Saripudin Mengaku Hamil

admin

09/06/2026

5
Min Read
Saripudin Mengaku Hamil

On This Post

Siang itu, suasana rumah Mak Sari terasa cukup tenang.

Mak Sari sedang duduk di ruang tengah sambil memilah-milah cabai. Sesekali ia mengipasi wajahnya dengan ujung kain karena udara terasa gerah.

Di luar rumah, ayam berkeliaran.

Di dapur, air mendidih pelan.

Semuanya tampak biasa saja.

Sampai tiba-tiba, pintu depan terbuka perlahan.

Sari masuk dengan wajah pucat.

Langkahnya pelan.

Matanya celingukan.

Tangannya memegang perut seperti orang sedang menyimpan rahasia besar.

Mak Sari menoleh.

“Lho, Sari? Kenapa muka kau pucat begitu? Dikejar anjing?”

Sari tidak langsung menjawab.

Ia menutup pintu pelan, lalu berjalan mendekati ibunya.

“Mak…”

Mak Sari mulai curiga.

“Apa?”

Sari menelan ludah.

“Bapak mana, Mak?”

“Ke luar kota,” jawab Mak Sari sambil kembali memilah cabai. “Kenapa kau cari Bapak? Mau minta uang jajan?”

Sari menggeleng pelan.

“Bukan, Mak.”

“Terus?”

Sari duduk di kursi dengan tubuh gemetaran.

“Mak… janji jangan marah ya.”

Mak Sari langsung berhenti memilah cabai.

Kalimat seperti itu biasanya bukan pembuka kabar baik.

“Kalau kau bilang jangan marah, berarti memang ada alasan untuk marah.”

Sari menunduk.

“Maaf ya, Mak…”

Mak Sari mulai tegang.

“Kau pecahkan kaca rumah tetangga?”

Sari menggeleng.

“Kau utang di warung?”

Sari menggeleng lagi.

“Kau jual ayam Mamak?”

“Bukan, Mak.”

“Terus apa?”

Sari menarik napas panjang.

Lalu dengan suara kecil, ia berkata,

“Kayaknya… aku hamil, Mak.”

Cabai di tangan Mak Sari langsung jatuh ke lantai.

Matanya membesar.

Mulutnya terbuka.

Beberapa detik ia hanya diam, seperti sedang memastikan telinganya masih berfungsi dengan baik.

“Apa kau bilang?”

Sari semakin gemetar.

“Aku hamil, Mak.”

Mak Sari berdiri mendadak.

“Hamil?!”

Sari mengangguk pelan.

“Iya, Mak.”

Mak Sari mondar-mandir di ruang tengah sambil memegang kepala.

“Ya ampun! Ya ampun! Anak zaman sekarang! Baru juga Mamak tinggal sebentar di dapur, sudah ada berita seperti sinetron sore!”

Sari mulai tersedu.

“Hikss… maaf, Mak…”

Mak Sari menunjuk Sari.

“Jangan menangis dulu! Mamak belum selesai panik!”

Sari makin menunduk.

Mak Sari menarik napas panjang, lalu duduk kembali. Ia berusaha menenangkan diri, meskipun wajahnya sudah seperti orang habis melihat harga cabai naik dua kali lipat.

“Coba kau jelaskan baik-baik. Sejak kapan kau merasa begitu?”

Sari mengusap air matanya.

“Akhir-akhir ini, Mak.”

“Akhir-akhir ini bagaimana?”

“Aku sering muntah-muntah.”

Mak Sari menatapnya tajam.

“Muntah-muntah?”

“Iya, Mak.”

Mak Sari berpikir sebentar, lalu mengibaskan tangan.

“Ah, palingan kau masuk angin.”

Sari mengangkat wajah.

“Tapi, Mak…”

“Apa lagi?”

“Aku juga suka makan yang asem-asem.”

Mak Sari menyipitkan mata.

“Asam-asam apa?”

“Mangga muda, jeruk nipis, kadang sambal pakai cuka.”

Mak Sari menggeleng.

“Itu bukan hamil. Itu lidah kau saja yang sedang cari perkara.”

Sari kembali menangis pelan.

“Tapi rasanya aneh, Mak. Perutku juga sering tidak enak.”

Mak Sari langsung menunjuk dapur.

“Makanya kalau makan jangan sembarangan! Kemarin kau makan bakso pakai sambal satu mangkuk, terus minum es. Perut kau itu bukan drum penampungan!”

