Beben baru saja membeli seekor ikan emas.
Bukan ikan emas biasa, menurut Beben. Ikan itu berwarna kuning berkilau, ekornya lebar seperti kipas kecil, dan gerakannya di dalam akuarium terlihat anggun sekali.
Akuarium itu ia letakkan di ruang tamu, tepat di atas meja kecil dekat sofa. Setiap tamu yang datang pasti langsung diajak melihat ikan tersebut.
“Ini bukan sembarang ikan,” kata Beben dengan wajah bangga. “Ini ikan emas cerdas.”
Ibunya hanya geleng-geleng kepala.
“Ben, itu ikan baru datang kemarin.”
“Tapi aku bisa merasakan kecerdasannya, Bu,” jawab Beben serius.
Sejak pagi, Beben sudah berkali-kali berdiri di depan akuarium. Kadang ia mengetuk pelan kacanya, kadang ia melambaikan tangan, kadang pula ia berbicara seolah sedang rapat penting dengan ikan itu.
“Halo, Emon,” katanya pada ikan emas tersebut. “Mulai hari ini, kamu resmi jadi anggota keluarga.”
Ikan itu hanya membuka dan menutup mulutnya.
Beben mengangguk puas.
“Tuh, dia menjawab.”
Siang harinya, teman Beben datang berkunjung. Namanya Dodi. Begitu masuk ruang tamu, Dodi langsung melihat akuarium baru itu.
“Wah, ikan baru?” tanya Dodi.
Beben langsung berdiri dengan gaya bangga seperti pemandu kebun binatang.
“Bukan cuma ikan baru. Ini ikan pintar.”
Dodi mengernyit.
“Pintar bagaimana?”
Beben mendekat ke akuarium sambil tersenyum percaya diri.
“Dia bisa mengenali orang yang memberi makan. Kalau aku datang, dia pasti mendekat. Soalnya dia tahu aku tuannya.”
Dodi melipat tangan di dada.
“Serius?”
“Sangat serius,” jawab Beben. “Perhatikan baik-baik.”
Beben lalu berdiri tepat di depan akuarium. Ia merapikan rambut, membusungkan dada, lalu mendekatkan wajahnya ke kaca.
“Halo, Emon. Ini aku, Beben. Orang yang memberimu makan.”
Ikan emas itu diam sebentar.
Beben tersenyum penuh kemenangan.
“Tuh, dia lihat aku.”
Namun, beberapa detik kemudian, sesuatu yang tidak terduga terjadi.
Begitu Beben semakin mendekat, ikan emas itu langsung berenang cepat ke sudut akuarium. Tubuh kecilnya bersembunyi di balik tanaman plastik, seolah baru saja melihat monster laut.
Beben terdiam.
Dodi juga terdiam.
Suasana ruang tamu menjadi hening.
Beben berusaha tetap tenang.
“Mungkin dia sedang malu,” katanya pelan.
Dodi menahan tawa.
Beben mencoba lagi. Ia mengambil sedikit makanan ikan, lalu menggoyang-goyangkannya di depan akuarium.
“Emon, sini. Ini makanan kesukaanmu.”
Ikan emas itu keluar sedikit dari balik tanaman plastik.
Beben tersenyum.
“Nah, lihat. Dia mulai mengenali—”
Belum selesai Beben bicara, ikan itu langsung menyambar makanan, lalu kembali kabur ke sudut akuarium.
Cepat sekali.
Seperti pencuri yang berhasil mengambil harta karun.
Dodi akhirnya tidak kuat lagi. Ia tertawa terbahak-bahak sampai memegang perut.
“Hahaha! Ben, itu bukan mengenalimu!”
Beben cemberut.
“Dia cuma kaget.”
“Kaget apa? Dia jelas-jelas tahu kamu bawa makanan, lalu setelah makan langsung kabur.”
Beben menatap ikan itu dengan curiga.
Di balik tanaman plastik, ikan emas tersebut tampak tenang, seolah tidak merasa bersalah sedikit pun.
Dodi menunjuk akuarium sambil masih tertawa.
“Menurutku ikanmu memang pintar.”
Beben langsung kembali bersemangat.
“Tuh, kan! Aku bilang juga apa!”
“Tapi pintarnya bukan karena mengenali tuannya,” lanjut Dodi. “Dia pintar menjebakmu.”
Wajah Beben berubah.
“Menjebak?”
“Iya. Dia pura-pura takut, supaya kamu merasa kasihan. Lalu begitu makanan datang, dia ambil cepat-cepat dan kabur. Itu bukan ikan biasa, Ben. Itu ahli strategi.”
Beben memandangi ikan emas itu lebih serius.
Ikan itu berenang pelan, berputar sekali, lalu membuka mulutnya seperti sedang tersenyum mengejek.
Beben menyipitkan mata.
“Jangan-jangan selama ini aku yang dilatih sama dia…”
Dodi tertawa lagi.
“Nah, itu baru benar. Kamu kira kamu yang memelihara ikan. Padahal ikan itu yang memelihara harapanmu.”
Sejak hari itu, Beben tidak lagi berkata bahwa ikannya hanya cerdas.
Ia mulai menyebut Emon sebagai ikan licik.
Setiap kali Beben mendekat, Emon berenang menjauh. Tapi begitu makanan ditaburkan, ia langsung muncul paling depan.
Cepat.
Tepat.
Tanpa rasa bersalah.
Beben akhirnya harus mengakui satu hal.
Ikan emas kecil di ruang tamunya itu mungkin tidak bisa bicara, tidak bisa menulis, dan tidak bisa berhitung.
Tapi dalam urusan mendapatkan makanan sambil membuat pemiliknya kebingungan…
Emon jauh lebih pintar daripada yang Beben bayangkan.




Leave a Comment