Bapak Pelit Naik Helikopter

Junaedi

13/06/2026

5
Min Read
Bapak Pelit Naik Helikopter

On This Post

Di sebuah kota kecil, hiduplah seorang bapak yang terkenal sangat pelit.

Namanya Pak Darman.

Saking pelitnya, kalau ia melihat uang seribu rupiah jatuh di jalan, ia bukan hanya mengambilnya, tapi juga menatap sekeliling sambil berkata,

“Siapa tahu ada temannya.”

Di rumah, keluarganya sudah hafal betul sifat Pak Darman.

Kalau lampu menyala terlalu lama, ia langsung berteriak.

“Matikan! Matahari saja gratis, kenapa lampu dinyalakan?”

Kalau anaknya minta jajan, ia langsung berkata,

“Jajan itu hanya membuat perut bahagia sementara, tapi dompet menangis selamanya.”

Namun, walaupun sangat pelit, Pak Darman sangat menyayangi anaknya.

Anak satu-satunya itu bernama Riko.

Suatu hari, Riko melihat ada wahana naik helikopter di lapangan besar dekat kota. Banyak orang antre. Helikopter itu terbang rendah mengelilingi kota, membuat anak-anak berteriak senang.

Riko langsung menarik tangan bapaknya.

“Pak, aku mau naik helikopter!”

Pak Darman langsung berhenti seperti baru mendengar kabar buruk.

“Naik apa?”

“Helikopter, Pak!”

Pak Darman menatap helikopter itu dari jauh.

“Riko, helikopter itu tidak perlu dinaiki. Dilihat dari bawah juga sudah terbang.”

“Tapi aku mau rasain, Pak. Sekali saja.”

Pak Darman menggeleng.

“Sekali saja itu awal dari pemborosan. Dulu Bapak juga pernah bilang sekali saja beli bakso, sekarang tiap lewat tukang bakso perut langsung demo.”

Riko memasang wajah memelas.

“Ayolah, Pak. Aku belum pernah naik helikopter.”

Pak Darman mencoba mengalihkan pembicaraan.

“Naik kursi di rumah saja. Nanti Bapak goyang-goyangkan, rasanya mirip.”

“Tidak sama, Pak!”

Riko terus memohon.

Akhirnya, karena tidak tega melihat anaknya kecewa, Pak Darman menghela napas panjang.

“Baiklah. Tapi ini karena Bapak sayang kamu.”

Riko langsung bersorak.

“Asyik! Terima kasih, Pak!”

Pak Darman menunjuk wajah Riko.

“Tapi ingat. Kalau nanti ada biaya tambahan untuk senyum, kamu jangan senyum.”

Mereka pun berjalan menuju tempat pendaftaran helikopter.

Di sana, seorang pilot berdiri dengan kacamata hitam dan senyum percaya diri.

“Selamat sore, Pak. Mau naik helikopter?”

Pak Darman langsung bertanya,

“Berapa?”

Pilot menjawab,

“Sekali naik 100 dolar.”

Pak Darman hampir pingsan.

“Seratus dolar?! Itu naik helikopter atau beli baling-balingnya?”

Pilot tertawa.

“Tenang, Pak. Ada tantangan khusus.”

Pak Darman langsung tertarik.

“Tantangan apa?”

Pilot menjelaskan,

“Kalau Bapak dan anak Bapak naik, tarifnya 100 dolar. Tapi selama di udara, Bapak tidak boleh bicara sepatah kata pun.”

Pak Darman menyipitkan mata.

“Kalau bicara?”

“Denda 500 dolar.”

Pak Darman langsung menutup mulutnya dengan tangan.

Pilot melanjutkan,

“Tapi kalau Bapak bisa diam sampai mendarat, saya kasih hadiah 1000 dolar.”

Mata Pak Darman langsung berbinar.

“Seribu dolar?”

“Iya, Pak.”

Pak Darman langsung berubah semangat.

Dalam pikirannya, angka-angka mulai menari.

Bayar 100 dolar.

Diam sebentar.

Dapat 1000 dolar.

Untung 900 dolar.

Pak Darman langsung menatap Riko.

“Nak, kita naik!”

Riko senang bukan main.

“Asyik!”

Pak Darman berbisik,

“Tapi nanti jangan banyak gaya. Bapak sedang menjalankan misi keuangan keluarga.”

Mereka pun naik ke helikopter.

Riko duduk di samping bapaknya dengan wajah penuh semangat.

Pak Darman duduk kaku, kedua bibirnya tertutup rapat seperti pintu toko saat Lebaran.

Pilot tersenyum dari depan.

