Kurma yang Tidak Mau Nyala

Junaedi

15/06/2026

4
Min Read
Kurma yang Tidak Mau Nyala

On This Post

Sore itu, suasana rumah Pak Udin dan istrinya terasa hangat.

Aroma gorengan baru matang memenuhi ruang makan. Di meja sudah tersedia kolak pisang, es teh manis, sambal, tahu isi, dan beberapa butir kurma yang tersusun rapi di piring kecil.

Adzan magrib tinggal menunggu beberapa menit lagi.

Istri Pak Udin sedang sibuk menata makanan di meja. Sesekali ia melirik suaminya yang sudah duduk manis di kursi, menatap jam dinding dengan wajah penuh perjuangan.

Tangan Pak Udin bergerak gelisah.

Bukan ke arah kolak.

Bukan ke arah gorengan.

Tapi ke arah saku bajunya.

Istrinya langsung menyipitkan mata.

“Pak…”

Pak Udin pura-pura tidak dengar.

Ia bersiul kecil, padahal suaranya fals.

“Pak Udin…”

Pak Udin menoleh pelan.

“Iya, Sayang?”

Istrinya menunjuk saku bajunya.

“Itu tangan dari tadi mau ambil apa?”

Pak Udin langsung menarik tangannya.

“Tidak ada. Cuma memastikan saku masih ada.”

Istrinya menghela napas.

“Pak, Ibu tahu. Bapak mau ambil rokok, kan?”

Pak Udin tersenyum canggung.

“Namanya juga habis puasa, Sayang. Tenggorokan perlu… pemanasan.”

“Pemanasan itu minum air putih, Pak. Bukan merokok.”

Pak Udin diam.

Istrinya duduk di depannya dengan wajah serius.

“Pak, apa tidak bisa sekali-sekali buka puasa itu tidak pakai rokok?”

Pak Udin menggaruk kepala.

“Ya… bisa saja.”

“Coba diganti yang lebih sehat. Misalnya kurma.”

Pak Udin melirik piring kecil berisi kurma.

Kurma itu tampak tenang.

Tidak bersalah.

Tidak tahu bahwa sebentar lagi akan terseret dalam masalah rumah tangga.

Istrinya tersenyum.

“Nabi juga menganjurkan buka puasa dengan kurma. Lebih baik, lebih sehat, lebih berkah.”

Pak Udin mengangguk pelan.

“Iya, Sayang. Aku tahu.”

“Nah, mulai hari ini Bapak coba, ya. Kalau adzan nanti, jangan langsung cari rokok. Ambil kurma dulu.”

Pak Udin menatap kurma itu lama sekali.

Lalu ia berkata dengan wajah datar,

“Kalau itu sebenarnya sudah pernah aku coba.”

Istrinya langsung berbinar.

“Serius, Pak?”

“Serius.”

“Nah, begitu dong! Ibu senang dengarnya. Terus gimana hasilnya?”

Pak Udin menghela napas panjang.

“Nggak ada hasilnya.”

Istrinya mengernyit.

“Kok nggak ada hasilnya?”

“Iya. Beneran.”

“Bapak sudah coba makan kurma waktu buka puasa?”

“Sudah.”

“Terus?”

“Ya tetap saja.”

Istrinya mulai bingung.

“Tetap saja bagaimana?”

Pak Udin menjawab dengan sangat serius,

“Aku sudah coba berkali-kali, Sayang. Tapi kurmanya nggak mau nyala.”

Ruangan langsung hening.

Sangat hening.

Bahkan sendok di meja seperti berhenti berkilau karena malu.

Istrinya menatap Pak Udin lama sekali.

“Pak…”

“Iya?”

“Kurma itu dimakan.”

Pak Udin mengangguk.

“Iya, aku tahu.”

“Bukan disulut pakai korek.”

Pak Udin diam sebentar.

Lalu menjawab polos,

“Makanya aku bilang nggak ada hasilnya.”

Istrinya memejamkan mata sambil menarik napas panjang.

“Ya Allah… sabarkan hamba-Mu ini.”

Pak Udin mencoba membela diri.

“Lho, Ibu tadi bilang ganti rokok dengan kurma. Jadi aku pikir cara pakainya sama.”

Istrinya langsung melotot.

“Pak Udin! Masa kurma mau dihisap?”

Pak Udin tersenyum kecil.

“Kalau bisa, mungkin rasanya manis.”

Istrinya mengambil satu kurma dari piring, lalu menyodorkannya ke tangan Pak Udin.

“Ini. Pegang.”

Pak Udin menurut.

“Sudah.”

“Sekarang buka mulut.”

Pak Udin membuka mulut.

“Masukkan kurmanya.”

Pak Udin memasukkan kurma ke mulut.

“Kunyah.”

Pak Udin mengunyah pelan.

Istrinya menatap tajam.

“Gimana?”

Pak Udin mengangguk.

“Enak juga.”

“Nah, kan!”

“Tapi…”

Istrinya langsung curiga.

“Tapi apa?”

Pak Udin menelan kurma itu, lalu berkata pelan,

“Kalau habis makan kurma, boleh merokok?”

Istrinya langsung mengambil piring kurma dan menaruhnya lebih dekat ke Pak Udin.

“Tidak boleh. Makan lagi.”

Pak Udin terkejut.

“Lagi?”

“Iya. Setiap kali Bapak kepikiran rokok, makan kurma.”

Pak Udin melihat piring itu.

“Sayang…”

“Apa?”

“Kalau begitu, kurmanya tidak cukup.”

Istrinya menepuk jidat.

“Berarti masalahnya bukan di kurma. Masalahnya di kebiasaan Bapak!”

Pak Udin menunduk sebentar.

Lalu ia mencoba merayu.

“Tapi aku kan sudah usaha.”

“Usaha apa?”

“Usaha menyalakan kurma.”

Istrinya berdiri.

“Pak Udin!”

Pak Udin langsung duduk tegak.

“Iya, iya. Maaf.”

Adzan magrib pun terdengar dari masjid.

Istrinya tersenyum sedikit.

“Nah, buka dulu. Baca doa, minum air, makan kurma.”

Pak Udin mengikuti dengan patuh.

Ia minum air putih.

Lalu makan satu kurma lagi.

Istrinya tampak lega.

“Begitu lebih baik, Pak.”

Pak Udin mengangguk.

“Iya, Sayang. Ternyata buka puasa pakai kurma itu enak.”

Istrinya tersenyum bangga.

“Syukurlah. Jadi mulai sekarang Bapak bisa mengurangi rokok.”

Pak Udin terdiam sebentar.

Lalu bertanya hati-hati,

“Kalau besok kurmanya diganti pisang goreng, boleh?”

Istrinya menyipitkan mata.

“Kenapa?”

Pak Udin menjawab polos,

“Soalnya pisang goreng juga nggak bisa nyala. Jadi aman.”

Istrinya langsung mengangkat sendok.

“Pak!”

Pak Udin buru-buru mengambil kurma lagi.

“Iya, iya. Aku makan kurma saja.”

Sejak hari itu, setiap buka puasa, istrinya selalu menyiapkan kurma di meja.

Bukan hanya sebagai sunnah berbuka.

Tapi juga sebagai alat pengalihan darurat.

Setiap tangan Pak Udin mulai bergerak ke saku baju, istrinya langsung berkata,

“Pak, jangan cari korek. Cari kurma.”

Dan Pak Udin hanya bisa mengangguk pasrah.

Karena akhirnya ia paham.

Kurma memang tidak bisa nyala.

Tapi kalau dimakan dengan benar, setidaknya rumah tangga bisa tetap menyala damai.