Orang Berkaki Empat

Junaedi

11/06/2026

3
Min Read
Orang Berkaki Empat

On This Post

Siang itu, Budi dan Ani sedang duduk di teras rumah sambil menikmati angin sore.

Budi terlihat gelisah sejak tadi. Bukan karena ada masalah, tapi karena ia baru saja menemukan tebak-tebakan yang menurutnya sangat lucu.

Ani yang sedang makan kerupuk memperhatikan wajah Budi.

“Kenapa muka kamu senyum-senyum sendiri, Bud? Kesambet diskon warung?”

Budi tertawa kecil.

“Bukan, Ni. Aku punya tebak-tebakan.”

Ani langsung menyipitkan mata.

“Kalau tebak-tebakan kamu aneh lagi, aku pulang.”

“Tenang. Yang ini gampang.”

Ani meletakkan kerupuknya.

“Oke. Coba.”

Budi duduk lebih tegak, lalu memasang wajah serius seperti pembawa acara kuis.

“Ani, coba tebak. Orang apa yang punya kaki empat?”

Ani langsung menjawab cepat.

“Orang lumpuh, Bud.”

Budi terdiam.

Keningnya berkerut.

“Lho, kok orang lumpuh?”

Ani menjawab santai.

“Ya kan pakai kursi roda. Rodanya dua, kakinya dua. Jadi empat.”

Budi menggeleng kuat.

“Salah kamu!”

Ani mengangkat bahu.

“Ya sudah. Orang aneh?”

“Salah lagi!”

“Orang pakai egrang?”

“Bukan!”

“Orang yang duduk di kursi terus kursinya ikut dihitung?”

“Bukan juga, Ni!”

Ani mulai kesal.

“Lah, dari tadi salah terus. Emang orang apa yang punya kaki empat?”

Budi tersenyum lebar. Ia merasa inilah saatnya mengeluarkan jawaban terbaik.

Dengan penuh percaya diri, Budi berkata,

“Orang bilang sih… kuda!”

Ani terdiam.

Sangat terdiam.

Kerupuk di tangannya bahkan berhenti di udara.

Ia menatap Budi lama sekali, seperti sedang mencoba memahami apakah Budi sedang bercanda, lapar, atau baru jatuh dari pohon mangga.

“Bud…”

“Iya?”

“Kamu tahu nggak?”

“Apa?”

“Itu bukan tebak-tebakan.”

Budi bingung.

“Lho, lucu kan?”

Ani menggeleng pelan.

“Itu mah kamu cuma memindahkan kata ‘orang bilang’ ke depan.”

Budi masih tersenyum bangga.

“Tapi jawabannya benar kan? Orang bilang kuda punya kaki empat.”

Ani langsung menepuk jidat.

“Ya ampun, Budi! Kalau gitu semua juga bisa jadi tebak-tebakan!”

Budi penasaran.

“Maksudnya?”

Ani duduk tegak lalu menirukan gaya Budi.

“Coba tebak. Orang apa yang bisa terbang?”

Budi berpikir keras.

“Orang sakti?”

Ani menggeleng.

“Salah.”

“Orang pakai parasut?”

“Salah.”

“Orang apa?”

Ani menjawab datar,

“Orang bilang sih burung.”

Budi terdiam.

Ani lanjut lagi.

“Coba tebak. Orang apa yang hidup di air?”

Budi mulai merasa tidak enak.

“Ikan?”

Ani tersenyum sinis.

“Bukan. Orang bilang sih ikan.”

Budi menggaruk kepala.

“Lho, kok kamu pakai caraku?”

Ani menunjuk wajah Budi.

“Biar kamu sadar, Bud. Tebak-tebakanmu itu bukan lucu, tapi bikin otak jalan kaki ke pasar.”

Budi tertawa kecil.

“Ya sudah, berarti lucu dong kalau bikin mikir.”

Ani melotot.

“Itu bukan mikir. Itu tersesat!”

Budi masih belum menyerah.

“Tapi kamu tadi ketawa sedikit.”

“Aku bukan ketawa karena lucu.”

“Terus karena apa?”

“Karena kasihan sama pertanyaannya.”

Budi menunduk sebentar, lalu mencoba membela diri.

“Setidaknya kreatif, Ni.”

Ani mengambil kerupuk lagi.

“Kreatif dari mana? Itu tebak-tebakan kalau masuk lomba, juri langsung pulang.”

Budi tersenyum malu.

“Tapi jawabannya tetap kuda.”

Ani menghela napas panjang.

“Bud, mulai sekarang kalau kamu mau bikin tebak-tebakan, pastikan jawabannya tidak membuat orang ingin pindah planet.”

Budi mengangguk pelan.

“Baiklah.”

Ani merasa lega.

Namun belum sempat ia menggigit kerupuk, Budi kembali berkata,

“Ni, satu lagi.”

Ani langsung menatap tajam.

“Jangan.”

“Yang ini benar-benar bagus.”

“Jangan, Bud.”

“Coba tebak. Orang apa yang warnanya putih, punya sayap, dan suka bertelur?”

Ani menutup mata.

“Bud…”

“Apa?”

“Kalau jawabannya ‘orang bilang sih ayam’, aku lempar kamu pakai kerupuk.”

Budi langsung menutup mulut.

Ani menggeleng sambil berdiri.

“Yeeeeeeeeee, dasar piring karedok!”

Budi bingung.

“Lho, kenapa piring karedok?”

Ani berjalan pergi sambil menjawab,

“Soalnya sama kayak tebak-tebakanmu. Campur aduk, bikin bingung, tapi kamu tetap bangga!”

Budi hanya bisa duduk di teras sambil berpikir.

Dalam hati ia berkata,

“Berarti besok aku harus cari tebak-tebakan yang lebih ilmiah.”

Tapi belum sampai lima detik, ia sudah tersenyum lagi.

“Coba tebak… orang apa yang suka mengeong?”

Dari jauh, Ani langsung berteriak,

“BUDIIII!”