Katak dan Ramalan Cinta

admin

27/05/2026

5
Min Read
Katak dan Ramalan Cinta

On This Post

Suatu sore yang tenang, di sebuah kolam kecil di pinggir hutan, seekor katak bernama Koko duduk termenung di atas daun teratai.

Biasanya, Koko adalah katak paling ceria di kolam itu.

Setiap pagi ia melompat dari satu daun teratai ke daun lainnya sambil bernyanyi dengan suara lantang.

“Krok… krok… krok!”

Ia bahkan sering menganggap dirinya penyanyi terbaik di antara para katak, meskipun katak-katak lain lebih sering menutup telinga daripada bertepuk tangan.

Namun hari itu, Koko berbeda.

Ia duduk diam sambil memandangi bayangannya di permukaan air.

Matanya sayu.

Pipinya kempis.

Dan suaranya tidak sekencang biasanya.

“Apa aku ini kurang menarik?” gumam Koko pelan. “Kulitku hijau mengilap, mataku besar, lompatanku tinggi, suaraku juga khas. Tapi kenapa sampai sekarang aku masih sendiri?”

Ia menarik napas panjang.

“Huh… mungkin cinta memang belum mengenal bakatku.”

Seekor capung yang sedang terbang santai di dekat kolam berhenti di atas sebatang ranting.

Capung itu menatap Koko sambil menahan tawa.

“Wah, wah, wah. Ada katak galau rupanya.”

Koko langsung menoleh.

“Aku tidak galau,” katanya cepat. “Aku hanya sedang menganalisis masa depan hubungan asmara secara mendalam.”

Capung mengangguk-angguk pura-pura paham.

“Oh, jadi galau versi ilmiah.”

Koko cemberut.

“Aku serius. Aku ingin tahu apakah suatu hari nanti ada gadis cantik yang menyukaiku.”

Capung berpikir sebentar, lalu berkata, “Kalau begitu, pergilah ke rumah Madam Lulu di ujung hutan.”

“Madam Lulu?”

“Iya. Dia peramal terkenal. Katanya, dia bisa melihat masa depan siapa saja. Dari urusan jodoh, rezeki, sampai siapa yang mengambil sandal di depan masjid.”

Mata Koko langsung berbinar.

“Benarkah dia sehebat itu?”

Capung mengangguk.

“Tapi ingat, ramalannya kadang agak… mengejutkan.”

Koko berdiri dengan penuh semangat.

“Tidak masalah! Aku siap mendengar masa depanku!”

Tanpa menunggu lama, Koko langsung melompat menuju ujung hutan.

Hop!

Hop!

Hop!

Ia melewati semak-semak, meloncati batu licin, menyusuri jalan berlumpur, dan hampir saja menabrak seekor siput yang sedang berjalan sangat lambat di tengah jalan.

“Hei, hati-hati!” teriak siput.

“Maaf! Aku sedang mengejar masa depan cintaku!” jawab Koko sambil terus melompat.

Setelah perjalanan yang cukup panjang, akhirnya Koko sampai di depan sebuah gubuk kecil yang tampak misterius.

Di depan pintunya tergantung papan kayu bertuliskan:

Madam Lulu
Peramal Cinta, Rezeki, Nasib, dan Kehilangan Sandal Sebelah.

Koko menelan ludah.

“Tempatnya meyakinkan sekali,” katanya pelan. “Terutama bagian sandal sebelah.”

Ia lalu mengetuk pintu.

Tok… tok… tok…

Pintu terbuka perlahan.

Kriiiit…

Seorang peramal tua muncul dari balik pintu. Ia memakai selendang ungu, kacamata besar, kalung panjang, dan membawa bola kristal yang berkilau terkena cahaya lilin.

“Masuklah,” kata Madam Lulu dengan suara berat. “Aku sudah menunggumu, wahai makhluk kecil yang sedang kacau hatinya.”

Koko terkejut.

“Wah! Madam tahu aku sedang kacau hati?”

Madam Lulu tersenyum tipis.

“Tentu saja. Wajahmu terlihat seperti katak yang baru sadar mantannya sudah punya pasangan baru.”

Koko langsung menunduk malu.

“Tidak separah itu juga, Madam…”

“Duduklah.”

Koko melihat sebuah kursi kecil di depannya. Karena tubuhnya mungil, ia harus melompat tiga kali sebelum berhasil naik ke atas kursi.

Hop!

Hop!

Hap!

Akhirnya ia duduk dengan posisi tegak, meskipun kakinya menggantung di udara.

Madam Lulu mengambil tangan kecil Koko dan mulai mengamati telapaknya.

