Mamat adalah anak kecil yang sangat menyayangi kucing peliharaannya, Kety.
Bagi Mamat, Kety bukan sekadar kucing biasa. Kety adalah teman bermain, teman tidur siang, sekaligus penjaga rumah versi berbulu.
Walaupun sebenarnya pekerjaan Kety sehari-hari hanya makan, tidur, mengejar tali, lalu kembali tidur lagi.
Kety punya tubuh gemuk menggemaskan, bulu lembut, dan wajah yang selalu terlihat serius. Kalau sedang duduk di sofa, Kety tampak seperti raja kecil yang sedang mengawasi seluruh isi rumah.
Suatu siang, Mamat sedang bermain sendirian di ruang keluarga. Ia memakai handuk kecil sebagai jubah, memegang penggaris sebagai pedang, dan berpura-pura sedang berada di dunia penuh monster.
Kety, seperti biasa, berbaring santai di atas sofa. Matanya setengah tertutup. Ekornya bergerak pelan. Ia terlihat sangat tidak peduli dengan dunia.
Mamat menatap Kety, lalu muncul ide jahil di kepalanya.
“Aku mau lihat, Kety peduli nggak kalau aku dalam bahaya,” gumam Mamat.
Lalu Mamat menjatuhkan dirinya ke karpet dengan gaya dramatis.
“Tolooong! Tolooong! Aku diserang monster!”
Kety membuka satu mata.
Mamat makin semangat.
“Kety! Bantuan! Ada musuh besar! Aku tidak bisa melawannya sendiri!”
Kety mengangkat kepalanya.
Mamat menunjuk ke arah kursi kosong di depannya.
“Itu dia musuhnya! Dia besar! Dia menyeramkan!”
Padahal yang ada hanya kursi biasa.
Namun bagi Kety, suara Mamat yang panik sepertinya terdengar sangat serius.
Tiba-tiba Kety berdiri di atas sofa. Tubuhnya menegang. Matanya membulat. Ekornya bergerak cepat ke kanan dan ke kiri.
Mamat menahan tawa.
“Kety… kamu benar-benar mau menolongku?”
Belum sempat Mamat bicara lebih banyak, Kety langsung melompat dari sofa.
Hup!
Kety mendarat tepat di depan kaki Mamat dengan gaya yang sangat gagah. Sayangnya, karena badannya agak gemuk, pendaratannya tidak terlalu mulus.
Duk!
Kety hampir terguling, tapi ia segera berdiri lagi seolah-olah tidak terjadi apa-apa.
Mamat membelalakkan mata.
“Wah…”
Kety menatap kursi kosong itu dengan wajah serius. Lalu ia menggeram kecil.
“Grrr…”
Mamat langsung menutup mulutnya, berusaha tidak tertawa.
Kety maju satu langkah.
“Grrr… meong!”
Ia mengangkat satu cakarnya, lalu mencakar udara di depan kursi.
Seolah-olah benar-benar sedang mengusir monster tak terlihat.
Mamat makin larut dalam permainan.
“Hati-hati, Kety! Monster itu sangat kuat!”
Mendengar suara Mamat, Kety semakin bersemangat. Ia melompat ke kanan, mencakar udara, lalu menatap kursi dengan mata tajam.
“Meong!”
Suasana ruang keluarga berubah menjadi medan pertempuran imajinasi.
Mamat berbaring di karpet sambil berpura-pura lemah.
“Kety… hanya kamu harapanku…”
Kety berjalan mengitari Mamat seperti penjaga kerajaan. Ia berdiri di antara Mamat dan “monster” khayalan itu. Tubuh kecilnya terlihat lucu, tapi sikapnya sangat berani.
Lalu Kety tiba-tiba melompat ke arah kursi.
Bruk!
Kursi itu sedikit bergeser.
Kety kaget sendiri.
Ia mundur dua langkah, lalu menggeram lagi seolah-olah berkata, “Jangan macam-macam denganku!”
Mamat sudah tidak tahan lagi.
Ia tertawa terbahak-bahak.
“Hahahaha! Kety! Kamu benar-benar superhero yang lucu!”
Kety menoleh ke arah Mamat dengan wajah bingung.
Seakan-akan ia berkata, “Kenapa tertawa? Aku baru saja menyelamatkan hidupmu.”
Mamat bangun, lalu memeluk Kety erat-erat.
“Terima kasih, Kety. Kamu hebat sekali!”
Kety mengeong pelan, lalu menjilat tangannya sendiri dengan santai. Setelah merasa tugasnya selesai, ia kembali naik ke sofa dan berbaring seperti pahlawan yang baru pulang dari medan perang.
Sore harinya, Mamat menceritakan kejadian itu kepada ayah dan ibunya.
“Kety tadi menyelamatkanku dari monster!” kata Mamat penuh semangat.
Ayahnya tertawa.
“Monster apa?”
Mamat menunjuk kursi di ruang keluarga.
“Itu.”
Ibunya ikut tertawa.
Sejak hari itu, Mamat mulai memanggil Kety dengan julukan baru.
“Kety si Kucing Superhero!”
Kabar itu sampai ke teman-teman Mamat di lingkungan rumah. Setiap kali mereka datang bermain, mereka selalu menyapa Kety dengan hormat.
“Halo, Kucing Superhero!”
Kety hanya menatap mereka sebentar, lalu kembali tidur.
Karena bagi Kety, menjadi superhero memang melelahkan.
Apalagi kalau harus menyelamatkan manusia dari kursi kosong.




Leave a Comment