Sari memegang perutnya lagi.

“Tapi aku takut, Mak.”

“Takut apa?”

“Takut benar-benar hamil.”

Mak Sari menatap Sari lama sekali.

Wajahnya berubah.

Dari panik, menjadi bingung.

Dari bingung, menjadi curiga.

Dari curiga, menjadi kesal.

Ia lalu mendekat pelan-pelan.

“Sari…”

Sari menelan ludah.

“Iya, Mak?”

“Nama lengkap kau siapa?”

Sari terdiam.

Mak Sari mengulang dengan suara lebih keras.

“Nama lengkap kau siapa?”

Sari menjawab pelan,

“Saripudin, Mak.”

Mak Sari langsung menepuk jidat.

“Nah! Itu dia!”

Sari masih tampak bingung.

“Kenapa, Mak?”

Mak Sari menunjuknya dengan cabai di tangan.

“Berhentilah kau mengkhayal, Saripudin!”

Sari terkejut.

“Tapi, Mak…”

“Tidak ada tapi-tapian!”

Mak Sari berkacak pinggang.

“Kau itu laki-laki! Laki-laki mana pula bisa hamil dan melahirkan?”

Sari alias Saripudin langsung terdiam.

Ia menunduk sambil menggaruk kepala.

“Tapi gejalanya mirip, Mak…”

“Gejala apanya mirip?! Kau itu bukan hamil. Kau kebanyakan makan rujak, masuk angin, dan terlalu banyak nonton sinetron!”

Saripudin membela diri pelan.

“Tapi di sinetron kemarin, orang hamil suka mual dan makan asem-asem.”

Mak Sari melotot.

“Makanya jangan semua yang di televisi kau praktikkan ke badan sendiri!”

Saripudin mengangguk takut.

Mak Sari mengambil minyak angin dari meja, lalu menyodorkannya.

“Nih. Pakai ini.”

Saripudin menerima minyak angin itu.

“Dioles di perut, Mak?”

“Iya. Terus setelah itu kau tidur.”

“Kalau besok masih mual?”

“Kau kurangi sambal.”

“Kalau masih suka asem-asem?”

“Kau bayar sendiri mangga muda di warung.”

Saripudin langsung terdiam.

Mak Sari kembali duduk sambil mengomel.

“Dasar anak! Mamak kira mau dapat cucu, rupanya dapat laporan masuk angin.”

Saripudin tersenyum malu-malu.

“Berarti aku nggak hamil ya, Mak?”

Mak Sari menatapnya tajam.

“Saripudin…”

“Iya, Mak?”

“Kalau kau hamil, Mamak bukan cuma kaget.”

“Terus?”

“Mamak langsung panggil wartawan, dokter, ustaz, kepala desa, sama tukang bakso yang bikin kau masuk angin itu!”

Saripudin tertawa kecil.

Namun Mak Sari belum selesai.

“Dan mulai sekarang, jangan panggil dirimu Sari kalau lagi panik. Mamak hampir copot jantung!”

Saripudin mengangguk.

“Iya, Mak.”

“Besok-besok kalau mual, bilang mual. Jangan langsung bilang hamil!”

Saripudin mengusap perutnya.

“Baik, Mak.”

Mak Sari menunjuk kamar.

“Sekarang pergi istirahat!”

Saripudin berdiri pelan.

Namun sebelum masuk kamar, ia berhenti sebentar.

“Mak…”

“Apa lagi?”

“Kalau aku cuma masuk angin, berarti nanti nggak ngidam ya?”

Mak Sari langsung mengambil sandal.

“Saripudin!”

Saripudin buru-buru lari ke kamar.

Dari dalam kamar, suaranya masih terdengar pelan.

“Ya sudah, Mak! Aku nggak ngidam! Cuma pengen mangga muda sedikit!”

Mak Sari menghela napas panjang sambil menggeleng-geleng kepala.

“Ya Allah… anak satu ini bukan hamil. Tapi memang bikin Mamak melahirkan kesabaran tiap hari.”

Sejak hari itu, setiap kali Saripudin mengeluh mual, Mak Sari langsung berkata,

“Minyak angin ada di meja. Jangan mulai drama hamil lagi!”

Dan Saripudin hanya bisa nyengir sambil memegang perut.

Karena ternyata, yang ia kira tanda-tanda kehamilan…

hanyalah tanda-tanda kebanyakan rujak.

Leave a Comment