“Siap, Pak?”

Pak Darman hanya mengangguk.

Ia tidak mau mengambil risiko kehilangan uang.

Helikopter mulai terbang.

Awalnya pelan.

Riko tertawa senang.

“Wah, Pak! Lihat! Rumah kita kecil sekali!”

Pak Darman ingin menjawab, tapi langsung menahan diri.

Ia hanya mengangkat jempol.

Pilot melirik dari depan.

“Masih aman, Pak?”

Pak Darman tetap diam.

Pilot mulai penasaran.

“Wah, ini bapak kuat juga.”

Lalu pilot mulai melakukan manuver.

Helikopter naik tinggi.

Turun mendadak.

Miring ke kiri.

Miring ke kanan.

Berputar pelan.

Riko berteriak senang.

“Wuuuh! Seru, Pak!”

Pak Darman memejamkan mata.

Dalam hatinya ia terus membaca mantra,

“Seribu dolar… seribu dolar… seribu dolar…”

Pilot merasa tertantang.

Ia membuat helikopter bergerak lebih ekstrem.

Naik.

Turun.

Berputar.

Hampir seperti jungkir balik di udara.

Biasanya, penumpang sudah teriak-teriak.

Tapi Pak Darman tetap diam.

Bibirnya terkunci.

Matanya melotot.

Tangannya menggenggam kursi kuat-kuat.

Pilot semakin heran.

“Hebat juga bapak ini,” pikirnya.

Setelah beberapa menit, helikopter akhirnya mendarat.

Pilot membuka pintu dengan wajah kagum.

“Pak, saya salut.”

Pak Darman turun dengan tubuh gemetar.

Pilot menepuk bahunya.

“Bapak benar-benar hebat. Dari tadi saya bikin helikopter naik, turun, miring, mutar, tetap saja Bapak tidak bicara sepatah kata pun.”

Pak Darman menghela napas panjang.

“Iya…”

Pilot tersenyum.

“Sesuai janji, Bapak berhak dapat 1000 dolar.”

Pak Darman langsung tersenyum lega.

Namun pilot masih penasaran.

“Jujur, Pak. Selama di atas tadi, Bapak benar-benar tidak ingin bicara sama sekali?”

Pak Darman menunduk sedikit.

“Sebenarnya… ada satu kali saya hampir bicara.”

Pilot terkejut.

“Oh ya? Waktu kapan?”

Pak Darman menjawab pelan,

“Waktu helikopter miring tadi.”

Pilot tertawa.

“Pasti Bapak mau teriak karena takut, ya?”

Pak Darman menggeleng.

“Bukan.”

“Lalu mau bilang apa?”

Pak Darman mengusap wajahnya, lalu berkata dengan polos,

“Saya mau bilang… anak saya jatuh.”

Pilot langsung membeku.

Senyumnya hilang.

Angin sore terasa mendadak berhenti.

Beberapa orang di sekitar ikut terdiam.

Pilot menatap kursi belakang helikopter.

Kosong.

Lalu ia menatap Pak Darman dengan mata membesar.

“Pak! Kenapa tidak bilang dari tadi?!”

Pak Darman menjawab dengan wajah sangat serius,

“Saya takut didenda 500 dolar.”

Pilot memegang kepala.

“Pak! Itu anak Bapak!”

Pak Darman mengangguk pelan.

“Iya. Tapi dendanya juga besar.”

Pilot hampir jatuh lemas.

Tidak lama kemudian, untungnya Riko ditemukan di tumpukan jerami dekat lapangan. Ia jatuh saat helikopter masih tidak terlalu tinggi dan hanya lecet sedikit.

Riko menangis sambil berlari ke arah bapaknya.

“Pak! Aku jatuh!”

Pak Darman memeluk anaknya.

“Syukurlah kamu selamat, Nak.”

Riko terisak.

“Tapi Bapak kenapa tidak bilang ke pilot?”

Pak Darman menatap anaknya dengan penuh kasih sayang.

“Bapak mau bilang, Nak.”

“Terus kenapa tidak jadi?”

Pak Darman menjawab pelan,

“Karena cinta Bapak kepadamu besar…”

Riko mulai terharu.

“Tapi?”

Pak Darman melanjutkan,

“…tapi denda 500 dolar itu juga besar.”

Riko langsung melotot.

“Bapaaaak!”

Sejak hari itu, Riko tidak pernah lagi mengajak Pak Darman naik helikopter.

Bukan karena takut terbang.

Tapi karena ia sadar, kalau bersama bapaknya, yang paling kuat bukan sabuk pengaman.

Melainkan prinsip hemat.