Lift Menuju Luar Angkasa

admin

22/05/2026

4
Min Read
Lift Menuju Luar Angkasa

On This Post

Pagi itu, Neneng hampir berlari memasuki gedung kantornya.

Tas kerja tergantung di bahunya, rambutnya sedikit berantakan karena terburu-buru, sementara matanya terus melirik jam tangan.

“Waduh, lima menit lagi rapat,” gumamnya panik. “Kalau terlambat, bisa-bisa aku yang jadi bahan rapat.”

Ia segera menuju lift dan menekan tombol naik berkali-kali, seolah-olah tombol itu bisa membuat lift bergerak lebih cepat.

“Cepat dong… cepat…”

Tak lama kemudian, terdengar suara yang sangat ia tunggu.

Ting!

Pintu lift terbuka.

Neneng langsung masuk dengan napas lega. Di dalam lift hanya ada dirinya. Ia berdiri menghadap pintu, merapikan baju, lalu mencoba menenangkan diri.

“Tenang, Neneng. Kamu masih bisa selamat,” katanya pada diri sendiri.

Pintu lift menutup perlahan.

Lift mulai naik.

Lantai satu…

Lantai dua…

Lantai tiga…

Neneng menatap angka lantai dengan penuh harapan. Tinggal beberapa lantai lagi, ia akan sampai di ruang rapat.

Namun, saat lift berhenti di lantai empat, pintunya terbuka.

Seorang pria masuk.

Penampilannya rapi. Kemejanya dimasukkan ke celana, rambutnya disisir klimis, dan di tangannya ada sebuah map cokelat.

Tapi wajahnya terlihat sangat serius sekaligus kebingungan, seperti orang yang baru pertama kali melihat dunia.

Neneng menoleh sebentar.

Pria itu tersenyum kaku.

Neneng membalas dengan senyum kecil, lalu kembali menatap angka lantai.

Lift kembali bergerak.

Suasana menjadi hening.

Terlalu hening.

Hanya terdengar suara mesin lift yang pelan.

Beberapa detik kemudian, pria itu tiba-tiba menoleh ke arah Neneng.

“Maaf, Mbak…”

Neneng menoleh.

“Iya, Pak?”

Pria itu menatap tombol-tombol lift dengan wajah ragu, lalu bertanya dengan suara sangat serius.

“Apakah ini lift yang menuju ke luar angkasa?”

Neneng langsung diam.

Matanya berkedip beberapa kali.

Ia menatap pria itu.

Lalu menatap tombol lift.

Lantai 5, 6, 7, 8, 9, 10.

Tidak ada tombol Bulan.

Tidak ada tombol Mars.

Tidak ada tombol Planet Saturnus.

Apalagi tombol “keluar dari galaksi”.

Neneng berusaha menahan tawa.

“Maaf, Pak… tadi Bapak bilang ke mana?”

“Ke luar angkasa,” jawab pria itu polos. “Soalnya saya dari tadi naik turun lift ini, tapi tidak sampai-sampai. Saya mulai curiga gedung ini punya jalur rahasia ke planet lain.”

Neneng akhirnya tidak kuat lagi.

Ia tertawa.

“Pak, ini lift kantor, bukan roket.”

Pria itu tampak malu, lalu menunduk melihat map di tangannya.

“Oh… pantas saja,” katanya pelan. “Saya juga merasa ada yang kurang.”

Neneng masih tersenyum.

“Apa yang kurang, Pak?”

“Helm astronot.”

Neneng tertawa semakin keras.

Pria itu ikut tertawa kecil. Suasana lift yang tadinya kaku langsung berubah menjadi hangat.

“Jadi sebenarnya Bapak mau ke lantai berapa?” tanya Neneng.

“Lantai sembilan,” jawab pria itu. “Tapi dari tadi saya salah tekan tombol. Saya masuk lift, turun, naik lagi, turun lagi. Lama-lama saya merasa sedang mengelilingi bumi.”

Neneng menggeleng sambil tertawa.

“Berarti Bapak bukan tersesat di gedung, Pak. Bapak tersesat di orbit kantor.”

Pria itu mengangguk serius.

“Betul, Mbak. Orbit kantor ini cukup membingungkan. Saya sudah mutar tiga kali, tapi belum menemukan stasiun luar angkasa.”

Neneng menunjuk tombol angka sembilan.

“Nah, ini tujuan Bapak. Lantai sembilan. Bukan Mars.”

Pria itu memperhatikan tombol itu dengan wajah seperti baru menemukan peta harta karun.

“Oh, ternyata dekat sekali. Saya kira harus melewati atmosfer dulu.”

Lift terus naik.

Lantai tujuh…

Lantai delapan…

Neneng yang awalnya panik karena hampir terlambat, kini justru lupa dengan rasa cemasnya. Pertemuan singkat dengan pria aneh itu membuat paginya terasa lebih ringan.

Akhirnya, lift berhenti di lantai sembilan.

Ting!

Pintu terbuka.

Pria itu melangkah keluar, lalu berbalik ke arah Neneng.

“Terima kasih, Mbak. Kalau nanti saya tidak kembali, berarti saya benar-benar sudah sampai Mars.”

Neneng melambaikan tangan sambil tersenyum.

“Hati-hati, Pak. Jangan lupa kirim laporan dari luar angkasa!”

Pria itu tertawa, lalu berjalan pergi menyusuri lorong kantor.

Pintu lift kembali tertutup.

Neneng sendirian lagi di dalam lift. Ia menatap angka lantai yang terus naik sambil tersenyum sendiri.

Pagi yang awalnya penuh kepanikan berubah menjadi menyenangkan hanya karena satu pertanyaan aneh.

Sejak hari itu, setiap kali Neneng naik lift, ia selalu memperhatikan tombol-tombolnya baik-baik.

Siapa tahu…

Di antara tombol lantai satu sampai sepuluh, ada satu tombol rahasia yang hanya muncul untuk orang-orang yang benar-benar tersesat.

Tombol kecil bertuliskan:

Mars.

Leave a Comment