Malam itu, Bejo berdiri di depan cermin kamar dengan wajah sangat serius.
Ia memakai kemeja terbaiknya, menyisir rambutnya berkali-kali, lalu menyemprotkan parfum sedikit lebih banyak dari biasanya.
Istrinya, Lilis, muncul dari balik pintu sambil tersenyum.
“Mas, itu parfum atau mau mandi parfum?”
Bejo langsung menurunkan botol parfum.
“Biar wangi, Lis. Malam ini kan spesial. Ulang tahun pernikahan kita.”
Lilis tertawa kecil.
Beberapa saat kemudian, mereka berangkat ke sebuah restoran mewah di tengah kota.
Restoran itu terkenal dengan lampu gantungnya yang indah, musik pelan, dan menu makanan yang nama-namanya terdengar seperti pelajaran bahasa asing.
Begitu masuk, Bejo langsung berusaha terlihat tenang.
Padahal dalam hati ia gugup.
Ia ingin malam itu berjalan sempurna. Tidak ada salah bicara, tidak ada salah tingkah, dan yang paling penting, tidak ada kejadian memalukan.
Namun, biasanya justru saat Bejo berusaha terlihat keren, di situlah masalah mulai muncul.
Mereka duduk di meja dekat jendela. Di luar, lampu kota berkelip indah. Lilis tampak senang, sementara Bejo mulai membuka buku menu dengan gaya percaya diri.
Namun, begitu melihat daftar makanan, matanya langsung membesar.
“Lis,” bisiknya pelan, “ini menu makanan atau daftar nama bangsawan?”
Lilis menahan tawa.
“Pilih saja yang kamu tahu, Mas.”
Bejo mengangguk. Ia melihat satu menu yang cukup familiar.
Steak.
“Nah, ini aman,” gumamnya.
Ia pernah menonton video tentang cara memesan steak. Katanya, kalau ingin terlihat seperti orang yang sering makan di restoran mewah, pesanlah steak dengan tingkat kematangan tertentu.
Bejo pun membaca pelan-pelan dalam hati.
Medium rare.
Ia mengulanginya beberapa kali.
“Mi-di-yem rer…”
Lilis menatapnya heran.
“Mas lagi baca mantra?”
“Bukan. Ini teknik pemesanan internasional.”
Tak lama kemudian, seorang pelayan datang dengan senyum ramah.
“Selamat malam, Bapak, Ibu. Sudah siap memesan?”
Lilis memesan makanan lebih dulu dengan lancar.
Giliran Bejo tiba.
Ia menegakkan badan, memperbaiki posisi duduk, lalu tersenyum penuh wibawa.
“Saya pesan steak.”
“Baik, Pak. Tingkat kematangannya mau seperti apa?”
Inilah saat yang ditunggu Bejo.
Ia menarik napas pelan.
Lilis memperhatikannya dengan senyum kecil.
Bejo ingin mengucapkannya dengan gaya elegan.
Namun, karena terlalu percaya diri, lidahnya mendadak bekerja sama dengan gugup.
“Saya mau steak… medium weird.”
Pelayan itu berhenti menulis.
Lilis langsung menoleh.
Bejo masih tersenyum, belum sadar.
Pelayan mengangkat wajah perlahan.
“Maaf, Pak… medium apa?”
Bejo menjawab lebih yakin.
“Medium weird.”
Pelayan itu tampak bingung.
“Medium… aneh, Pak?”
Barulah Bejo membeku.
Matanya berkedip.
Ia menatap pelayan.
Lalu menatap Lilis.
Lilis sudah menutup mulutnya, berusaha keras menahan tawa.
Bejo langsung sadar.
“Eh! Maksud saya medium rare. Rare. Bukan weird.”
Pelayan itu ikut tersenyum, mencoba tetap sopan.
“Oh, medium rare, Pak.”
“Iya, itu. Yang biasa. Bukan yang aneh-aneh.”
Lilis akhirnya tidak tahan lagi. Ia tertawa keras sampai hampir menjatuhkan serbet.
“Hahaha! Medium aneh! Mas, itu baru pertama kali aku dengar ada pesanan steak seperti itu!”
Bejo tertawa malu-malu sambil mengusap wajahnya.
“Aku cuma ingin terlihat keren, Lis.”
“Berhasil, Mas,” jawab Lilis sambil masih tertawa. “Keren sekali. Sampai steak-nya punya kepribadian sendiri.”
Pelayan pun ikut tersenyum.
“Baik, Pak. Satu steak medium rare. Bukan medium weird.”
Bejo mengangguk cepat.
“Iya, Mas. Tolong jangan bilang ke kokinya. Nanti dia benar-benar masak steak yang aneh.”
Setelah pelayan pergi, Lilis masih tertawa kecil.
Bejo mencoba bersikap biasa, tetapi telinganya sudah merah karena malu.
“Lis, jangan dibahas lagi ya.”
Lilis mengangguk.
“Tentu, Mas.”
Bejo lega.
Namun, beberapa detik kemudian, Lilis mencondongkan tubuh dan berbisik.
“Tapi kalau steak-nya nanti datang sambil pakai kacamata hitam, berarti benar-benar medium weird.”
Bejo langsung tertawa.
Suasana makan malam yang awalnya dibuat serius dan elegan berubah menjadi penuh tawa. Bejo tidak lagi terlalu sibuk ingin terlihat sempurna. Lilis pun justru terlihat semakin bahagia.
Ketika steak datang, pelayan meletakkannya di depan Bejo sambil tersenyum.
“Ini steak medium rare-nya, Pak.”
Bejo menatap steak itu dengan lega.
“Syukurlah. Kelihatannya normal.”
Lilis tertawa lagi.
“Coba tanya dulu, Mas. Siapa tahu dia punya sifat aneh.”
Bejo mengangkat garpu dan pisau, lalu berkata pelan kepada steaknya.
“Permisi, kamu medium rare atau medium weird?”
Lilis tertawa sampai matanya berair.
Malam itu, Bejo mungkin gagal terlihat seperti pria paling elegan di restoran.
Tapi ia berhasil membuat istrinya tertawa lepas di hari ulang tahun pernikahan mereka.
Dan bagi Bejo, itu jauh lebih berharga daripada memesan steak dengan pengucapan sempurna.
Sejak malam itu, setiap kali mereka melewati restoran mewah, Lilis selalu menggoda Bejo.
“Mas, kapan kita makan steak medium aneh lagi?”
Bejo hanya geleng-geleng kepala sambil tersenyum.
Karena dalam pernikahan mereka, kadang momen paling indah bukan datang dari sesuatu yang sempurna.
Melainkan dari kesalahan kecil yang berubah menjadi kenangan lucu.






Leave a Comment