Ia mengerutkan dahi.

“Hmmm…”

Koko ikut tegang.

Madam Lulu memiringkan kepala.

“Hmmmm…”

Koko semakin gugup.

Madam Lulu mendekatkan wajahnya ke telapak tangan Koko.

“HMMMM…”

Koko tidak tahan lagi.

“Madam, kalau terlalu lama bilang hmmm, jantung saya bisa lompat duluan sebelum badan saya.”

Madam Lulu berdeham.

“Baiklah. Aku sudah melihat masa depan cintamu.”

Koko langsung duduk lebih tegak.

“Bagaimana, Madam? Apakah aku akan beruntung dalam asmara?”

Madam Lulu menarik napas panjang.

“Aku punya kabar baik dan kabar buruk.”

Koko menelan ludah.

“Kabar baik dulu, Madam. Aku butuh harapan.”

Madam Lulu mengangguk.

“Kabar baiknya, suatu hari nanti kamu akan bertemu dengan seorang gadis cantik.”

Mata Koko langsung membesar.

“Gadis cantik?”

“Ya,” jawab Madam Lulu. “Gadis itu akan sangat tertarik padamu.”

Koko mulai tersenyum lebar.

“Wah…”

“Dia akan memperhatikanmu dengan sangat serius. Dia ingin mengetahui segala sesuatu tentang dirimu.”

Koko memegang dadanya.

“Akhirnya… ada juga yang ingin mengenalku lebih dalam.”

Madam Lulu melanjutkan, “Dia akan memperhatikan bentuk tubuhmu, warna kulitmu, cara kamu bernapas, cara kamu melompat, bahkan bagian-bagian kecil dari dirimu.”

Koko semakin berbunga-bunga.

“Luar biasa. Dia pasti benar-benar mencintaiku.”

“Bukan hanya itu,” kata Madam Lulu. “Dia ingin kamu terbuka padanya.”

Koko menutup mulutnya malu-malu.

“Aduh, romantis sekali.”

“Dan,” lanjut Madam Lulu, “dia juga ingin kamu memberikan hatimu padanya.”

Koko langsung hampir melompat dari kursi.

“Ini ramalan terbaik sepanjang hidupku! Aku akan bertemu gadis cantik, dia tertarik padaku, ingin mengenalku, ingin aku terbuka, bahkan ingin hatiku!”

Koko berdiri dengan wajah penuh bahagia.

“Tapi… tadi Madam bilang ada kabar buruk. Apa kabar buruknya?”

Madam Lulu terdiam sebentar.

Wajahnya berubah iba.

“Kabar buruknya…”

Koko menahan napas.

“Kamu akan bertemu dengannya di kelas biologi.”

Senyum Koko langsung membeku.

“Kelas… biologi?”

Madam Lulu mengangguk pelan.

“Ya. Di atas meja praktikum.”

Koko mulai pucat.

“Meja… praktikum?”

“Iya,” jawab Madam Lulu. “Dan ketika dia bilang ingin kamu terbuka…”

Koko mundur perlahan.

“Maksudnya bukan terbuka secara perasaan?”

Madam Lulu menghela napas.

“Bukan.”

Koko semakin gemetar.

“Dan ketika dia ingin aku memberikan hati…”

Madam Lulu menatapnya serius.

“Itu juga bukan kiasan.”

Beberapa detik suasana menjadi hening.

Lalu terdengarlah teriakan keras dari dalam gubuk.

“KROOOOOOK!”

Koko melompat keluar secepat kilat.

Hop! Hop! Hop! Hop! Hop!

Ia berlari melewati semak-semak, meloncati batu, menabrak daun kering, bahkan kali ini ia menyalip siput yang tadi masih berada di tempat yang hampir sama.

“Lho, sudah pulang?” tanya siput.

“Aku batal jatuh cinta!” teriak Koko. “Terlalu berbahaya!”

Sejak hari itu, Koko tidak pernah lagi bertanya kepada peramal soal jodoh.

Ia juga mulai menjauhi sekolah, laboratorium, jas putih, buku pelajaran, dan siapa pun yang membawa tas bertuliskan Biologi Dasar.

Kalau ada yang bertanya kenapa ia masih sendiri, Koko hanya tersenyum bijak lalu berkata,

“Dalam urusan cinta, yang penting bukan hanya menemukan orang yang ingin mengenalmu lebih dalam…”

Ia berhenti sebentar, lalu menatap jauh ke arah kolam.

“Tapi pastikan dulu dia bukan murid biologi yang membawa pisau praktikum.”

Leave a Comment