanjutkan,
“Kalau aku melihat foto istriku, aku langsung sadar…”
Teman-temannya menahan napas.
Pak Jono berkata,
“Masalah sebesar apa pun di kantor…”
Ia berhenti sebentar.
“…ternyata tidak ada apa-apanya dibandingkan masalah kalau aku pulang telat dan lupa beli pesanan istri.”
Seisi ruang makan langsung hening.
Beberapa detik kemudian, tawa meledak.
“Jadi bukan karena romantis?”
Pak Jono menggeleng.
“Romantis juga. Tapi lebih banyak karena takut.”
Temannya tertawa sambil memegang perut.
“Berarti foto itu bukan penyemangat?”
Pak Jono menjawab serius,
“Itu pengingat bahaya.”
Teman-temannya tertawa makin keras.
Pak Jono memasukkan dompetnya kembali ke saku.
“Di kantor, paling dimarahi atasan. Tapi di rumah, kalau istri sudah diam sambil melipat tangan, itu lebih menegangkan daripada rapat bulanan.”
Teman-temannya mengangguk setuju.
Salah satu dari mereka berkata, “Benar juga. Kalau atasan marah, masih bisa pulang.”
Pak Jono langsung menimpali,
“Nah, kalau istri marah, pulang pun tetap kena.”
Semua kembali tertawa.
Sejak hari itu, teman-teman Pak Jono tidak lagi menganggap foto istrinya di dompet sebagai tanda romantis semata.
Mereka menganggapnya sebagai alat keselamatan kerja.
Karena bagi Pak Jono, melihat foto istrinya bukan hanya membuat ia ingat cinta.
Tapi juga membuat ia sadar bahwa masalah kantor sebenarnya masih bisa diselesaikan.
Yang paling berbahaya adalah pulang ke rumah tanpa membawa titipan.


Leave a Comment